Mimpi Bertemu Gusdur Part III
Saya bermimpi bertemu beliau sudah tiga kali. Ketiga kalinya pada tanggal 30 Desember 2025. Saat itu saya tengah tidur siang dan bermimpi bertemu Gusdur. Yang saya sayangkan adalah saya tidak ingat perkataan beliau dengan jelas ketika bangun dari tidur. Terus terang, di sini saya bingung mau nulis apa.
Di dalam mimpi, ada banyak orang duduk lesehan tepi jalan di depan pagar beton rumah orang. Kami duduk di bawah pohon kecil yang cukup rindang. Kira-kira tinggi pohon itu satu meter setengah. Nah, alas duduk kami hanya tanah. Tapi di sisi-sisinya itu jelas cor-coran. Hanya tengahnya saja yang tanah. Kemudian itu tadi, ada pohon-pohon kecil tumbuh di area tanah tersebut. Kami ngobrol di sana. Ada saya, beberapa orang yang tidak saya kenal, dan juga Gusdur. Ada orang tanya ke Gusdur, oleh beliau dijawab. Ada lagi yang tanya, oleh beliau dijawab, begitu seterusnya. Hanya saja saya tidak ingat sudah. Di dalam mimpi saya ingat, setelah bangun jadi lupa apa yang Gusdur bicarakan.
Tiba giliran saya bertanya. Pertanyaan pertama saya ingat tapi gak masuk akal. Tapi sebelum bertanya saya sampaikan untaian kata ke Gudur sambil nangis. Saya nggak percaya ada seorang Gusdur bisa nongkrong duduk lesehan di tepi jalan. Saya ingat saya sambil nunduk dan nangis ketika ngomong ke Gusdur itu. Saya bilang "saya sangat mengagumi anda. Nggak percaya bisa bertemu anda di sini." Kurang lebih seperti itu ya mohon maaf ada bagian yang saya lupa. Nah, pertanyaan saya "Mengapa Islam sangat berkembang secara masif di Jombang dan Probolinggo? Jauh berbeda dengan Islam di Jember sini." Eh kira-kira seperti itu ya. Nggak jelas bukan? Pertanyaan kedua ini yang saya sesalkan. Saya bilang ke Gusdur "ada pertanyaan titipan dari teman saya untuk Gusdur." Gusdur tanya "apa?" Saya ingat-ingat dan akhirnya lupa. Saya bilang ke Gusdur sambil tebatah-batah "ehh apa ya lupa saya Gus, eh kamu ingat nggak?" (colek orang sebelah). Padahal saya nggak kenal sama orang di sebelah. Nah setelah itu saya terbangun dari mimpi.
Begitu bangun dari tidur, saya tidak lupa kirim Al Fatihah untuk Gusdur. Kemudian, saya duduk beberapa saat di atas ranjang sambil mengingat momen yang terjadi di dalam mimpi. Ternyata 90% saya lupa. Di dalam mimpi, saya itu ingat Gusdur berkata apa, lalu seseorang di sampingnya berkata apa saya ingat betul di dalam mimpi. Saya pun juga ingat bahwa saya banyak bertanya kepada Gusdur. Nah, begitu bangun di dunia nyata, saya jadi lupa isi dari perkataan Gusdur itu apa. Padahal itu kan yang penting. Saya hanya mengingat sedikit saja.
Tulisan ini, saya tulis pada tanggal 1 Januari 2026. Namun, saya sengaja mempublikasikannya sekarang. Kenapa? Saya ingin menunggu apa yang terjadi pada saya, itu saja. Karena selama ini, setelah saya mimpi bertemu Gusdur, Allah itu memberi ujian terhadap saya beserta keluarga. Jujur, ini adalah kali ketiga saya mimpi bertemu Gusdur. Setelah itu pasti ada ujian. Pertama mimpi Gusdur itu tahun 2019, antara bulan September - Oktober. Saya masih ingat saat itu saya sedang PPL 2. Tahun 2020 covid melanda. Bulan Februari 2020, kakek saya dirawat di rumah sakit. Bulan Oktober ayah saya opname di rumah sakit. Skripsi saya pun terabaikan. Saya lanjut di paragraf berikutnya.
Kedua, saya mimpi bertemu Gusdur itu awal tahun 2024. Di tahun itu saya mengikuti PPG. Tidak menunggu lama, di bulan yang sama, saya langsung dapat ujian. Saya ngajar di SDN Jember Lor 2 selama dua tahun lima bulan. Setelah dinyatakan lolos PPG, saya fokus ke PPG. Kepala sekolah sebelumnya berkata "Pak Galuh tidak resign, nanti kalau PPG nya selesai balik ngajar di sini lagi." Namun, dua Minggu kemudian, kepala sekolahnya ganti. Dan kepala sekolah yang baru tersebut mengatakan bahwa saya dan dua guru lainnya dinyatakan resign. Kalau mau melamar di sini lagi silahkan kata kepala sekolah yang baru tersebut. Jujur, saya saat itu sulit menerima fakta tersebut. Tapi mau bagaimana lagi karena itu di luar kendali saya. Saya sudah nyaman di sana. Lokasinya juga dekat dari rumah saya. Saya senang dan akrab dengan semua guru dan tenaga kependidikan di sana. Saya juga senang ngajar dan kenal siswa-siswi di sana. Tapi takdir berkata lain bagaimana lagi.
Untuk yang ketiga kali ini, saya sudah menunggunya kira-kira apa ya yang akan terjadi pada kami. Kalau ada yang terjadi, saya mau tulis. Begitulah plan di kepala saya saat itu. Minggu ini, nenek saya dirawat di rumah sakit. Sekitar satu Minggu setelah saya mimpi bertemu Gusdur, nenek jatuh sakit. Beliau terkena penyakit saraf sehingga di kamar beliau ngomong dan marah-marah sendiri. Semua perabotan rumah itu oleh beliau dirusak dan dihancurkan, kaca jendela pun hancur begitu. Dua Minggu kemudian akhirnya beliau dirawat di rumah sakit. Ada polisi, petugas dinsos, dan petugas rumah sakit yang menjemput beliau.
Sekarang, nenek ada di rumah kami. Beliau dirawat oleh saya dan keluarga. Di rumah kami, nenek duduk di atas kursi roda. Beliau kesulitan berjalan dan berbicara, sehingga saat ini masih menggunakan bahasa isyarat. Kesadarannya belum sepenuhnya pulih. Setiap malam, Bu de saya bermalam dan menemani nenek saya di sini. Kadang kalau Bu de berhalangan, ayah saya yang tidur di samping nenek. Bagi saya, ini adalah sebuah ujian. Kadang saya oleh nenek dipanggil. Setelah saya hampiri, nenek memeluk saya dengan erat sambil menangis. Setiap malam sekitar pukul 00:00, nenek itu masih ngomong sendiri. Beliau menyebutkan satu persatu yang pernah menyakiti hati beliau.
Dalam tulisan ini, saya tidak bermaksud menjelekkan nama Gusdur. Beliau itu adalah idola saya. Hanya saja, saya percaya bahwa Gusdur datang untuk memberi pesan agar saya dan keluarga sabar dalam menghadapi segala cobaan maupun ujian dari-Nya. Sayangnya di mimpi kali ini, saya hampir sepenuhnya lupa apa yang disampaikan Gusdur. Sampai sekarang pun, saya masih kecewa kenapa bisa lupa begitu.