Postingan

Mimpi Bertemu Gusdur Part III

       Saya bermimpi bertemu beliau sudah tiga kali. Ketiga kalinya pada tanggal 30 Desember 2025. Saat itu saya tengah tidur siang dan bermimpi bertemu Gusdur. Yang saya sayangkan adalah saya tidak ingat perkataan beliau dengan jelas ketika bangun dari tidur. Terus terang, di sini saya bingung mau nulis apa.         Di dalam mimpi, ada banyak orang duduk lesehan tepi jalan di depan pagar beton rumah orang. Kami duduk di bawah pohon kecil yang cukup rindang. Kira-kira tinggi pohon itu satu meter setengah. Nah, alas duduk kami hanya tanah. Tapi di sisi-sisinya itu jelas cor-coran. Hanya tengahnya saja yang tanah. Kemudian itu tadi, ada pohon-pohon kecil tumbuh di area tanah tersebut. Kami ngobrol di sana. Ada saya, beberapa orang yang tidak saya kenal, dan juga Gusdur. Ada orang tanya ke Gusdur, oleh beliau dijawab. Ada lagi yang tanya, oleh beliau dijawab, begitu seterusnya. Hanya saja saya tidak ingat sudah. Di dalam mimpi saya ingat, setela...

Sebuah Perbedaan: Banyak Siswi Sekolah Dasar yang Mengenakan Jilbab

Gambar
       Saya ngajar di sekolah dasar itu mulai tahun 2021. Ada satu pemandangan yang mencolok sehingga menyita perhatian saya. Yakni siswi tahun itu banyak yang sudah mengenakan jilbab. Kelas 1 SD loh sudah banyak yang mengenakan jilbab. Tahun 2025 sekarang, saya juga mengajar di sekolah dasar yang berbeda. Saya amati banyak siswi saya yang mengenakan jilbab. Padahal itu di sekolah umum loh, bukan di madrasah. Kalau dipresentase, siswi yang mengenakan jilbab hampir 85%. Tahun 2024 lalu, saya juga pernah PPL di SD umum yang terletak di Mangli. Saya amati banyak juga rupanya siswi yang mengenakan jilbab. Saya rasa di mana-mana sekarang, saya dengan mudah menemukan siswi SD mengenakan jilbab. Hal itu berbeda loh dengan zaman saya SD 20 tahun silam.         Saat saya SD, tak seorang pun teman perempuan saya yang mengenakan jilbab. Saya juga tidak pernah melihat adik maupun kakak kelas yang perempuan mengenakan jilbab. Di SD lain pun juga sama. Say...

Apa Tujuan Bawa Anak Kecil ke Sekolah?

       Sampai saat ini, saya masih belum mengerti tujuan guru bawa anak kecil ke sekolah itu untuk apa ya. Sampai di sekolah, anaknya diajak keliling area sekolah. Hal itu mengundang banyak perhatian siswa-siswi yang lain. Didekati lah kemudian anak kecil tersebut. Diusap, dielus, dipegang pipinya, dst. Saya hanya mau bilang mohon maaf ya itu sekolah, bukan alun-alun.       Kapan lalu, saya melihat story WA teman saya yang memperlihatkan seorang anak kecil yang menemaninya di dalam kelas. Captionnya "bocil juga ikut belajar." Saya bingung jujur ini. Ngapain ke kelas bawa anak kecil? Itu anak kandungnya juga bukan. Saya nggak tahu itu siapanya. Yang saya tahu, anak itu bukan anak kandungnya. Mohon maaf ya, saya kurang sependapat dengan guru yang hobi membawa anak kecil di sekolah, apalagi dibawa masuk ke dalam kelas. Begitu guru tersebut menjelaskan materi di kelas, saya yakin 80% siswa tidak fokus padanya, melainkan fokus pada si anak kecil terseb...

