Penagih Wi-Fi yang Merepotkan
Hari Minggu malam tepatnya sekitar pukul 21:00 WIB, saya dikejutkan oleh penagih WI-FI yang datang ke rumah saya. Pasalnya kedua orang tua saya pergi keluar rumah. Terus terang saya bingung harus bagaimana. Gimana ya, mau saya bayar saat itu juga, saya juga tidak tahu uang dan kartu tagihan Wi-Finya ditaruh dimana. Sebab dari awal, yang tahu metode pembayarannya tagihan Wi-Fi itu kedua orang tua saya. Akhirnya saya berkata ke penagih Wi-Fi tersebut "mohon maaf mas orang tua saya keluar. Saya juga tidak tahu kartu Wi-Fi diletakkan di mana?" Penagihnya tanya "jam berapa kira-kira pulangnya ya mas?" Saya jawab "kurang tahu ya mas. Kalau keluarnya sih tadi mas ba'da sholat terawih". Masnya bilang "ya sudah mas, saya besok ke sini lagi".
Hari Senin kemarin, penagih Wi-Fi chat saya. "Pembayaran Wi-Fi" katanya. Saya balas " iya mas orangnya ada di rumah sekarang". Selepas pulang dari mengajar, saya tanya ke orang tua saya "ada penagih Wi-Fi kemari?". Beliau jawab "tidak ada ini". Saya bilang "tadi siang masnya sepertinya mau kesini nagih pembayaran Wi-Fi". Ibu saya bilang "mungkin nanti sore atau malam masnya nagih lagi ke sini". Namun setelah ditunggu sore hingga malam, penagih Wi-Finya tak kunjung menagih tagihan Wi-Fi ke rumah kami.
Kemarin, tepatnya sore sekitar pukul 15:45, ada seseorang datang ke rumah saya. Saya yang saat itu tengah tidur, terpaksa bangun. Begitu saya lihat, ternyata yang datang ke rumah saya ialah penagih Wi-Fi. Sontak saya jadi bingung kembali, sebab kedua orang tua saya baru saja keluar dari rumah. Saya pun jadi kesal juga, karena enak-enak tidur kemudian dihadapkan dengan situasi ini. Mana lagi saya belum sempat cuci muka. Seperti setengah sadar saya tadi, plus rambut juga masih acak-acakan. Saya pun juga tidak lagi peduli dengan kotoran mata di sekitar mata saya. Muka saya jadi muka bantal saya juga tidak peduli. Namanya sudah kaget campur bingung, saya bilang ke masnya "sebentar mas saya cari kartu tagihan Wi-Finya dulu". Begitu saya cari, tak kunjung ketemu juga ternyata. Saking bingungnya karena merasa ditunggu, saya bangunkan adik saya yang tengah tertidur juga saat itu. Niatnya mau tanya apakah orang tua kita titip pesan ke kita untuk membayar tagihan Wi-Fi sore ini. Sekaligus siapa tahu adik saya tahu di mana kartu tagihan tersebut ditaruh. Namun ternyata adik saya juga tidak tahu kartu tagihan Wi-Fi plus uang untuk membayar Wi-Fi di mana. Kita berdua juga sempat mencarinya, tetapi kita tidak menemukan kartu tagihan tersebut.
Karena kartu tagihan Wi-Fi beserta uangnya tidak ditemukan, saya bilang ke masnya "maaf mas kartu tagihan Wi-Fi nya tidak ada. Orang tua saya baru keluar mas. Saya tidak enak sendiri sama masnya, sudah balik ke sini dua kali. Bagaimana kalau nanti atau besok malam saja sampean kemari lagi? Kemarin sampean chat saya mas. Saya kira sampean kemarin mau nagih tagihan Wi-Fi. Gak tahunya setelah kami tunggu, masnya gak ke sini." Masnya respon "saya lembur kemarin mas. Itu bukan saya yang chat mas. Itu teknisi Wi-Fi nya. Gini saja sudah mas, masnya transfer saja uangnya ke saya ya." Saya kembali respon "tidak bisa mas. Kartu ATM saya sudah tidak aktif." Terjadi percakapan cukup panjang antara saya dengan masnya di sini. Masnya meminta saya supaya nanti setelah orang tua saya datang diminta untuk menitipkan kartu sekaligus uang tagihan Wi-Fi ke saya. Singkat cerita pembicaraan selesai di sini.
