Postingan

Menampilkan postingan dari Oktober, 2025

Kalau mau Ngasih, Kasih aja

       Kalau mau ngasih-ngasih, langsung kasih aja nggak usah ditawari dulu. "Kamu mau gak tak kasih sepatu?" nggak usah. Langsung saja bilang "ini aku ada hadiah sepatu buat kamu, semoga kamu suka ya." Bikin bingung yang mau jawab saja kalau ditawari dulu. Kesannya si penjawab itu yang butuh dan mau dikasih-kasih.       Tidak lama ini, baru saja saya membantu teman melaksanakan UKPPG. Di sini, dia praktik ngajar di kelas, dan saya jadi kameramennya begitu. Setelah selesai, teman saya menawari "Luh nanti murid-murid kamu aku kasih ini dan itu ya?" Saya diam sejenak, lalu menjawab "nggak usah sudah Bu." Yang mau dikasih-kasih murid saya, dia izin kepada saya. Maksud saya, langsung saja murid-murid saya dikasih gitu. "Ini rek pemberian dari saya." beres. Anak-anak pasti senang menerimanya.       Tapi kembali pada masing-masing individu ya. Setiap orang punya persepsi yang berbeda mengenai masalah ini. Tapi kalau saya pribadi, juj...

Mengganti Permainan Tepuk-Tepuk di Sekolah

       Awal saya mengajar di SDN Patrang 1, kerap saya jumpai murid-murid sana main tepuk-tepuk wayang. Tumpukan wayang diletakkan di atas lantai, lalu lantai tersebut ditepuk dengan keras hingga tumpukan wayang tersebut terbalik. Nah, kalau sudah terbalik, artinya dia menang seperti itu. Pemandangan tepuk-tepuk seperti itu saya jumpai setiap hari. Kadang saya mikir, "apa gak sakit anak-anak ini tangannya? Seperti nggak ada permainan lain saja."         Hari demi hari, saya merasa kasihan melihat anak didik saya main tepuk-tepuk terus begitu. Jujur, saya pribadi yang melihat permainan tepuk-tepuk itu bosan. Zaman saya SD itu, permainan kami banyak sekali begitu. Lah ini, itu-itu aja permainannya. Bagi saya nggak ada seni berpikirnya main tepuk-tepuk itu. Hanya mengandalkan kekuatan tangan saja. Hal itu lalu membuat saya berinisiatif untuk mengenalkan mereka permainan baru. Permainan baru yang dimaksud di sini adalah catur, kempyeng, dan til s...