Jangan pernah Menunda Nazarmu kepada Allah SWT

       Tiga hari yang lalu, saya ngobrol soal skripsi bersama sepupu saya. Dia sudah semester tujuh dan sedang menyusun proposal penelitian. Di tengah-tengah obrolan itu, dia berkata "kalau Desember ini aku sempro, aku mau naruh takjil pas hari Jum'at di masjid dekat sini mas." Saya ingatkan dia "itu nazar namanya. Kamu harus janji pada dirimu sendiri untuk menepati itu nanti. Kalau tidak, rumahmu akan didatangi ular." Dia tanya "kok bisa mas?" 

       Tahun 2017 silam, saya pernah mengikuti perlombaan di kampus. Melewati mulut gapura kampus, saya melihat ada seorang kakek tua berjualan es lilin. Saya amat kasihan melihat pemandangan itu. Lalu kemudian saya nazar "kalau saya menang lomba, saya mau kasih beliau uang." Begitu saya menang, nazar itu tak kunjung saya lakukan. Satu Minggu kemudian, rumah saya didatangi seekor ular yang sangat besar. 

       Sekitar pukul 11 malam, saya tiba-tiba terbangun. Lalu kemudian saya ke kamar mandi. Keluar dari pintu kamar mandi, saya mendengar suara mendesis. Saya pikir itu kucing ternyata tampak seekor hewan merayap ke tembok belakang rumah saya, hewan itu adalah ular berukuran besar. Saking besarnya, ular itu bisa merayap ke dinding rumah loh. Dindingnya padahal sudah dikuliti dengan semen. Kok bisa gitu ya dalam hati saya. Saya dekati kemudian dan saya lihat dengan jelas ular itu merayap menuju rumah Ibu Mini melalui sela-sela bambu atap rumah. Nggak masuk akal dalam hati saya ini. Saya perhatikan lebih dekat, ular itu masih jalan dan terlihat badannya. Sekitar 15 detik, kok masih kelihatan aja ya badannya, saking besar dan panjangnya ular itu. 

       Melihat ular sebesar itu, membuat saya kaku seketika. Bahkan saya tidak sempat untuk mengambil kayu atau meminta bantuan ayah saya. Mulut ini seketika lupa caranya bersuara. Setelah saya pastikan itu adalah ular, saya bilang ke ayah saya yang saat itu tengah tidur pulas. Ayah saya anehnya tidak menggubrisnya. Beliau hanya bilang "biar besok aja sudah, ular kecil itu." Siahh kecil apanya dalam hati saya. Yang bangun justru ibu saya. Begitu ibu saya lihat, ular itu sudah gak kelihatan. Ibu saya kemudian cek dapur dan gudang, karena besar kemungkinannya ular itu masuk melalui tempat itu. Di dapur dan gudang kami itu ventilasi udaranya panjang sekali dan tidak ada kawat penghalangnya. Setelah dicek benar, peralatan seperti panci, alas cuci dari plastik, bahkan bak mandi bayi yang digantung di tembok jatuh karena ular itu. Ular itu awalnya merayap dari tembok samping rumah saya. Saya gak kaget karena samping rumah saya ada ladang atau tegalan. 

       Melihat kejadian itu, ibu saya tidak tidur kemudian. Beliau ingin memastikan dan menunggu di dekat jendela dapur rumah saya. Pukul dua pagi, beliau melihat ular besar menuju dapur, tapi beliau anehnya hanya diam saja. Nggak ada niatan ngambil kayu atau apa gitu. Saya saat itu sudah tidur. Ibu saya merasa tidak berani untuk dekat-dekat apalagi memukulnya. Ayah saya sudah coba dibangunkan tetapi tidak bangun. Ibu saya berkata itu adalah ular kobra. Besar dan panjang sekali ular itu. Sekitar 4 meter setengah panjangnya. Ular itu kata ibu saya turun dari atap rumah ibu Mini. Ibu saya tidak berani dekat-dekat apalagi mencoba memukulnya. Kata ibu saya itu cukup beresiko. Biar saja ular itu pergi dengan sendirinya. Mungkin ular itu sedang ngejar tikus kemari. 

