Postingan

Pak Su: Sosok Tua Penjual Semangka Di Depan Toko Emas

"usiamu sudah senja, kenapa engkau masih bekerja? Badanmu sudah tidak kuat, istirahatlah di rumah saja. Pendengaranmu dan penglihatanmu tidak lagi optimal, istirahatlah di rumah saja. Istrimu telah lama meninggal dunia, dan anakmu telah berumah tangga. Siapa lagi yang mau kau nafkahi? Istirahatlah pak. Pak Su semoga Allah senantiasa menjagamu dan melancarkan rezekimu"       Setiap saya mengantarkan ibu saya ke toko emas, saya selalu melihat sosok orang tua menjual semangka di depan toko emas tersebut. Tubuhnya yang tidak lagi muda, membuat saya iba kepadanya. Karena bagi saya, beliau tidak pantas ada di pinggir jalan demi mencari nafkah. Di usia senjanya, beliau seharusnya istirahat di rumah, bukan malah mengais rezeki. Satu lagi yang membuat saya kasihan adalah, beliau menjual dagangannya di tempat yang kemungkinan orang beli dagangannya tipis sekali. Seharusnya beliau kalau ingin menjual semangkanya itu di dekat pasar, bukan di depan toko emas dan di dekat jembatan. Di ...

Sebuah Usulan: Bagaimana Jadinya Jika Kemerdekaan NKRI Disambut dengan Program Indonesia Tempo Kolonialisme Dulu

       Dalam memperingati hari kemerdekaan NKRI,  kerap sekali diadakan berbagai macam lomba. Ada yang namanya lomba balap karung, makan kerupuk, memasukkan paku dalam botol, lari kelereng, dan lain sebagainya. Hal itu dilaksanakan bukan tanpa tujuan semata. Tentu dibalik semua itu ada tujuannya. Salah satu tujuannya yang saya tahu adalah meramaikan dan memeriahkan hari jadi kemerdekaan NKRI. Namun yang terpenting adalah kegiatan atau lomba tersebut mampu menanamkan nilai-nilai perjuangan, patriotisme, dan nasionalisme. Pertanyaannya, apakah lomba-lomba tersebut dapat memupuk semangat juang? Apakah dapat menanamkan nilai-nilai perjuangan dan nasionalisme? Kalau cuma sekedar ikut lomba begitu ya sama saja. Tidak ada goal yang tersirat kan berarti.        Berdasarkan uraian di atas, saya bertanya-tanya, apakah mereka yang mengikuti serangkaian lomba itu betul-betul dapat meresapi nilai-nilai perjuangan? Saya rasa tidak ada itu, asal berpartisip...

Gitu Saja Kok Repot

       Barusan saya mengantarkan adik sekaligus sepupu mengumpulkan tugas di sekolahnya (SMPN 10 Jember). Begitu selesai dikumpulkan, setelah itu langsung pulang. Persiapan mulai dari bangun tidur sampai pergi ke sekolah, membutuhkan waktu hampir satu jam. Begitu mengumpulkan tugas, tidak sampai memakan waktu satu menit. Tugasnya diserahkan ke gurunya, setalah itu pulang sudah. Untungnya jarak rumah ke sekolah hanya 500 meter saja. Menurut anda ini mempermudah atau mempersulit? Menurut saya mempersulit.         Di tengah-tengah canggihnya teknologi, kenapa guru tidak meminta siswanya mengirim tugasnya via email, wa (umumnya), atau yang lain? Menurut saya itu mempermudah siswa sekali. Saya bertanya-tanya "terus apa gunanya smartphone?" begitu. Buang saja smartphonenya. Kalau ada yang mudah, kenapa minta yang susah. Kasihan siswanya yang jalan kaki itu loh.          Repot sekali menurut saya. Haduh tugasnya loh tidak sa...

Tadi Sore

       Sore tadi pukul 16:30 WIB, saya pergi ke pom bensin. Setelah itu mampir beli spirtus di apotek. Kemudian diajak adik beli cilok di depan apotek tersebut. Nah, ada kejadian lucu saat saya membeli cilok tadi.        Di tengah-tengah antre, tiba-tiba ada seorang ibu-ibu yang mendahului antrean. Beli cilok cuma tiga ribu songongnya kelewatan. "mas mas cilok campur, tahunya enak gak itu mas? gorengannya sedikit mas, kuahnya jangan banyak-banyak, hoops hoops mas kebanyakan kurangi mas" tai kucing lah. Yang membuat saya tertawa adalah ibu tersebut mengambil bumbu kacang di tempat yang jauh dari jangkauan dia, padahal di dekat dia bumbu kacang sudah tersedia. Batin saya " apa beda rasanya ya? Kan sama-sama bumbu kacang". Haduh alaynya itu loh kebablasan. "mas-mas talikan ciloknya". Ditali sendiri kan bisa ya Allah.         Kemudian ada mas-mas disamping saya beli cilok. Setelah dilayani ternyata masnya tidak mau membayar. M...

