Ini Acaranya Siapa sih?

       Tanggal 13 September kemarin, takmir masjid kami mengadakan acara maulid nabi. Acara tersebut rutin setiap tahun dilaksanakan di sini. Untuk acara tahun ini, panitia PHBI mengusung konsep simple. Konsep simple yang dimaksud di sini akan penulis terangkan di paragraf selanjutnya. Tapi, konsep tersebut justru dirusak oleh seseorang yang ingin numpang tenar tuh. Sebut saja orangnya adalah ketua RT kami sendiri. 

       Setiap bulan, tepatnya di Minggu pertama pada malam Rabu, di tempat kami selalu diadakan rapat pertemuan takmir. Di dalam rapat itu, dibahas poin-poin penting seperti acara maulid nabi contohnya tuh. Nah, bulan lalu kami berkumpul untuk membahas persiapan maulid nabi dan masalah sertifikat masjid. Dalam bahasan soal persiapan maulid nabi, ketua PHBI sebut saja pak Nurhadi sudah memiliki konsep yang bagus namun masih mentah. Masukan demi masukan muncul dalam rapat itu sehingga kami sedikit lebih jelas menemukan gambaran konsep acara maulid nabi itu akan terkemas seperti apa. Namun, yang menjadi persoalan kami saat itu adalah tidak menghadirkan ibu-ibu. Oke cukup sampai di sini, saya akan terangkan di paragraf berikutnya. 

       Pada tanggal 2 September lalu, takmir kembali menggelar rapat dengan menghadirkan ibu-ibu tuh. Pak Imron Rosyadi selaku perwakilan PHBI menyampaikan secara detil gambaran konsep acara maulid nabi nanti akan dikemas seperti apa. Di sini, pak Imron menerangkan bahwa PHBI saat ini mengusung konsep sederhana atau simple yang saya maksud tadi di paragraf sebelumnya. Simpel itu tadi mengacu pada acara maulid nabi tahun lalu yang dirasa tidak simpel. Di mana tahun lalu itu konsumsinya terlalu banyak dan jamaah yang datang sedikit. Setelah acara selesai, masih ditutup dengan acara prasmanan (makan-makan bersama). Yang terjadi kas masjid terkuras banyak untuk acara tersebut. Nah tahun ini konsepnya penghematan tapi tetap mencari solusi bagaimana yang hadir nanti lebih banyak dari tahun sebelumnya. Jadi boleh dikatakan konsep simpel tadi adalah konsep yang sebisa mungkin dapat meminimalisir pengeluaran kas masjid yang berlebihan seperti tahun sebelumnya. 

       Pada rapat tanggal 2 September itu, saya membuka kesempatan pada peserta rapat untuk memberi masukan, pertanyaan, atau ide positif di dalam rapat. Karena ketua PHBI memasrahkan anggaran konsumsi kepada ibu-ibu, mbak Linda tanya "jumlah konsumsi 300 kotak, 1 kotak berisi kue saja atau lengkap dengan air minumnya?" Dijawab sama pak Imron "terserah bagaimana enaknya sudah, kami pasrahkan konsumsi pada ibu-ibu. Mau 1 kotak ada air boleh, mau tidak juga boleh yang penting tidak melebihi anggaran yang sudah dianggarkan yakni 1,5 juta. Terlebih nanti ada orang lain yang mau menyumbang, ya nanti dana masjid dikurangi dan diganti oleh dana sumbangan tersebut." Belum selesai pak Imron berbicara, pak Sukiman berkata "nanti saya nyumbang air lima dus." Seluruh peserta rapat tepuk tangan kemudian. 

       Untuk masukan dan saran selanjutnya terus terang membuat saya jengkel. Mereka tidak ikut rapat takmir bulan lalu, tapi seolah-olah mereka yang memiliki konsep itu dan berusaha menyetir yang mempunyai konsep aslinya. Siapa lagi kalau bukan ketua RT kami sendiri. Dia memberi pendapat dalam rapat bukan untuk memberikan solusi nyata, tetapi supaya ingin dianggap berjasa karena ide yang diberikannya. Dia merasa paling tahu konsep yang dimiliki pak Imron. Dia usul supaya di dalam masjid didirikan panggung. Coba pikir di dalam masjid ada panggung itu gimana ceritanya? Usulan tersebut akhirnya ditolak oleh sebagian besar anggota yang hadir. Lalu kemudian dia usul agar panggung ditaruh di luar masjid. Panggung menghadap ke arah masjid tetapi tetap memberikan space agar pengendara motor bisa lewat. Karena masalah di rapat ini adalah bagaimana menarik minat warga untuk hadir di acara tersebut, jadi usulannya pak RT seperti demikian. Karena mengaca pada tahun-tahun sebelumnya, di mana warga yang hadir selalu sedikit. 

