Saudara Non-Muslim tidak pernah Berhenti Membuat Saya Kagum
Hari Jumat kemarin, saya ngajar les di kediaman saya. Waktu masih terlalu awal, murid saya datang ditemani oleh ayahnya. Saya bilang "waduh pak saya masih belum siap apa-apa. Terlalu awal datangnya jenengan ini pak." Bapaknya jawab "ngapunten nggih pak (sambil membungkuk dan meletakan tangan di dada), kalau kemalaman nanti takut hujan pak." Bapak tersebut adalah seorang pemeluk agama kristen.
Dalam tulisan ini, yang menjadi perhatian saya bukan agamanya. Tapi etika dan sopan santunnya. Jujur, saya kagum begitu. Di lain sisi, saya juga merasa iri. Kenapa saudara seiman saya perilakunya tidak seperti bapak tersebut ya. Ya saya yakin ada tapi belum ketemu saja yang perilakunya seperti wali murid saya tersebut.
Jujur teman-teman, saya tidak tahu kenapa orang kristen tidak pernah berhenti membuat diri saya kagum. Bapak tersebut adalah orang berada. Profesinya sebagai dokter. Dokter sungguhan bukan dokter-dokteran. Sedangkan saya hanya orang menengah dan berprofesi sebagai guru honorer. Tetapi kenapa ya Allah, adem sekali hati saya diperlakukan sopan seperti itu. Kami berdua ngomong ya langsung nyambung begitu. Adem sekali pokoknya hati saya. Tata cara beliau dalam berkomunikasi juga baik dan enak didengar oleh telinga.
Kalau pembaca di sini berpikir "ya wajar lah beliau dokter, jadi ilmunya tinggi sehingga pandai menempatkan diri dalam hal berkomunikasi yang baik." Loh jangan salah, wali murid saya yang dokter bukan beliau saja. Wah banyak wali murid saya yang dokter. Tetapi belum saya temukan yang tata cara berbicaranya seperti beliau ini. Ada wali murid saya pas kelas tiga dulu, orangnya sangat vocal dalam mengkritik sekolah dan guru. Padahal sebetulnya anaknya sendiri yang lambat dalam menerima materi di kelas. Pernah beliau chat saya, panjang sekali. Di dalam chat tersebut beliau menunjukkan identitasnya sebagai seorang dokter. Padahal saya sudah tahu kalau beliau dokter. Ngapain ditunjukkan ke saya lagi? Anak beliau dulu juga pernah les ke saya, tapi lesnya di sekolah bukan di rumah saya. Mau tanya agama beliau? Agamanya Islam sama seperti saya. Tapi cara beliau memperlakukan orang lain tidak sama seperti dalam ajaran Islam. Apa ya, pikir beliau gurunya itu harus mengikuti kemauan beliau begitu, paham gak sampai sini?
Ketika menjemput anaknya dari les pun, beliau pembawaannya ya sama masih kalem. Beliau selalu mengucapkan salamnya agama Islam ketika bertemu saya. Ketika saya berbicara, beliau betul-betul melihat saya dan ngangguk begitu (tanda menghargai). Ketika beliau bicara, nada bicaranya kalem dan adem, diikuti dengan gesture menunduk sesekali. Di sela-sela pembicaraannya, beliau selalu menyelipkan kata maaf dan terima kasih terhadap saya. Jujur, ini bukan kali pertama saya diperlakukan seperti ini oleh saudara non muslim saya. Sudah berkali-kali. Dan itu membuat saya sangat kagum.
Jujur, di satu sisi saya iri begitu. Saya bertanya-tanya kapan ya saudara seiman saya perilakunya seperti beliau itu. Diajak ngomong serius ya serius tidak ketawa sendiri. Diajak bercanda ya juga nyambung begitu. Lewat tulisan ini, saya ingin saudara seiman saya banyak belajar dari saudara non muslim terkait dengan cara memperlakukan dan menghargai orang lain. Tidak peduli serendah apa status sosial lawan berbicara kita, kita musti tetap menghormatinya. Tapi mohon maaf yang terjadi di lapangan justru saudara seiman saya belum mengerti akan pentingnya menghargai orang begitu. Pernah saya temui, wali murid muslimah yang saya ajak bicara, tapi pembicaraannya justru menyayat perasaan saya ada. Saya tulis kejadian itu di judul tulisan yang selanjutnya.