Berkonflik dengan Dosen

       8 tahun silam tepatnya akhir semester genap di tahun 2017, saya pernah konflik dengan dosen Bahasa Indonesia di kampus saya. Awal mulanya di pagi hari sekitar pukul tujuh, saya melihat isi grup mata kuliah bahasa Indonesia. Di dalamnya terdapat chat dosen yang menanyakan kami mau dikasih nilai apa. Sekitar tiga mahasiswi ada yang menjawab terserah dan mengembalikannya lagi pada dosen mau memberi kami nilai apa, T+ juga tidak apa-apa. Awalnya saya diam, tapi kami terus dipancing dan tersudutkan hanya karena nilai begitu. 

       Saat itu saya mengidap penyakit gatal-gatal. Pagi hari, saya mandi dengan air hangat untuk mengurangi rasa gatal tersebut. Masuk kamar, bukannya langsung ganti baju, saya buka hp dan membaca isi chat di grup bahasa Indonesia tersebut. Saya kira isinya penting begitu. Emosi saya kurang stabil sehingga pada akhirnya saya spontan respon di grup. Saya respon "ini yang ngasih pertanyaan aneh sekali. Mahasiswa kok disuruh milih mau dikasih nilai apa. Jelas mereka semua mau nilai A. Realistis saja lah." Tampak di grup kelas, teman saya chat "tolong Galuh di grup sebelah dikondisikan."

     Beberapa menit kemudian, dosen tersebut chatpri saya. "Kamu ini dua kali sudah bilang dosen aneh. Pertama dosen bahasa Arab, sekarang bahasa Indonesia. Saya rasa kamu hanya berani bilang begitu di belakang. Tapi kalau di depan kamu tidak akan berani." Saya jawab "maaf nggih pak. Saya tidak mau IPK saya turun. Karena kalau turun, beasiswa saya terancam akan dicabut. Saya sadar saya bukan siapa-siapa. Lain kali tidak saya ulangi lagi perbuatan saya." Lalu beliau balas chat saya, tapi saya lupa. Yang pasti di sana ada emoji ketawa dari beliau. 

       Tidak lama setelah itu, beliau memberi klarifikasi di grup, bahwa beliau memberi pertanyaan seperti itu hanya mau ngetes kami saja. Terus beliau chat "Galuh dilarang komen. Kalau perlu dilatban saja mulutnya. Heran kok bisa santrinya Amir kayak gitu." Amir itu nama Kiai saya di Ma'had. Itu sebenarnya saya emosi, tapi saya redam emosi tersebut. Ngapain bawa-bawa Kiai saya, kan kiai saya gak terlibat di sini. 

       Keesokan harinya di lorong gedung G, saya disambut beberapa teman saya. Banyak dari mereka yang membela saya. Salah satu dari mereka berkata "Iya ya ngapain tanya-tanya nilai segala di grup. Baru ini tahu ada dosen seperti itu. Kalau mau ngasih nilai ya kasih nilai aja ya nggak perlu ditanyakan pada kami di grup. Sudah benar kamu itu luh respon begitu." Mendengar itu saya diam saja. 

       Tahun 2019 di tempat PPL II, saya kembali dipertemukan dengan beliau setelah sekian lama tidak bertemu. Di sini beliau adalah pengawas kelompok kami. Saya saat itu sebagai koordinator PPL menemui beliau di lobi sekolah. Jujur, saya lihat raut wajah beliau itu tidak ramah terhadap saya. Beliau tanya "IPK mu berapa?" Saya jawab "loh pak, kok yang langsung ditanyakan justru IPK saya? Seharusnya kan yang ditanyakan yang ada kaitannya dengan proses kami selama PPL." Beliau respon "loh nggak boleh tah?" Saya diam saja mendengar itu. Beliau lalu berkata "kamu itu pintar tapi sayang ada yang kurang dari kamu. Sebenarnya dulu itu kamu mau saya kasih nilai B." Selebihnya saya lupa beliau berkata apa kepada saya. Yang pasti di sini beliau masih ingat dengan kejadian dua tahun yang lalu itu. Padahal saya sudah lupa dan menjadikannya sebagai pelajaran untuk lebih hati-hati ke depan. Saya tidak menyalahkan beliau karena saya tidak ada di posisi beliau. Mungkin kalau saya jadi beliau, saya juga marah. Singkat cerita, beliau selesai dengan ceramahnya. Lalu saya antar beliau sampai menuju ke dalam mobil. 

       Dari peristiwa di atas, kadang saya itu berpikir bahwa dunia pendidikan ini tidak ada bedanya dengan dunia penjajahan. Saya seperti dipaksa tunduk dengan keadaan. Saya merasa tidak boleh melawan penguasa. Saya merasa tidak diberi kebebasan untuk berpendapat sekali pun itu benar. Jika saya melawan, nilai saya yang jadi taruhannya. Dosen di sini kan penjajahnya. Dia bisa mengancam nilai kami kapan saja. Kalau kami tidak nurut ya tinggal diancam kasih nilai C saja. Sayangnya sebagai jajahan, kami tidak bisa mengancam balik penjajah begitu. Ya apapun itu tetap saya jadikan pelajaran. Walaupun kemungkinan terburuknya nanti saya tidak memiliki keberanian untuk menentang ketidakadilan. Ya diam dan nurut gitu aja. Dikasih ayam geprek ya dimakan, sekali pun beracun. Di kampus, dulu kami dijadikan objek, bukan subjek. Ya nggak merdeka. Dijadikan objek tes-tesan kami dituntut nurut gitu aja. Jujur saya pribadi juga bingung akhirnya mau jawab apa. 

Postingan populer dari blog ini

Utopia Pribadi: Kebijakan Personal Vehicle Free Every Morning di Kreongan Kabupaten Jember Provinsi Jawa Timur

Kalau mau Ngasih, Kasih aja

Oh Jadi ini Biang Keroknya