Nia Ramadhani Tidak Bisa Mengupas Buah Salak?

      Tatkala saya sedang berada di kamar, tidak sengaja mendengar berita di televisi bahwa ada sosok artis bernama Nia Ramadhani yang tidak bisa membuka buah salak. Karena saya di dalam kamar, saya tidak tahu program tv apa yang sedang berlangsung, entah patroli, Kiss (kisah seputar selebriti), atau yang lain. Saya yang mendengar itu hanya bisa kaget sambil tertawa saja "kok bisa ya?" Ibu saya yang menonton tv berkata "barangkali saking kayanya sosok artis tersebut, sampai lupa cara membuka salak"         Bagi saya ini adalah sebuah hal lucu begitu. Siapa yang tidak tahu buah salak? Untuk mengelupas buah tersebut kita hanya memerlukan tangan saja kok. Gak perlu menggunakan pisau atau menyuruh ajudan/asisten rumah tangga segala. Jadi bingung saya dengan dunia ini. Apa jangan-jangan bukan Nia Ramadhani saja yang tidak bisa mengelupas buah salak? Saya juga tidak tahu. Hal ini mengingatkan saya akan program tv bernama Tukar Nasib.       ...

Penagih TV Kabel VS Penagih Wi-Fi

       Kemarin malam, ada penagih Wi-Fi datang ke rumah kami. Mengetahui itu, ibu saya mengambil uang untuk bayar tagihan Wi-Fi bulan ini. Awalnya ibu sempat bingung kenapa mas-masnya nagih Wi-Fi tidak seperti biasanya. Biasanya mereka menagih pada akhir bulan sedangkan ini belum masuk akhir bulan begitu. Setelah ibu memberikan uang tagihan Wi-Fi kepada mas-masnya, mereka bilang bahwa kedatangan mereka kemari untuk memberitahu bahwa tagihan Wi-Fi bulan Juni kemarin gratis. Hal itu disebabkan karena pada Bulan Juni kemarin, Wi-Fi-nya sering gangguan. Nah, kejadian ini sontak mengingatkan saya akan penagih TV kabel. Mau TV gangguan, tayangan sepak bola tidak ditayangkan, rutin sekali nagih uang TV kabel.           Melihat dari nominal tagihannya, tagihan TV kabel sebesar Rp 25.000 dan Wi-Fi sebesar Rp 100.000. Lebih besar tagihan Wi-Fi bukan? Yang menarik disini adalah penagih Wi-Fi membebaskan uang tagihan kepada kami. Padahal Wi-Fi kami ...

Ngaku-Ngaku dapat Tugas Magang dari Kampus: Seorang Pemuda Jualan Kapur Barus, Bulpoin, dan Kanebo

Gambar
        Hari Rabu kemarin, rumah kami kedatangan sosok pemuda yang menjual dagangannya. Dia menjual tiga jenis barang; bulpoin, kapur barus, dan kanebo. Dia menjual barang dagangannya dengan jalan kaki, dari rumah ke rumah begitu. Nah, yang membuat kami tidak habis pikir adalah dia mengaku mendapat tugas Magang dari kampusnya. Saat itu dia mengaku mendapat tugas jualan dari Universitas Muhammadiyah Mataram.          Kemudian dia mengaku kalau dagangannya tidak terjual semua, dia akan mendapatkan nilai jelek dari kampusnya, kan lucu itu. Sekarang pertanyaannya adalah kampus mana yang tega menyuruh mahasiswanya jualan sendiri jalan kaki begitu? Selain itu, jaraknya jauh juga, dari Mataram ke Jember. Kalau sama-sama jualan, kenapa gak diberi tugas untuk jualan di Mataram saja, kan enak dekat. Kenapa harus jauh-jauh sampai Jember? Itu sudah beda pulau loh. Kalau memang dapat tugas seperti itu dari kampus, harusnya dia menyertakan sura...