Postingan

Menampilkan postingan dari Mei, 2026

Malas karena Isi Bensin?

       Tadi siang, ada teman sesama guru mau pinjam sepeda motor saya karena sepeda dia nggak bisa dihidupkan. Oke saya bolehkan dia pinjam sepeda saya. Tetapi saya bilang "sepeda saya tinggal sedikit bensinnya, minta tolong sekalian isi bensin ya. Uang bensin biar saya yang bayar." Pembaca tahu apa yang dia ucapkan setelah itu? Dia bilang "nggak jadi dah malas." Akhirnya, dia nggak jadi pinjam sepeda motor saya.         Mendengar "nggak jadi dah malas" saya sedikit merasa jengkel. Uang bensin kan ditanggung saya bukan dia. Lalu apa yang membuat dia malas? Dia pikir sepeda saya bahan bakarnya dari tenaga surya apa gitu ya. Pom bensin juga letaknya nggak jauh dari lokasi tempat kami bekerja. Lalu apa yang membuat dia malas? Nah ini adalah contoh orang yang mau enaknya sendiri ya teman-teman.        Jujur, sepeda motor saya itu bensinnya tinggal sedikit. Saya yang mau isi bensin tadi pagi terhalang dengan sakit perut. Akhirn...

Nasib Penjaga Bel Ujian: Aktor dibalik Suksesnya Ujian Kelas VI

       Dua hari sebelum asesmen sumatif akhir kelas VI, dilaksanakan sebuah rapat di sekolah. Di dalam rapat itu, saya oleh kepala sekolah diminta untuk mencari suara bel di YouTube lalu akan disambungkan ke monitor. Tapi jujur sulit mencari bunyi bel yang dimaksud. Singkat cerita, pembahasan mulai ke teknis bel. Karena terus terang saja bel di sekolah kami itu otomatis. Dan bunyi belnya tidak seperti bunyi bel ujian. Ya bunyi "saatnya jam pertama..." Kepala sekolahnya maunya bel bunyi "tettttt....." Nah, nyari bel seperti itu yang dapat bunyi satu kali, dua, tiga, hingga empat kali sulit. Karena saya nyarinya di YouTube. Singkat cerita, hari Minggu itu saya download aplikasi bel di play store. Alhamdulillah sesuai dengan permintaan kepala sekolah. Hanya saja, cara membunyikannya adalah menyalakan aplikasi bel di hp, lalu hp didekatkan ke mic sekolah supaya suara kedengaran dengan keras dan jelas.         Di dalam rapat, kepala sekolah memint...

Tidak Ada yang Memberitahu Sesulit itu Menjadi Guru Honorer

       Jujur saja, nggak ada orang yang ngasih tahu saya betapa sulitnya jadi guru honorer. Kalau dari awal saya tahu, jujur saya nggak akan mau jadi guru honorer. Di samping gaji rendah, kepastian untuk diangkat jadi PNS atau PPPK itu belum jelas. Dengan kata lain, kesejahteraan hidup seorang guru honorer di negeri ini amat mengkhawatirkan. Kadang saya kesal melihat mahasiswa baru lulus, lalu jadi guru honorer gayanya petantang-petenteng. Nasib jenjang karirmu itu belum jelas batin saya.         Zaman saya SMA, guru saya pernah berpesan di kelas "setelah lulus SMA, kuliah ngambil jurusan pendidikan sejarah. Karena guru sejarah sekarang langka." Baik, saya akui itu benar apa adanya. Tapi di sini poin pentingnya adalah sang guru tidak memberitahu kami bahwa untuk menjadi guru itu ada tingkatannya. Tingkatkan terendah adalah Wiyata bakti atau guru honorer tidak tetap yang mengajar di sekolah. Gajinya juga miris teman-teman karena sumber gajinya...

Nanyanya pada Siapa yang Jawab Siapa

       Saya itu paling kesal kalau ada orang tanya pada seseorang, orang lain ikut jawab. Pembaca pernah nggak merasakan itu? Jujur saja kesal sekali saya dengan hal itu. Seperti dulu misalnya, saya tanya materi pada dosen, mahasiswa lain ikut bantu menjelaskan kepada saya. Padahal saya sendiri paham maksud dosen itu seperti apa. Yang parah itu pas PPL PPG kemarin. Guru pamong berbicara pada saya. Beliau belum selesai menyelesaikan kalimatnya, tiba-tiba ada teman saya yang ikut bantu menjelaskannya. Sering pas PPG saya temui hal semacam itu. Jatuhnya itu seperti merendahkan saya. Dikira saya nggak bakal paham apa maksud beliau dalam benaknya.       Contoh lagi tadi pagi, saya tanya pada guru A. Guru B ikut jawab, padahal nggak saya tanya. Nada bicaranya juga saya kurang suka. Setelah itu langsung pergi saja saya. Kesal sekali begitu saya. Itu kan hal-hal dasar yang seharusnya dapat dimengerti begitu. Kalaupun guru A tidak tahu jawabannya, saya kan bisa...

Sesepuh yang Aktif di Masjid tinggal Satu

       Jujur, hari ini adalah momen paling menyedihkan bagi saya. Hari ini, saya ditinggal selama-lamanya oleh pak de Sumitro. Beliau adalah sesepuh yang aktif adzan dan sholat berjamaah di masjid. Terus terang saja saya merasa belum ikhlas begitu. Kini di masjid tempat tinggal kami, sesepuh yang aktif tinggal satu yaitu pak Mistari seorang.         Hari Kamis saya tengah rebahan di rumah. Ibu saya masuk rumah lalu berkata "pak Mitro sekarang nazak, coba sana lihat." Mendengar itu, saya langsung bangkit dari tempat tidur. Jujur saja, badan saya gemetar. Saya ke rumah pak Mitro ditemani oleh adik saya. Sampai di sana, saya tak kuasa melihat kondisi beliau. Saya pegangi tangan beliau. Tidak lupa, saya doakan beliau. Terus terang, saya takut sekali melihat keadaan beliau. Saya belum siap beliau meninggalkan saya selamanya. Saya menemani beliau di kamar kurang lebih satu jam. Lalu setelah itu saya pulang.        Keesokan harin...