Bukan Sulap Bukan Sihir: Pas Upacara Sedikit, Selepas Upacara Banyak

       Hari Senin kemarin, kami mahasiswa PPL PPG Prajabatan berkumpul dan melaksanakan upacara bendera di SD yang terletak di kelurahan Mangli. Upacara kali ini berbeda dengan upacara yang saya rasakan sebelumnya. Di mana sebelumnya, selama mengikuti upacara, posisi guru dan staf karyawan selalu berada di tempat yang teduh. Nah, di SD Mangli ini lain, posisi guru berada di tempat yang panas. Kami berada di sebelah barat seperti itu. Saat penghormatan bendera, guru dan staf diminta untuk harap kiri. Nah di sini itu, kami merasa silau akan sinar matahari. Saya akui, Senin kemarin memang matahari bersinar terik sekali, sampai-sampai ada siswa yang lemas dan terpaksa mundur dari barisan upacara. Terlepas dari itu, ada sebuah momen menarik di mana saya perhatikan guru dan staf karyawan yang mengikuti upacara sedikit. Namun setelah upacara selesai, semua guru banyak tumpah ruah di dalam lapangan. 
        Upacara di SD tersebut diadakan sebagai mestinya. Prosesi dan langkah-langkahnya tidak jauh berbeda dengan upacara di SD lain. Setelah protokoler membacakan teks "pembina upacara dan staf karyawan diperkenankan untuk meninggalkan lapangan upacara.", kami guru PPL tidak lupa bersalaman dengan guru yang ikut hadir upacara saat itu. Seingat saya, saya hanya bersalaman dengan empat guru saat itu. Teman saya, Resita, bilang ke saya kalau yang hadir upacara saat itu ya empat guru. Itu yang di depan, yang di belakang murid, saya perhatikan hanya satu guru saja. 
        Setelah upacara selesai, semua siswa tidak diperkenankan untuk meninggalkan lapangan upacara terlebih dahulu. Karena ada pengumuman penting. Pengumuman pertama adalah pengumuman perkenalan mahasiswa PPL PPG Prajabatan. Kedua adalah pengumuman tentang perpisahan Pak Yuris. Dia adalah salah satu guru di sana dan memutuskan untuk resign dari sekolah sana. Dia hanya ngajar di sekolah itu selama satu tahun lebih dua bulan begitu kalau gak salah. Pokok gak sampai dua tahun dia ngajar. 
        Pertama, perkenalan dari kami. Awal, dibuka oleh Rizal, koordinator kami. Ada kalimat yang menurut saya kurang tepat disampaikan oleh Rizal. Dia berkata "nama saya ini, adik-adik boleh panggil saya mas atau kakak." Kedua, dan seterusnya adalah perkenalan anggota kelompok kami satu persatu. Ya nggak ada, hanya perkenalan nama dan asal kota sudah. Habis itu ya selesai, tidak ada pertanyaan dari anak-anak. Setelah selesai perkenalan semua, wah kami oleh salah satu guru yang pakai baju hitam dipermalukan di depan anak-anak. Mungkin teman-teman saya tidak merasa demikian. Tapi saya merasa bahwa kami dipermalukan. Pak kaos hitam itu berkata langsung di mic "apa pantas di sekolah dipanggil kakak, mbak, mas? Mana ada kak guru, mbak guru, mas guru? Pantas tidak? Nah, kalau di sekolah itu tetap dipanggil Bu atau pak. Kalau misalnya ketemu di luar sekolah baru boleh panggil mas/mbak." Maksud saya, nggak begitu juga caranya seperti itu. Dari gesture maupun gaya bahasa sudah menunjukkan bahwa beliau itu paling benar. Wes upacara gak ikut baris di posisi yang panas. Tetapi beliau justru yang menyiapkan anak-anak berbaris di lapangan. Aduh, beda sekali dengan di sekolah tempat saya ngajar. Sebelum bel berbunyi, itu sudah siap di sekolah tempat saya ngajar. Aduh, di sini siap-siapnya setelah bel. Selain itu, lama lagi menyiapkannya. Nggak tahu apa kalau panasnya seperti itu. Kemudian yang berkaos hitam itu bilang ke kami "loh sudah sana, ngapain masih tetap di sini?" Maksudnya beliau, kami itu kan sudah perkenalan, ngapain tetap berada di posisi yang panas. 
       Selanjutnya, adalah perpisahan pak Yuris. Pak Yuris itu diminta untuk maju ke depan untuk menyampaikan beberapa hal sebelum berpisah. Pak Yuris menyampaikan terima kasih, maaf, dll seperti itu. Setelah itu, pak Yuris dapat hadiah dari muridnya. Kami melihat pemandangan itu jadi terharu seperti itu. Saat itu kami posisinya sudah berada di tempat yang teduh, setelah diusir oleh orang berkaos hitam itu. 
       Selang beberapa saat, satu guru memanggil kami untuk dimintai tolong. Anak-anak sudah masuk kelas semua itu. Tadinya saya yang mau dimintai tolong. Saya tidak mau, dan menunjuk teman saya. Alasan saya, saya tidak bawa hp begitu. Teman saya ini diminta untuk memfotokan pak Yuris dan guru-guru yang lain. Dari sini, saya jadi tahu ternyata gurunya banyak juga, sekitar 16 yang ikut foto bersama itu. Pertanyaannya, tadi pas upacara orang 16 itu kemana? Bangun proyek? Setelah upacara banyak, pas upacara dikit, kok ajaib begitu ya. Apa karena sudah ada guru PPL, mereka tidak merasa perlu untuk ikut upacara? Saya juga tidak tahu. Oke saya paham, guru kelas rendah itu di kelas. Kelas tinggi kemana? Pak Hasan, guru pamong saya itu juga tidak kelihatan pas upacara. Beliau baru kelihatan saat pak Yuris menyampaikan pesan kesan di lapangan upacara. 
    

Postingan populer dari blog ini

Utopia Pribadi: Kebijakan Personal Vehicle Free Every Morning di Kreongan Kabupaten Jember Provinsi Jawa Timur

Kalau mau Ngasih, Kasih aja

Oh Jadi ini Biang Keroknya