Postingan

Menampilkan postingan dengan label Puisi

Kembalilah Duhai Dayita

Gambar
Kembalilah Duhai Dayita (Galuh Riyan Fareza) Di keheningan malam daku mendongak nabastala Tampak mangata hadir membawa nostalgia Sungguh pemandangan yang anindita Namun tak anindya tanpa hadirmu duhai dayita Daku tanyakan pada ancala Daku titipkan pesan pada anila Tentang dimana dikau berada Nestapa tak kunjung bertemu jua Daku dewana pada dikau duhai dayita Setiap detik menit dan jam daku menahan retislaya Sungguh dikau telah menjadi lokawigna yang nyata Nestapa tak kunjung bertemu jua Duhai dayita dimana kah dikau berada Daku tak mampu membendung air mata Kan kusebut selalu asmamu dalam doa Semoga kita dipertemukan dalam satu nirwana        Puisi ini merupakan puisi yang saya ikutsertakan dalam lomba menulis puisi tingkat nasional bulan September lalu. Saya sih tidak mendapat juara. Tetapi saya mendapat penghargaan sebagai 200 penulis puisi terbaik. Saat itu saya berada di urutan 54 dari 2.241 peserta.         Mungkin tidak ada yang percaya...

Masih Menanti

Masih Menanti (Galuh Riyan Fareza) Mendung mega redup mentari Sarayu menyapa adiwarnanya pagi Gita burung menambah renjananya hati Dan daku disini masih menanti Akaramu gata tak kembali Mala sekali sanubari ini Rinai turun membasahi  Anila datang menyudahi  Indurasmi datang menerangi Nabastala penuh dengan abhati Duhai handai tolan kemanakah dikau pergi Daku clandestine masih menanti Puisi ini penulis tulis hanya sekedar iseng-iseng saja. Terinspirasi dari seorang guru yang lihai sekali dalam menyusun sajak yang indah. Nah, jadi saya coba lah iseng-iseng buat puisi begitu. 

Merintih di dalam Tulisan

Merintih di dalam Tulisan oleh Galuh Riyan Puisi ini ditulis barusan Tak memakai majas layaknya Sastrawan Puisi ditulis sebab insiden jam dua-an Judulnya merintih di dalam tulisan Apa yang sebenarnya telah engkau lakukan? Bahasa kotor terus engkau ucapkan Sedih mendengarnya kawan Diri ini terus menjadi cacian Diri ini selalu engkau salahkan Hanya gara-gara sebuah pekerjaan Difitnah sangat memalukan Sikap sombong darimu kawan Diri ini sudah tidak tahan Sebab perkataanmu yang tidak sopan Diri ini sudah tidak tahan Air mata bercucuran di tengah jalan Tapi apa daya, diri tidak ingin melawan Melawan hanya akan membuat permusuhan Permusuhan berkepanjangan Tak terselasaikan, miris kan? Diam dan sabar yang bisa diri lakukan Semua pasti dinilai oleh Tuhan Diri menulis bukan tanpa alasan Agar engkau bisa sedikit mengerti kawan 28 Mei 2018