Postingan

Drama Dinas Pendidikan: Ngundur Acara Seenak Udelnya

Gambar
       14 September 2026 adalah waktu di mana kami akan melaksanakan MONEV BOSP di Dinas Pendidikan Kabupaten Jember. Sebelum hari H, saya sudah menyiapkannya dengan sungguh-sungguh. Saya tahu bahwa berkas BOS saya kurang lengkap, tetapi saya yakin saja jika berkas saya ini kekurangannya sedikit. Begitu hari H, kami masih sibuk menyusun berkas-berkas kami di ruang guru. Bahkan, kami (saya dan bendahara sekolah) tidak mengikuti upacara bendera. Sekitar pukul sembilan lewat sekian, kepala sekolah mengabari kami bahwa MONEV BOS diundur Minggu depan. Saya lihat di grup OPK Kecamatan Patrang informasinya juga demikian. Mendengar itu, respon saya dua, pertama saya senang, kedua saya bingung.         Pertama, saya senang karena saya akhirnya diberi tenggat waktu lagi untuk mempersiapkan dengan matang. Kedua saya bingung, kenapa ngundurnya pas hari H? Acara MONEV BOSP Kabupaten itu diselenggarakan jam 10:00 menurut jadwal. Namun jam 09 lebih sekian m...

Kehadiran yang Diharapkan: Mendengar Suara itu Empat kali

       Hari Kamis kemarin, sekolah kami ada kegiatan menonton bareng film Children of Heaven di Lippo Plaza. Agenda itu rupanya bersamaan dengan agenda nonton SDN Jember Lor 2. Sebuah sekolah yang namanya selalu melekat di hati saya. Saya nggak tahu kok bisa samaan. Padahal tidak ada janjian sebelumnya. Alhasil, ketika saya berdiri di titik pengantaran siswa, siswa-siswi SDN Jember Lor 2 berbondong-bondong menyalami saya. Ketika hendak masuk ke dalam ruangan pun, mereka teriak-teriak memanggil nama saya. Itu adalah kali keempat saya mendengar suara mereka.         Kali pertama saya mendengar suara mereka adalah ketika silaturahmi ke SDN Jember Lor 2. Saya masih ingat itu terjadi pada pertengahan Juni 2024. Kebetulan saat itu saya libur kuliah PPG. Saya sengaja sembunyi di lab komputer. Tujuannya supaya tidak ketahuan oleh mereka. Eh pada akhirnya ketahuan juga. Saya curiga anak dari kawan saya yang membocorkan itu. Akhirnya, banyak siswa masu...

Teman Saya Hilang Satu per Satu

       Novita, adalah teman saya dari MTs, MA, dan kuliah. Hanya saja, kami kenal tetapi tidak akrab. Ya hanya kenal saja begitu. Bahkan ngobrol pun hampir tidak pernah. Saya juga tidak ingat kapan terakhir kali ngobrol dengan dia saat masa sekolah dan kuliah. Setelah sekian lama, saya bertemu dengannya kembali di SDN Patrang 1. Di sini kami menjadi rekan sesama guru. Kami juga banyak ngobrol dan saling bertukar pikiran di sini. Sebelum pada akhirnya, seminggu kemudian dia menyatakan resign dari sekolah. Dia mengundurkan diri karena suaminya diterima sebagai guru sekolah rakyat yang penempatannya di Madura. Terus terang saja, baru seminggu kehilangan teman rasanya lumayan sedih. Karena di mata saya Novita itu orangnya baik dan nyambung ketika diajak bicara. Namun di sini sebagai teman, saya doakan yang terbaik untuk dia dan suaminya di sana.        Naufal, seorang penjaga sekolah. Dia dua tahun lebih tua dari saya. Baru mengenalnya dua hari, saya ...