       Keesokan harinya, ibu saya cerita pada saya. Dan saat itu juga, ventilasi dapur dan gudang ditutup dengan kawat, agar tak ada ular masuk lagi. Sebelum-sebelumnya saya juga merasa sedikit aneh. Karena setiap malam, pintu gudang saya itu selalu berbunyi seperti ada suara hewan melata dan mendesis. Hewan itu ya melata di pintu itu sudah. Kedengaran jelas dari kamar saya. Tapi saya tidak tahu hewan apa saat itu. Siang hari ibu saya cerita-cerita ke tetangga. Setelah itu, beliau tanya saya apakah saya tidak merasa memiliki nazar. Saya langsung ingat dengan nazar saya saat itu. Saya ceritakan ke ibu saya bahwa saya memiliki nazar. Kata ibu saya, oh mungkin ular itu kiriman Allah untuk mengingatkan kamu. Sebelum ada ular itu, saya juga merasa ada kejadian aneh di kamar saya. Di mana saat saya mau tidur, saya balik bantal saya. Dan di bawah bantal itu tampak banyak sekali ulat berwarna putih. Ya itu ulat-ulat yang biasa hinggap di daging busuk itu loh. Saya nggak tahu apa namanya. Di tumpukan tanah yang penuh sampah, pasti sering ditemukan ulat itu. 

       Hari Senin, saya datang ke kampus untuk menepati nazar saya. Saya beli es lilin kakek itu. Lalu saya membayarnya dengan uang sebesar sekian rupiah. Uang itu saya tujukan sebagai nazar saya yang tertunda. Setelah itu jujur hati saya lega dan tidak dihantui rasa takut lagi. Dan akhirnya tidak pernah saya jumpai ular besar itu datang ke rumah saya lagi. Nah, untuk para pembaca yang punya nazar, segera lunasi nazarnya ya oke. 

      Ada satu cerita lagi di mana ayah saya pernah dirawat di rumah sakit. Ibu saya nazar tuh. Kalau ayah sembuh, ibu dan ayah akan menginap di rumah nenek. Setelah sembuh, rupanya ayah dan ibu tidak kunjung menginap di rumah nenek. Wah parah akhirnya rumah kamu didatangi ular sebayak enam kali. Kelima ular tersebut, jenis, warna, dan ukurannya sama, kecuali ular yang di kamar saya. Dan keenam ular tersebut berhasil dibunuh semua. Ada ular satu di dekat kamar mandi, berhasil dibunuh oleh ayah saya. Dua hari kemudian ada ular lagi di samping rumah, akhirnya terbunuh juga. Yang aneh itu ular di kamar saya. Masuk dari mana ular itu loh. Saya masih ingat warna ular itu hitam pekat dan terdapat garis merah dan kuning di sepanjang tubuhnya. Awalnya saya mengira itu tali sepatu, wah ternyata ular. Dan ular itu anehnya hanya diam saja seperti menyerahkan dirinya untuk dibunuh begitu. Umumnya ular kan kalau ada manusia merasa terancam dan mencoba untuk kabur. Lah ini nggak, anteng aja dia di pojokan kamar saya. Saya ingatkan ibu saya untuk segera membayar nazarnya. Keesokan harinya beliau berdua menginap di rumah nenek. Setelah itu rumah kami tidak pernah didatangi ular lagi sudah. 

      Untuk pembaca yang budiman, di sini saya hanya mengingatkan saja untuk hati-hati sebelum bernazar. Saya pernah baca di buku LKS saat Mts dulu, bahwa puasa nazar ini adalah puasa yang dibenci oleh Allah karena manusia sering melupakan nazarnya. Padahal nazar itu urusannya kan dengan Allah. Atau dengan kata lain Allah punya piutang terhadap kita. Dan kita punya utang kepada Allah. Pesan saya segera lunasi nazarmu, sebelum Allah marah kepadamu. Terima kasih 




       

Postingan populer dari blog ini

Utopia Pribadi: Kebijakan Personal Vehicle Free Every Morning di Kreongan Kabupaten Jember Provinsi Jawa Timur

Kalau mau Ngasih, Kasih aja

Oh Jadi ini Biang Keroknya