Lanjutan Program Sabtuan: Berkunjung ke Rumah Aqila

       Kemarin saya pergi ke rumah murid saya bernama Aqila. Rumah dia terletak tidak jauh dari rumah sakit Dr. Soebandi. Sampai di rumah dia, saya disambut oleh kakek dan nenek Aqila. Tidak lupa saya juga disambut oleh Mareta, murid saya yang kebetulan rumahnya dekat dengan Aqila. Saya menyambut balik dengan ramah dan suka cita. Alhamdulillah kemarin cuacanya mendukung sehingga program Sabtuan ini dapat berjalan. 

       Tidak lama kemudian, masuk seorang laki-laki. Ternyata ia adalah ayahnya Aqila. Saya dan ayahnya Aqila ngobrol panjang lebar. Sehingga saya hanya memiliki waktu sekitar 40 menit untuk belajar bersama Aqila dan Mareta. Kami belajar bersama di ruang tamu, dan di sana ayah Aqila juga ikut duduk.  Dari awal sampai akhir, beliau itu selalu bercerita. Alhasil fokus saya terbagi di sini. Satu mendengar cerita beliau, satu saya juga harus memberikan pelajaran pada Aqila dan Mareta. Tapi saya tidak masalah sebenarnya. Karena memang tujuan utama saya adalah untuk menyelami dan mengetahui kehidupan Aqila. 

       Di sela-sela belajar, tiba-tiba muncul seorang anak. Di mana anak itu adalah kakaknya Aqila. Dia autis dan tuna netra. Datang ke ruang tamu lalu berteriak. Datang lagi, lalu duduk di dekat kami, dan berteriak. Neneknya menghampirinya dan berkata "ayo masuk ke dalam, ada mercon." Dalam hati saya "kasihan sekali anak itu." Ayahnya Aqila memberitahu kalau anaknya itu sekarang SMP kelas 1 dan sekolah di SLB yang terletak di kelurahan Bintoro. 

       Ayahnya Aqila cerita kalau beliau memiliki tiga anak. Anak yang pertama yang autis itu tadi. Anak kedua Aqila dan yang ketiga adiknya Aqila. Adiknya Aqila ikut ibunya Aqila. Ayahnya dan ibunya sudah lama bercerai. Kendati demikian, beliau masih menjaga komunikasi. Kadang, Aqila diantarkan ke rumah ibunya oleh ayahnya Aqila. Ya sekedar melepas rasa kangen katanya. Jujur, di sini ayahnya Aqila bagus dan tertata ketika berkomunikasi dengan saya. Jadi enak saja begitu didengar telinga. Beliau terus terang lebih mendominasi daripada saya. Dari sana semua, saya jadi tahu kalau dulu beliau pernah patah tulang tangan. Saya juga jadi tahu beliau pulang tidak menentu. Kadang malam jam 7 kadang jam 9. Sepulang sekolah itu, jadi yang menemani Aqila adalah kakek dan neneknya. Kami ngobrol panjang. Saking panjangnya nggak bisa saya taruh di sini semua. 

      Yang saya aprisiasi di sini adalah beliau sebagai wali murid sangat mendukung program saya, dan sangat kooperatif juga. Woh enak pokoknya ngobrol sama beliau ini. Ya walaupun di lain sisi, Mareta dan Aqila proses belajarnya kemarin sedikit terkesampingkan. Di sana, saya dikasih suguhan banyak sekali. Pertama saya dikasih roti dan wafer nabati. Minumnya teh. Keluarga Aqila sepertinya tahu kalau saya tidak minum kopi. Belum selesai, saya disuguhi es tebu. Begitu pulang, saya dikasih bakso. Ya Allah Alhamdulillah pulang kenyang saya. Beliau bilang kalau beliau senang sekali begitu rumahnya kedatangan guru. Begitu saya pulang, beliau itu menemani saya di luar rumahnya. 

       Banyak pelajaran hidup yang saya peroleh dari ayahnya Aqila. Orangnya asik sekali tapi kata-katanya penuh dengan pelajaran. Kata-kata yang saya suka dari beliau itu "saya sebenarnya kurang setuju dengan kata-kata bahwa hidup itu pilihan. Hidup itu dipilihkan bukan pilihan. Jujur, saya tidak ingin hidup seperti ini. Tapi Allah mau saya seperti ini ya sudah. Kenapa? Karena Allah tahu kalau saya ini mampu menerima ini semua. Orang lain kan belum tentu mampu. Makanya di Al Qur'an itu disebutkan kalau Allah tidak memberikan ujian di luar kemampuan hambanya." Terakhir "jangan pernah ngomong soal sabar kalau sama saya. Kalau yang ngomong sendiri belum pernah ada di posisi saya. Mereka nggak akan ngerti." Sekilas mirip kata-katanya pain Akatsuki ya. 

       Dari tulisan ini, saya mengajak diri saya pribadi dan pembaca untuk senantiasa bersyukur, karena di bawah kita masih ada yang hidupnya lebih sulit. Terus terang, kalau saya ada di posisinya Aqila tidak mampu saya. Apalagi ada di posisi ayahnya Aqila ya jelas tidak mampu. Beliau itu cerita ke saya bahwa beliau itu pernah jenguk orang sakit di rumah sakit dalam keadaan sakit. Kakinya mohon maaf pincang, dan tangannya patah tulang. Tapi lucunya ketika menceritakan itu beliau ketawa begitu. Saya doakan Aqila dan keluarganya selalu diberikan panjang umur, dimudahkan rezekinya, dikabulkan segala hajatnya, dan kesulitan hidupnya dikurangi, Aamiin .

Postingan populer dari blog ini

Utopia Pribadi: Kebijakan Personal Vehicle Free Every Morning di Kreongan Kabupaten Jember Provinsi Jawa Timur

Kalau mau Ngasih, Kasih aja

Oh Jadi ini Biang Keroknya