Oh Jadi ini Biang Keroknya
Kemarin, kelas saya dipindah sementara karena ada perbaikan lantai. Kelas saya dipindah pas di depan koperasi depan. Ketika istirahat, saya iseng masuk ke dalam koperasi. Di sana saya melihat aneka macam jualan orang-orang termasuk salah satunya adalah jeli. Melihat itu saya jadi berpikir "oh rupanya ini yang jadi biang keroknya."
Sebelumnya, tidak ada yang jualan jeli selain saya di sekolah. Jualan ibu saya selalu laku setiap harinya. Bawa jeli 50 selalu laku tidak pernah tidak laku. Namun, saya menaruh jeli saya di koperasi belakang, bukan di koperasi depan. Sehingga saya tidak tahu jika memiliki saingan dagang.
Dua Minggu sejak berjualan jeli, saya menemukan ada yang mengikuti saya jualan jeli juga di koperasi belakang. Bedanya punya saya ditaruh di dalam cup, sedangkan jeli dia diletakkan di semacam wadah lalu diberi stik ice cream. Penjaga koperasinya bilang ke saya "orang ini mesti kalau jualan suka niru-niru mas. Wong ada yang jualan jeli masih saja jualan dagangan yang sama. Dulu sudah pernah saya bilangi orang ini. Tapi memang hobinya orang ini suka niru-niru mas. Alasannya datang kemari sambil tanya-tanya dagangan lain. Lalu ditiru atau diikuti oleh dia." Waktu itu saya hanya berpikir "tidak apa-apa, rezeki sudah ada yang ngatur." Saya juga lihat dia hanya menaruh satu wadah jeli. Satu wadah berisi enam jeli. Artinya waktu itu saya tidak merasa terganggu lah dengan hal itu.
Hari demi hari, saya selalu melihat orang lain berjualan jeli yang sama dengan saya. Dari yang awalnya satu wadah menjadi dua wadah. Saat itu saya belum tahu kalau di koperasi depan ada yang jual jeli juga. Jadi orang ini ceritanya menaruh jelinya di koperasi depan dan belakang. Kalau saya kan di koperasi belakang saja. Sampai pada akhirnya saya tahu kemarin, bahwa di koperasi depan itu rupanya wadah jelinya banyak sekali. Saya menghitung ada enam wadah. Tinggal kalikan saja enam kali enam. Itu di koperasi depan, belum di koperasi belakang. Tadi saya lihat di koperasi belakang ada empat wadah, di depan ada empat wadah juga. Itu juga yang kemudian membuat dagangan jeli ibu saya kurang laku. Belum lagi dagangan ibu saya saingan dengan dagangan yang lain. Biasanya saya jual 50 jeli itu laku terus tiap hari. Istirahat pertama sudah habis. Lah ini sekarang hanya laku beberapa. Sampai pernah kapan lalu, saya bawa 25 jeli, yang terjual hanya satu jeli.
Prinsip saya dan ibu saya adalah rezeki sudah ada yang ngatur. Tidak apa-apa sudah orang lain jualan jeli, tapi juga tahu batas. Kalau sudah ada yang jualan jeli di koperasi belakang, tolong jualan jeli di koperasi depan saja. Jadi enak nanti sama-sama untung. Kalau ini kan tidak, di koperasi depan dia jualan jeli, di koperasi belakang dia juga jualan jeli. Jadi satu orang menaruh dagangan jelinya di koperasi depan dan belakang. Nah ini maunya apa coba? Ada yang tahu? Kami sekeluarga ridho ada yang mengikuti kami jualan jeli kami ridho, tidak apa-apa karena rezeki sudah ada yang atur. Tapi yang tahu diri sedikit lah gitu. Sudah ikut-ikutan jualan jeli, masih rakus juga. Tapi mohon maaf, dampaknya sangat dirasakan oleh kami. Jujur, dua Minggu terkahir ini, kami tidak lagi berjualan jeli. Kami jualan coklat dulu. Karena jeli-jeli kami selalu laku sedikit tiap harinya. Nah, sekarang kami ganti jualan coklat, dan memang sengaja coklat tersebut dikemas agar tidak dapat dicontoh oleh pedagang nakal yang lain. Alhamdulillah laku banyak setiap harinya.
Saya rasa, semua itu kembali pada kebijakan koperasinya. Kalau di tempat saya ngajar sebelumnya, kalau sudah ada yang jualan jeli, pedagang lain dilarang menyamai. Jadi disuruh jualan yang lain selain jeli. Tapi kalau di tempat saya ngajar sekarang, beda kebijakannya ya sudah. Saya nggak bisa berbuat apa-apa. Semuanya sama-sama ingin cari rezeki kan gitu. Dan yang kedua juga kembali pada karakter orangnya. Penjaga koperasinya juga pernah bilang kalau penjual satu ini memang suka ikut-ikutan dagangan orang lain dari dulu.