Ini merupakan peristiwa yang menyebalkan sekali bagi saya. Sebab penagih Wi-Fi tersebut menagihnya tidak mengenal tanggal atau tempo. Kadang datang kemari awal bulan, pertengahan bulan, dan akhir bulan. Maksud saya, tentukan saja tempo menagih Wi-Fi tersebut, supaya tidak merepotkan masnya dan saya. Kalau sudah seperti ini kejadiannya, kita berdua sama-sama repot. Kasihan masnya jadi bolak-balik datang ke rumah saya. Kalau dari awal ditentukan kan enak, kami bisa menyiapkan terlebih dahulu. Enak di saya dan enak di masnya. Memang menurut saya masnya itu senang repot. Penagih Wi-Fi tidak punya kontak saya, yang punya kontak saya justru teknisinya. Teknisinya yang disuruh chat saya, tetapi justru yang nagih Wi-Fi beda orang. Kenapa penagih Wi-Fi tersebut tidak minta kontak saya saja ya dari awal ke teknisi Wi-Fi nya? Kan enak kalau begitu, penagih Wi-Fi nya bisa chat saya kapan pun tatkala hendak kemari. Atau teknisinya saja yang disuruh nagih ke rumah saya langsung, kalau penagih Wi-Fi nya sibuk kerja.
Dan juga hari Minggu kemarin, mas penagih Wi-Fi datang ke rumah tanpa mengabari kami terlebih dahulu. Seandainya mengabari kami dulu kan enak seperti itu. Kami bisa siap-siap dulu. Jelas komunikasi di sini penting sekali. Hari Selasa kemarin juga sama, tidak ada kabar mau nagih Wi-Fi, tahu-tahu datang ke rumah saya. Ya kan kaget saya, enak-enak tidur jadi terpaksa bangun. Bayangkan saja sudah bagaimana orang baru bangun tidur kalau diajak bicara. Kesal sekali saya karena tidak ada kabar itu tadi pasalnya. Kalau beri kabar kan enak. Ada hari Senin kemarin, benar memberi kabar, namun setelah ditunggu tidak ada datang nagih tagihan Wi-Fi kemari. Kan sialan itu namanya.
Perlu diketahui, penagih Wi-Fi yang satu ini baru di mata saya. Sebelumnya bukan mas ini yang nagih. Saya tidak tahu mas-mas yang biasanya nagih pergi ke mana. Tetapi yang jelas, penagih Wi-Fi tersebut terlihat senang repot. Dan senang melakukan segala sesuatu sesuka hatinya. Apa tidak dipikir kembali, "bagaimana kalau orang yang mau saya tagih keluar rumah? Ah baiknya saya kabari dulu lah supaya orangnya tidak keluar rumah dulu." Kan gitu enak. Tetapi masnya justru tidak memberi kabar. Memberi kabar satu kali, setelah ditunggu ternyata gak datang nagih kemari. Mohon maaf saya sendiri yang malu dilihat tetangga. Kesannya seolah-olah saya lari dari tagihan Wi-Fi. Tadi siang teknisi Wi-Fi nya chat saya lagi "bisa transfer mas?" Saya jawab tidak bisa, kartu ATM saya tidak aktif. Loh kan, padahal kemarin sudah saya katakan ke penagih Wi-Fi nya bahwa saya tidak bisa transfer. Teknisinya baru tahu itu tadi. Apa sama penagih Wi-Fi nya tidak diberi tahu ya, kalau saya tidak bisa transfer. Kalau kata adik saya, memang penagih Wi-Fi yang datang kemari itu tidak pernah beres. Lebih-lebih Wi-Fi di rumah saya juga sering gangguan. Halah terserah sudah, pusing saya. Repot sekali menurut saya. Haha....