Lanjutan Program Sabtuan: Berkunjung ke Rumah Icha

       Minggu lalu, saya berkunjung ke rumah murid saya bernama Icha. Begitu masuk rumah, saya langsung disambut oleh ayahnya Icha. Icha, Avila, dan Fida ada di ruang keluarga. Mereka malu-malu ketika tahu ada saya berkunjung di rumah Icha. Perlu diketahui, Avila dan Fida ini adalah tetangga Icha.

       Seperti yang saya katakan, saya disambut baik oleh ayah Icha. Di sini terjadi obrolan antara saya dan ayah Icha. Beliau tanpa saya tanya, langsung memberitahu bahwa beliau dengan ibu Icha itu sudah lama bercerai. Ketika beliau kerja, Icha yang baru pulang sekolah itu dititipkan ke rumah ayahnya Avila. Kebetulan ayahnya Avila adalah ketua RT setempat. Beliau juga meminta maaf kepada saya bahwa beliau itu hampir tidak pernah mendampingi Icha belajar. Semenjak cerai dengan ibunya Icha itu, pikiran beliau sudah tidak karuan. Beliau oleh ibu Icha ditinggalkan begitu saja tanpa pamit. Atau dengan kata lain, ibu Icha meninggalkan rumah tanpa sepengatahuan beliau. Sampai sekarang pun, beliau tidak tahu ibu Icha ada di mana. 

      Ayah Icha kembali berkata pada saya kalau beliau itu tidak tamat SD. Jadi, beliau sendiri sulit untuk mendampingi Icha belajar. Jadi Icha ya belajar sendiri begitu. Ya Allah saya kasihan dengan beliau. Tampak terlihat beliau memikul beban itu seorang diri. Beban terlalu berat, yang kemudian membuat beliau menceritakan beban itu kepada saya. Di sana, saya hanya diam saja mendengarkan beliau berbicara. Tidak etis rasanya jika saya memotong pembicaraan beliau. Saya tunggu beliau selesai bicara agar beban di benaknya sedikit berkurang. 

       Icha di rumah itu tinggal bersama ayahnya. Kakaknya Icha mondok di suatu tempat. Sore Icha ngaji, dan malam dia belajar. Pulang sekolah dia dititipkan ke rumahnya Avila. Ayahnya itu kadang pulang tidak menentu. Saya pribadi juga tidak tanya pekerjaan beliau apa. Saya memang saat itu terkesan untuk menunggu tahu, bukan mencari tahu. Jadi saya banyak diamnya saat itu. Tapi dari sini, saya memperoleh gambaran jelas kenapa Icha sulit menunjukkan potensi akademiknya di sekolah. Terkadang, saya perhatikan tingkah laku Icha juga kurang baik selama di kelas. Saya menduga itu semua karena kurangnya kasih sayang dari seorang ibu. Kendati demikian, saya melihat piagam penghargaan terpampang di dinding rumah Icha. Dia mendapatkan juara 2 lomba nasyid tahun lalu. 

       Singkat cerita, sekitar pukul 17:20 saya pamit ke ayahnya Icha. Ya beliau di mata saya baik dan ramah sekali. Itu semua bisa dilihat dari perlakuan dan tutur katanya terhadap saya. Saya di sana itu dijamu gorengan dan segelas air putih. Padahal saya sudah meminta beliau untuk tidak repot-repot menjamu saya. Apa jawab beliau? Beliau jawab "saya hanya ingin menghormati tamu saya." Jujur tersentuh saya mendengar itu. Saya pernah bertamu di rumah Bu de saya. Saya ke sana bersama keluarga. Bu de saya ini kepala sekolah di SD negeri yang ada di Jember. Sampai di rumah beliau, beliau  berkata "maaf di sini nggak ada apa-apa. Adanya cuma air putih." Lohh beda kan. Saya pernah menjenguk murid saya. Rumah dia itu besar dan berlantai dua. Sampai di sana ortunya bilang "maaf pak di sini tidak ada apa-apa, air putih saja cukup kan pak?" Saya pernah menjenguk murid saya di rumah sakit. Sampai di sana ibunya bilang "maaf ya pak di sini tidak ada apa-apa, adanya air putih saja." Mereka bertiga itu berpendidikan tinggi, tapi tidak tahu bagaimana cara memuliakan tamu. Berbeda dengan keluarga saya dan Icha. Di rumah saya itu tidak ada apa-apa, tapi begitu ada tamu ibu saya itu keluar cari kue atau sesuatu yang bisa dimakan. Itu semua dilakukannya sebagai bentuk memuliakan tamu. Ternyata di sini, pendidikan tinggi itu tidak bisa dijadikan tolak ukur kita dalam menilai seseorang. Waduh melebar sampai ke sini rupanya hahaha maaf ya kalau tidak koherensif tulisan saya. 

Postingan populer dari blog ini

Utopia Pribadi: Kebijakan Personal Vehicle Free Every Morning di Kreongan Kabupaten Jember Provinsi Jawa Timur

Kalau mau Ngasih, Kasih aja

Oh Jadi ini Biang Keroknya