Sama saja Rupanya

       Beberapa hari lalu, saya ikut menemani ayah saya survei penduduk di Kecamatan Jelbuk. Di tengah perjalanan, tepatnya di depan lampu merah, saya melihat seorang pemuda berboncengan dengan pacarnya berhenti di kiri jalan. Sehingga hal itu membuat pengendara lain di belakangnya, tidak bisa bermanuver ke arah kiri. Padahal terdapat tulisan "belok kiri jalan terus." Oleh karena adanya pemuda tersebut, pengendara di belakangnya mengklaksonnya. Pengendara di belakangnya tampak ingin belok ke arah kiri. Mendengar klakson dari pengendara lain, pemuda tersebut bukannya menepi memberi ruang bagi pengendara di belakangnya, tetapi langsung lurus tancap gas di saat lampu masih menyala merah.         Melihat pengendara motor tersebut berhenti di pinggir jalan saya hanya berkata dalam hati "orang ini hanya tahu mengendarai motor tetapi tidak tahu peraturan lalu lintas." Seperti pembatas jalan dan rambu-rambu lalu lintas tidak tahu dia itu. Dilihat dar...

Ada apa dengan Dengkul Pacarmu?

       Di sini kita sambil santai saja ya bacanya. Tulisan ini juga nggak terlalu berat untuk dikonsumsi. Berangkat dari rasa ingin tahu, tulisan ini akhirnya ditulis. Jujur, fenomena pegang lutut pacar di lampu merah sudah lama mengganggu pikiran saya. Namun, baru bisa saya tulis sekarang. Ingat, di sini kita santai-santai saja. Nggak serius ya nggak bercanda.         Aneh gak sih kalau kita pegang lutut pacar di jalan raya? Jujur, saya menilai itu aneh. Karena untuk apa begitu? Lutut pacarnya nggak cuma dipegang, tapi juga dielus-elus. Bagi saya yang tidak tahu, saya merasa bingung. Supaya apa ya gitu? Jujur, saya tidak tahu jawabannya. Pembaca kalau tahu dipersilahkan berkomentar.         Tadi sore misalnya, saya pergi isi bensin di SPBU. Sampai di antrean, depan saya pas tampak anak SMA antre sambil berboncengan. Di atas sepeda, si cowo mengelus-elus lutut atau dengkul si cewe. Maksud saya ngapain gitu ya. Pemanda...

"Hmm itu" Katanya

       Tanggal 5 Juni kemarin, diadakan sebuah gladi resik dalam rangka perpisahan siswa kelas 6. Menjelang maghrib, anak-anak diminta untuk istirahat dan sholat. Beberapa saat kemudian, saya perhatikan ada satu anak kesana kemari mencari sesuatu. Setelah saya tanya, rupanya dia kehilangan uang sebesar 10 ribu. Singkat cerita, uang dia yang hilang saya ganti dengan nominal yang sama.         Setelah saya ganti, dia bilang "besok saya ganti ya pak." Saya jawab "besok saya izin nggak ke sekolah. Sudah ambil kamu aja nggak usah diganti." Singkat cerita, dia lalu pergi beli-beli bersama temannya. Tidak lama kemudian, dia kembali ke sekolah. Di depan ruang guru, dia bertemu guru kelasnya. Lalu dia berkata "Bu uangku yang hilang tadi sudah diganti sama pak Galuh." Guru kelasnya hanya bilang "hmm itu."         Terus terang, di sini saya terganggu dengan ucapan "hmm itu." Setelah mengucapkan itu, tidak ada aksi susulan sepert...

Nasehat Pertama dari Guru Senior kepada Anak-Anak Kelas 6

       Ialah Bu Elly, guru senior di sekolah kami. Beliau mengajar sudah puluhan tahun. Saya pribadi tidak tahu beliau mengajar mulai tahun berapa. Namun, ibu saya punya teman yang mana teman tersebut pernah diajar oleh Bu Elly. Dari sini, saya berspekulasi bahwa Bu Elly mulai mengajar sejak tahun 80-an.         Kemarin ada momen kelulusan kelas 6. Setelah semua dinyatakan lulus, mereka semua diminta untuk bersalaman kepada semua guru yang ada di halaman sekolah. Saya yang saat itu berada di samping Bu Elly mendengar sendiri nasehat yang beliau ucapkan kepada mereka. Setiap anak yang bersalaman dengan beliau, beliau menasehati "nanti kalau SMP nggak usah pacar-pacaran."         Nasehat itu keluar bukan tanpa alasan mengingat anak-anak sudah mulai masuk masa pubertas. Di mana pada masa itu salah satunya mulai ditandai dengan rasa ketertarikan terhadap lawan jenis. Nah, cara yang lazim dilakukan oleh anak-anak SMP untuk...