Kalau Mau Bantu Orang, Pasti akan Dibantu juga oleh Allah

       Tadi, kami selesai pulang dari rekreasi. Begitu sampai sekolah, kami tidak pulang dulu. Hal itu dikarenakan kami harus memastikan bahwa semua siswa sudah dijemput oleh orang tuanya. Nah begitu hendak pulang, ada rekan guru yang ingin numpang dengan saya. Oke akhirnya saya beri beliau tumpangan.       Begitu masuk ke dalam perumahan, hujan deras turun. Saya menambah kecepatan saat itu. Alasannya supaya tidak terlalu basah kuyup begitu. Singkat cerita, kami sampai. Rekan saya menawari untuk singgah sebentar di rumahnya karena di luar hujan masih deras. Namun saya menolaknya dengan alasan sudah malam. Saya tidak mau mengganggu waktu istirahat beliau dan keluarga. Toh jarak rumah saya dari perumahan Cendrawasih juga dekat, sekitar 250 meter lah.         Ketika pulang itu saya menemukan masalah. Saya lupa arah pulang. Harusnya saya jalan lurus, tetapi saya belok kanan. Nggak tahu ya tiba-tiba saya merasa jalan itu salah....

Hari Guru 2025: Momen yang sangat Sulit untuk Dilupakan

Gambar
           Saya rasa, hari guru kemarin, menjadi momen yang sulit dilupakan bagi saya. Sebab saat ini saya mengajar di tempat yang berbeda. Selain itu, saya juga menjabat sebagai guru kelas. Berbeda dengan sebelumnya, di mana saya menjabat sebagai guru mata pelajaran.         Menjadi guru kelas, umumnya mendapat perlakuan yang berbeda di hari guru. Di mana banyak sekali kejutan, prank, hadiah yang diberikan oleh siswa-siswi kepada guru kelas tercintanya. Berbeda dengan guru mapel, yang tak mendapat sambutan semeriah guru kelas. Tapi bukan itu sih poinnya.         Hari guru adalah hari yang dinanti-nanti oleh seluruh siswa. Di kelas saya misalnya, mereka telah merencanakan surprise jauh-jauh hari. Menurut saya itu terlalu berlebihan begitu. Untuk saya, cukup berikan ucapan selamat saja. Tetapi kemarin itu berbeda. Saya justru mendapat sambutan yang luar biasa meriah. Dan saya berterima kasih untuk itu.  ...

UTS dan UAS di Kampus lebih baik Ditiadakan

      Selama saya menempuh pendidikan S1, saya belum pernah menemukan ada dosen membagikan hasil ulangan mahasiswanya. Saya juga tidak tahu kira-kira kenapa ya? Tahu-tahu kita dapat A aja gitu. Jangan bagi deh, ngasih tau nilai ulangan kami saja nggak pernah. Itu kayak kita datang periksa ke dokter, tapi dokter nggak ngasih tau kita mengidap penyakit apa.         Ulangan itu perlu dibagikan sebagai bahan refleksi bagi mahasiswa. Kalau nggak dibagikan, mahasiswa tahu dari mana kalau jawaban ulangan mereka benar semua? Ya nggak tahu ya, yang pasti setelah ulangan diserahkan ke dosen ya sudah selesai. Koreksi bersama atau apa nggak ada itu selama saya jadi mahasiswa. Dosen di kelas menerangkan soal pentingnya refleksi dan evaluasi. Lah sama dirinya sendiri tidak dipraktekkan.        Masih menjadi misteri kenapa ya ulangan di kampus itu nggak pernah dibagikan ke mahasiswanya. Yang terjadi di sini akhirnya prasangka. Apa oleh beliau...

Lanjutan Program Sabtuan: Berkunjung ke Rumah Aqila

       Kemarin saya pergi ke rumah murid saya bernama Aqila. Rumah dia terletak tidak jauh dari rumah sakit Dr. Soebandi. Sampai di rumah dia, saya disambut oleh kakek dan nenek Aqila. Tidak lupa saya juga disambut oleh Mareta, murid saya yang kebetulan rumahnya dekat dengan Aqila. Saya menyambut balik dengan ramah dan suka cita. Alhamdulillah kemarin cuacanya mendukung sehingga program Sabtuan ini dapat berjalan.         Tidak lama kemudian, masuk seorang laki-laki. Ternyata ia adalah ayahnya Aqila. Saya dan ayahnya Aqila ngobrol panjang lebar. Sehingga saya hanya memiliki waktu sekitar 40 menit untuk belajar bersama Aqila dan Mareta. Kami belajar bersama di ruang tamu, dan di sana ayah Aqila juga ikut duduk.  Dari awal sampai akhir, beliau itu selalu bercerita. Alhasil fokus saya terbagi di sini. Satu mendengar cerita beliau, satu saya juga harus memberikan pelajaran pada Aqila dan Mareta. Tapi saya tidak masalah sebenarnya. Karena mem...