       Saran selanjutnya dari ketua RT kami untuk menarik minat warga yang hadir, perlu dibuatkan undangan tertulis. Undangan tersebut lalu disebarkan ke seluruh warga RW 7. Kalau dirasa terlalu banyak, undangan bisa diperkecil jadi dua atau empat bagian. Tapi oleh ketua takmir, usulan tersebut ditolak karena dianggap kurang efisien. Kedua, takmir telah melakukan cara itu saat ada acara isra mi'raj, namun faktanya yang hadir tetap sedikit. Ketua RT usul lagi, supaya meminta RT lain untuk menginformasikan ke warganya untuk hadir minimal 20 orang. Tidak lama setelah itu muncul pertanyaan, bagaimana jika nanti yang datang lebih dari 300 orang? Kan nanti akan ada yang tidak kebagian konsumsi dong. Aduh tambah pusing saya di sini sudah. 

       Selain pak RT, ada lagi anggota kami bermana pak Diki. Beliau tidak aktif dalam kegiatan takmir, tetapi beliau selalu hadir jika takmir mau mengadakan acara penting. Dan beliau selalu vocal dalam memberikan masukan. Sekilas visinya hampir sama dengan Danzo. Tidak ada persoalan berarti yang saya catat dari usulan pak Diki. Beliau hanya mengusulkan seputar sound dan mic saja seingat saya. Tapi ya gitu, beliau sama vocalnya dengan ketua RT kami dalam memberikan saran dan masukan. Masalahnya meraka gak ikut hadir rapat sebelumnya, jadi mereka kurang paham. Sehingga yang terjadi pertanyaan yang menurut saya sifatnya tidak penting untuk dibahas ya pada akhirnya dibahas. 

       Dari rapat itu, saya sebagai moderator belum tahu pasti apakah saran dari ketua RT kami diterima atau ditolak. Itu masih mau dirembuk lagi lebih lanjut. Pak RT itu mengaca tahun kemarin jamaah yang datang kurang ramai sebab acaranya kurang wah sedikit. Saya akui memang tahun lalu tidak ada panggung. Jadi anak-anak penampilan hadrah maupun yang lain ya di dalam masjid itu sudah. Nah saya menebak arah pemikirannya ketua RT itu membangun panggung agar acaranya lebih meriah dan dapat menarik perhatian jamaah lebih banyak. Ketua dan wakil PHBI sebagai warga dari RT luar, hanya bisa pasrah saja sebab acara tersebut diadakan di masjid yang berada di lingkungan RT kami. Beliau berdua nurut dan memantau jalannya acara saja. Tetapi dari hati yang paling dalam beliau sedikit kecewa tuh. Karena kalau membangun panggung itu butuh anggaran lagi dan tentu ini menyalahi konsep awal yang simpel tadi. Kalau simpel ya sudah tanpa panggung berarti. Ya ada kubu yang berlawanan gitu lah kasarannya. 

       Begitu hari H, wah benar saya melihat panggung di luar masjid dan menghadap selatan. Dalam hati saya "waduh kok di sini panggungnya?" Selesai sholat Maghrib, saya oleh ketua takmir disuruh jadi sie dokumentasi. Menurutnya penting sekali acara itu didokumentasikan. Saat itu saya menolak dengan halus. Karena saya tidak suka begitu hari H disuruh jadi ini dan itu. Harusnya sebelum hari H itu ngomong ke saya kalau saya jadi sie dokumentasi. 

       Menghindari disuruh-suruh akhirnya saya pulang ke rumah sebentar. Sampai di rumah, ibu saya bilang kalau saya dicari pak RT. Saya nggak tahu ada keperluan apa beliau mencari saya. Setelah itu saya lihat ada pesan wa masuk, ketua takmir atau siapa gitu mengingatkan saya agar tidak lupa menyiapkan audio drama untuk penampilan anak-anak TPQ Al Ikhlas. H-1 memang di grup pengajar TPQ, ketua takmir itu meminta saya untuk download audio drama di YouTube. Sebetulnya saya malas mau download gitu-gitu. Saya juga disibukkan dengan garap soal UTS anak-anak di sekolah. Tanggal 13 acara maulid nabi, Senin tanggal 15 itu ada UTS di sekolah saya. Jujur, saya dari awal itu tidak mau melibatkan diri untuk repot sendiri masalah acara maulid tersebut. Malah saya akhirnya yang kena suruh-suruh juga. Tinggal download saja masih nyuruh saya. 

       Tidak lama setelah itu, saya pergi ke masjid sambil bawa hp. Hasil download audio drama kan ada di hp saya. Di saat yang bersamaan, acara sudah dimulai dipandu oleh teman saya yang juga aktif mengajar TPQ. Lalu kemudian saya tanya ke ketua takmir dan teman saya, "ini penampilan dramanya kapan?" Beliau jawab "nanti setelah sholat isya." Haduhh repot sudah kalau gitu. Dari tadi gak bilang kalau drama setelah isya. 

