Ngambil Untungnya yang Wajar Sedikit dong
Selain menjadi guru, saya juga aktif berjualan di koperasi sekolah. Saya jual jeli dan coklat. Dari berjualan di koperasi itu, saya jadi tahu varian harga dagangan yang lain. Ada satu hal yang membuat saya kesal di sini, yakni penjual yang lain menjual jajanannya dengan harga yang tak wajar.
Sebut saja contohnya latiau, sejenis jajajan China karena bungkusnya ada tulisan mandarinnya. Di toko dekat rumah saya itu harganya seribuan. Di koperasi dijual dua ribu. Kerupuk yang lazim dijual lima ratusan, di koperasi dijual seribuan. Yoghurt yang biasanya di toko rumahan dijual dua ribuan, di koperasi dijual tiga ribuan. Sejenis susu cimory yang biasanya harganya dua ribu dijual tiga ribu. Jujur saya merasa kesal dengan itu.
Saya itu jual jeli di koperasi. Jeli saya itu nutrijel. Dikemas dalam bentuk cup plastik kecil lengkap dengan tutupnya. Lalu masih dilengkapi dengan sendok plastik kecil. Terakhir dilengkapi dengan stiker bertuliskan kata Thank you. Jeli itu oleh saya dijual seharga seribuan. Kalau mau, saya jual dua ribuan. Tapi saya tidak mau, karena saya punya hati. Ibu dan saya ingin jualan kita tetap higienis, rapi, bersih dan mengandung unsur estetika. Saya bilang ke ibu saya "ini kalau dijual dua ribu bisa bu." Tapi ibu saya bilang "jangan kasihan, yang beli anak-anak kecil soalnya." Ketika jeli saya tidak laku misalnya, ibu saya tidak mau menjualnya lagi keesokan harinya, padahal menurut saya masih bisa dijual lagi. Tapi justru ibu saya memilih membuatnya lagi dengan alasan supaya lebih bersih dan higienis. Jeli yang tidak laku itu tadi akhirnya terbuang di dalam perut saya.
Baru-baru ini kami juga jualan coklat di koperasi. Bahan utamanya adalah marshmellow (manisan kenyal) yang kemudian dilumuri coklat. Setelah itu ditusuk oleh tusuk sate dan kemudian ditaburi misis. Tidak sampai di situ, marsmellow kemudian dikemas dalam kemasan plastik yang kemudian diikat dengan tali pita. Itu tadinya mau dijual dua ribuan oleh ibu saya. Tapi beliau mengurungkan niat dan menjualnya dengan harga seribu lima ratus. Alasannya ibu kasihan kalau dijual dengan harga dua ribu. Tidak apa-apa sudah dijual seribu lima ratus asal masih tetap dapat laba. Ya walaupun sebetulnya labanya tidak banyak. Kurang lebih hitung-hitung sebagai shodaqoh lah kata ibu saya.
Baik jeli maupun coklat dagangan saya itu tadi, semuanya buatan sendiri. Tidak asal beli di warung eceran seperti jajajan China dan lain-lain yang ada di koperasi itu. Jujur kesal saya melihat orang jualan tapi jualannya hasil beli ke warung eceran, bukan hasil buatan sendiri. Lalu dijual dengan harga tak lazim. Dijual seribu loh masih untung mereka, malah dijual dua ribu. Wah ini kan artinya merampok namanya. Yang dirampok anak kecil-kecil yang polos itu.
Kembali lagi ke karakter orang kita saat jualan ya. Tidak dapat dipungkiri memang, bahwa orang-orang kita ini sangat suka jualan dengan modal sedikit tapi menghasilkan untung banyak. Contoh yang dapat dengan mudah dirasakan adalah saat ada acara-acara besar seperti ada JFC, drumband, pawai haji, wisuda, dst. Pasti sudah mereka yang jualan di sana, barang jualannya dijual dengan harga mahal. Pas ada karnaval pelajar, saya parkir saja harus bayar lima ribu. Umumnya kan dua ribu parkir itu. Kemudian beli es teh, yang harga biasanya tiga ribu jadi lima ribu. Kemudian beli cilok lima ribu serasa beli cilok tiga ribu. Dibuat nyari kesempatan pokoknya sudah. Jadi semuanya dimahalkan. Yang terjadi di koperasi sekolah saya kan gak jauh beda tuh. Semuanya dimahalkan karena mereka tahu dagangan mereka pasti dibeli oleh anak-anak. Cuma dagangan ibu saya saja yang menurut saya pantas dijual mahal tapi dijual murah. Salut saya dengan beliau.