Mengganti Permainan Tepuk-Tepuk di Sekolah
Awal saya mengajar di SDN Patrang 1, kerap saya jumpai murid-murid sana main tepuk-tepuk wayang. Tumpukan wayang diletakkan di atas lantai, lalu lantai tersebut ditepuk dengan keras hingga tumpukan wayang tersebut terbalik. Nah, kalau sudah terbalik, artinya dia menang seperti itu. Pemandangan tepuk-tepuk seperti itu saya jumpai setiap hari. Kadang saya mikir, "apa gak sakit anak-anak ini tangannya? Seperti nggak ada permainan lain saja."
Hari demi hari, saya merasa kasihan melihat anak didik saya main tepuk-tepuk terus begitu. Jujur, saya pribadi yang melihat permainan tepuk-tepuk itu bosan. Zaman saya SD itu, permainan kami banyak sekali begitu. Lah ini, itu-itu aja permainannya. Bagi saya nggak ada seni berpikirnya main tepuk-tepuk itu. Hanya mengandalkan kekuatan tangan saja. Hal itu lalu membuat saya berinisiatif untuk mengenalkan mereka permainan baru. Permainan baru yang dimaksud di sini adalah catur, kempyeng, dan til sutilan.
Pertama, saya membawa catur ke sekolah. Saya biarkan anak didik saya bermain catur saat istirahat. Memang saya perhatikan, permainan catur ini mendapat sedikit antusias dari murid saya. Karena yang bisa main catur di kelas saya hanya segelintir anak saja. Sebut saja Tasya, Danial, Gibran, dan Ayus. Ketika mereka bermain, saya di dekatnya sambil memberi arahan. Awalnya mereka bermain catur di dalam kelas. Lalu di lain hari, saya coba mengajak mereka main di luar kelas. Saat itu saya bermain catur bersama Tasya, siswi dari kelas saya. Hal itu lalu mengundang perhatian banyak dari puluhan pasang mata. Ya jadi ceritanya kami dilingkari lautan manusia begitu. Guru-guru dari kejauhan tampak kepo dikira di sini ada apa begitu. Alhamdulillah ada sekitar delapan murid saya sekarang yang bisa main catur. Kelas 6A juga sekarang ikut-ikutan bawa catur di kelas. Ya nggak apa-apa, emang tujuan dari awal saya begitu. Ya nggak ada yang salah dengan permainan catur. Justru positif sekali begitu. Yang berbakat, bisa asah bakatnya, dan diikutkan lomba.
Kedua, saya bawa kempyeng. Kalau pembaca belum tahu, kempyeng itu adalah tutup dari minuman botol kaca. Ya bisa dari minuman sprite, fanta, dst. Ya Allah nyari kempyeng sekarang tidak semudah dulu. Kalau dulu tinggal minta ke tetangga dapat. Lah, sekarang susah. Namun, pada akhirnya saya menemukan kempyeng tersebut. Bu de saya membatu dalam mencarikannya. Singkat cerita, saya bawa kempyeng itu ke sekolah. Saya kenalkan ke anak didik saya saat istirahat. Saya juga turun bermain di situ. Ya hitung-hitung jadi mentor pendamping lah. Ternyata ya, anak didik saya itu tak seorang pun yang tahu bahwa tutup botol kaca itu bisa dimainkan. Alhamdulillah sampai sekarang, jam pelajaran belum dimulai, istirahat pertama dan kedua, sepulang sekolah sebelum masuk les, murid-murid saya selalu main kempyeng. Kalau yang awalnya saya seorang yang membawa kempyeng, sekarang ada 4 anak yang bawa kempyeng di kelas saya. Perlu diketahui untuk bisa main kempyeng, kita perlu lima tutup botol kaca. Satu orang bawa lima tutup botol, itu bisa dimainkan oleh lima sampai enam orang. Dan Alhamdulillah, kelas 5B saya pantau juga ikutan bawa kempyeng dari rumah untuk dimainkan di sekolah. Dan sampai sekarang selama sebulan, saya sudah tidak pernah lagi melihat anak didik saya main tepuk-tepuk di sekolah.
Ketiga, saya membawa permainan til sutilan. Ini masih berupa rencana ya. Tapi saya sudah siap dengan bambunya sekarang. Saya biarkan murid-murid saya akrab dulu dengan permainan kempyeng. Mereka saya perhatikan nggak ada yang bosan ini dengan permainan kempyeng. Datang pagi ke sekolah langsung main kempyeng mereka. Ya sudah tidak apa-apa. Rencananya hari Selasa atau Rabu besok, saya mau bawa permainan til sutilan. Sebuah permainan dari bambu yang kemudian dipotong seperti ukuran tusuk sate. Di sini, diperlukan sebanyak 100 buah potongan. Lalu beberapa potongan tersebut diberi ukiran. Bagian ujung paling atas dan bawah dipahat menyerupai bentuk spatula. Bagian tengah diberi ukiran menyerupai aspal yang berlubang. Setelah itu aspal yang berlubang bisa diwarnai dengan spidol warna. Awalnya saya bingung mau membawa permainan ini, karena saya butuh bambu. Bambu di pinggir sungai dekat rumah saya banyak, tapi ya begitu nanti sisa bambunya diapakan? Lalu saya juga terhalang dengan waktu. Akhirnya saya beli saja tusuk sempol di pasar. Alhamdulillah lima ribu harganya sudah dapat lebih dari seratus buah.
Sebagai pendidik, jujur saya tidak ingin melihat anak didik saya bermain permainan yang monoton. Saya ingin permainan mereka variatif seperti permainan saya dulu ketika SD. Ada yang ke sekolah bawa bekel, kelereng, pentil, catur, monopoli, dst. Saya terus terang tidak pernah melarang anak didik saya memainkan permainan itu di sekolah. Tapi yang perlu diperhatikan di sini kan hanya waktu memainkannya. Kalau jam pelajaran main kempyeng, ya saya tegur. Tapi ini tidak, mereka main itu di luar jam pelajaran semua. Dan saya dengan itu. Karena dengan bermain kempyeng, mereka semua bersosialisasi. Dan permainan catur, kempyeng, dan til sutilan, saya nilai aman. Dari pada main lari-larian, dan ujung-ujungnya jatuh. Terima kasih