       Saya berjalan menepi dan lalu kemudian melihat keberadaan pak RT. Saya hampiri beliau dan tanya "ada apa mas nyari saya tadi? Saya sholat jamaah mas tadi di masjid." Beliau jawab "oh nggak, rencananya mau tak suruh ngeprint rundown acara di foto copy kamu. Nggak wes ini sudah tak print sama saya." (Sambil menyerahkan selembar kertas rundown acara ke saya). Jujur saya yang baca rundown itu pusing sendiri. Banyak sekali susunan acaranya. Rundown acaranya seperti berikut; 
       Jujur saya gak ngerti dengan konsep sususan acara itu. Semuanya dimasukkan di sana. Ngapain Hadrah Nurul Mustafa itu diajak segala? Terlalu banyak itu susunan acaranya menurut saya. Waduhh asli kacau di sini. Sie acaranya sendiri adalah ketua RT kami, benar sudah. Belum lagi saat itu persiapan sie perlengkapan kurang. Alat penyangga mic gak disiapkan. Kemudian karpet di luar masjid gak disiapkan. Itu saya juga akhirnya kena suruh ngambil karpet sama penyangga mic gak tahu saya apa namanya. Ya pokoknya mic-nya nanti dimasukkan di dalam sana. Supaya pas baca surah pendek, anak-anak tinggal baca aja gak perlu megang. 

       Jujur, rasanya saya itu pingin geplak kepala ketua RT saya sendiri. Buat susunan acara kok maksa seperti itu. Semua anak TPQ se-RW diundang. Ada TPQ Al Ikhlas, Al Kautsar, dan Al Muchlisin. Itu ngapain banyak-banyak? Biar apa coba? Menurut saya terlalu dipaksakan. Ini acaranya siapa sih sebenarnya? Acaranya RT apa takmir? Ini kan acara takmir Ya Allah lagi-lagi semerawut seperti itu acaranya. Teman saya sebagai MC juga tidak tahu caranya memangkas acara yang penting. Semuanya ditampilkan seperti itu. Ya kacau jadinya. Semoga jadi pelajaran untuk tahun berikutnya. Siapa tahu tahun berikutnya bisa ngundang grup band D'masiv dan master Limbad. 

        Di pra acaranya saja saya sudah dibuat kesal loh. Seorang anak disuruh naik ke atas panggung, lalu kemudian diminta membaca surah An-Nas. Begitu selesai, dia turun, lalu dipanggil satu nama lagi untuk naik ke atas panggung membaca surah Al Falaq, begitu seterusnya sampai surah apa gitu saya lupa sudah. Mengapa musti satu orang membaca satu surah? Naik turun naik turun lagi di atas panggung seperti itu. Jujur malas saya yang mau lihat itu. Seolah-olah ini bukan acaranya takmir, melainkan acaranya RT, MC, sama satu lagi pendiri Hadrah Nurul Mustafa, saya gak tahu siapa namanya. Yang pasti istrinya adalah warga asli dari RT kami. 

       Jujur saya sangat kesal mengikuti acara itu. Tahun depan nggak mau ikutan lagi saya sudah. Kekesalan saya sudah mencapai pangkat tiga ini. Selalu saya temui momen-momen dalam acara tersebut yang membuat saya kesal. Contohnya, pendiri Hadrah Nurul Mustafa ikut campur masalah mengatur sound. Itu kan sudah ada bagiannya sendiri siapa yang bertanggung jawab soal sound. Lalu, ada guru dari TPQ Al Kautsar yang narsis sekali. Berulang kali bilang ke tukang soundnya "sebentar jangan diputar dulu, masih mau foto." Ada enam kali bilang begitu dia. Tukang soundnya itu dengar sudah jadi gak perlu diulang-ulang. Oh ini artis dadakan ini. Lagi pula ngapain TPQ Al Kautsar sudah tampil, disuruh tampil lagi. Penampilannya sama yakni menyanyi. Buang-buang waktu itu namanya. Ada lagi momen miskomunikasi, di mana jamaah di dalam masjid berdiri, tapi mubaligh atau kiai yang diundang masih belum datang. Akhirnya jamaah yang di dalam duduk kembali. Kacau pokoknya sudah. Setiap step dalam acara itu isinya kacau semua. Hadrah itu begitu sudah naik ke atas panggung ya sudah langsung saja bersholawat. Ini nggak, masih ngatur bunyi mic. Lama lagi ngaturnya. Kan buang waktu itu namanya. 

       Klimaks kekesalan saya itu begitu mahalul qiyam, semua jamaah kan berdiri menyambut datangnya kiai. Begitu kiai masuk dan duduk di tempat yang sudah disediakan. Acara penampilan ecek-ecek itu masih terus ditampilkan. Harusnya kan sudah distop sampai di situ. Langsung lanjut ke ceramah. Karena ceramahnya itu adalah acara intinya. Istri ketua RT kami bilang ke saya "Reza gimana tuh? katanya ketua takmir kiainya datang jam delapan, ini kok jam setengah delapan sudah datang. Hadrah Al Ikhlas masih belum tampil juga." Saya bilang "nggak tahu pusing saya." Di rundown itu semestinya Hadrah Al Ikhlas tampil dulu, tapi yang terjadi malah Hadrah Nurul Mustafa dulu yang tampil. Bingung saya ini acaranya siapa sih sebenarnya? Kok semuanya ingin unjuk gigi. 

       Ketika kiai mulai ceramah, saya pindah posisi ke selatan masjid. Saya amati banyak orang yang pulang itu sudah. Bayangkan di banner dan undangan, acara dimulai jam 19:00 sampai selesai. Tapi faktanya jam 20:15 baru dimulai. Kiai memang datang sekitar jam 19:30-an. Itu sempat disindir Owlh kiai. Oh iya sedikit jengkel kiainya. Jam 21:00 sudah selesai itu acaranya. Karena info dari ketua takmir waktunya demikian. Akhirnya kami hanya bisa mendengarkan ceramah selama 35 menit. Jam 20:50 itu waktunya untuk kuis. Ya Allah MC yang kedua adalah pak Sundari. Beliau gak pernah nongol pas rapat, tahu-tahu beliau yang disuruh jadi MC. Dua kali loh beliau memotong pembicaraannya kiai. Ya gitu orang-orang kampung saya itu sulit diajak maju. Semula ingin unjuk muka dan gigi. Sehingga yang ada kesannya acara ini hanya untuk kepentingan pribadi saja. Warganya ditipu disuruh nunggu satu jam setengah. Ceramahnya cuma 35 menit. Nggak ada tambahan waktu lagi. 

       Setelah acara selesai, itu lagi-lagi saya yang merapikan karpet dan terpalnya. Lalu saya taruh di lantai dua. Setelah itu saya masih disuruh membagikan hadiah pemenang lomba. Aduh banyak sekali acara. Acaranya itu yang benar hanya ceramah, selebihnya itu adalah penampilan untuk mengisi waktu. Daripada waktunya gak terisi, warga plonga-plongo menunggu, karena itu diisi penampilan yang nanti berfungsi sebagai appetizer warga. Appetizer itu sedikit, gak banyak setahu saya. Kalau banyak bosan dan enek warga. Nah, makanan intinya yang banyak tidak apa-apa. Karena appetizernya banyak, begitu acara inti dimulai, nggak kaget saya kalau banyak warga yang pulang. Karena sudah kemalaman itu. TPQ Al Kautsar setelah tampil dan foto-foto di atas panggung pulang setan itu. Dengarkan ceramah dulu sampai selesai baru pulang, kan gitu yang bener? 

       Setelah bagi-bagi hadiah pemenang lomba, saya bantu-bantu teman saya yang lain merapikan karpet, memasukkan dus air ke dalam masjid, dst. Seingat saya, acara terakhir yaitu penampilan Hadrah Al ikhlas dan Mustafa itu. Nggak ada yang lihat loh. Semua jamaah sudah pulang semua. Pintu masjid semua juga sudah ditutup. Ya ada yang lihat itu pun mereka yang merupakan bagian dari tim dan keluarga Hadrah tersebut. 

        Mulai besok nggak mau terlibat lagi sudah saya acara seperti itu. Sebetulnya kalau boleh ngasih tahu, pas rapat ketua PHBI pak Nurhadi menunjuk saya untuk jadi sie acara. Tapi setelah beberapa menit kemudian, ketua RT mengajukan diri untuk jadi sie acara ya sudah. Sepertinya ketua RT gak setuju kalau saya jadi sie acara. Ya sudah tidak apa-apa. Dia merasa dirinya paling benar ya sudah tidak apa-apa. Besok-besok pas selesai acara juga akan terbukti sendiri. Tahun lalu soalnya dia sudah yang jadi sie acara, tahun ini dia lagi. Lalu kemudian pas hari H banyak yang mengira saya jadi MC. Saya saja gak ditunjuk jadi MC, masak saya harus menawarkan diri jadi MC kan gak mungkin. Sudah itu saja capek saya terlalu banyak ini sudah tulisannya. Terima kasih 

   
      

       


       

       

      

      

       

    

Postingan populer dari blog ini

Utopia Pribadi: Kebijakan Personal Vehicle Free Every Morning di Kreongan Kabupaten Jember Provinsi Jawa Timur

Kalau mau Ngasih, Kasih aja

Oh Jadi ini Biang Keroknya