Postingan

Apakah Sifat Saya Terlalu Berlebihan?: Menolak Gadis SMA yang Ingin Les Privat Bahasa Inggris

       Pengalaman ini terjadi sekitar tiga bulan lalu, saat dimana saya menolak tawaran wali murid yang hendak mendaftarkan anaknya les privat bahasa Inggris dengan saya. Dari pengalaman tersebut, membuat saya  terngiang-ngiang hingga sekarang. Kadang saya berpikir dan bertanya pada diri sendiri apakah saya ini kejam ya? Apa sikap saya ini sudah keterlaluan ya? Hingga tega menolak tawaran wali murid untuk mendaftarkan anaknya les privat bahasa Inggris kepada saya. Padahal niat sang wali murid tersebut baik. Yakni bertujuan supaya anaknya bisa dalam bahasa Inggris.          Awalnya wali murid tersebut menemui saya dan ingin anaknya yang masih kelas 5 SD les privat ke saya. Saya terima tawaran itu. Tidak selang beberapa lama, wali murid tersebut juga ingin anaknya/kakaknya anak kelas 5 tadi yang sudah SMA kelas 2 les bahasa Inggris ke saya. Jujur saya bingung awalnya. Bagaimana mungkin dua siswi yang berbeda jauh usianya digabung jadi satu...

Bertemu Alien di Warung: Terjebak Dalam Sebuah Percakapan Kosong

       Pagi tadi, saya berangkat ke sekolah tanpa membawa bekal. Itu dikarenakan ibu saya tidak bisa menyiapkannya lantaran akan mengantarkan kakek saya kontrol ke dokter. Ibu saya menyarankan supaya saya beli di kantin sekolah. Sebagai orang yang berposisi sebagai guru, jujur saya malu jika harus beli makan di sekolah. Kalau ditanya kenapa, saya juga tidak tahu. Satu alasan yang bisa diterima akal saya adalah belum pernah sama sekali beli makan di sekolah. Karena selama mengajar di sekolah, saya selalu membawa bekal dari rumah.        Sebetulnya kurang pas kalau saya sebut kantin sekolah ya, lebih tepatnya orang yang jualan nasi itu istrinya petugas di sekolah kami. Rumahnya berada persis di dalam area sekolah. Hanya saja letaknya di belakang sendiri/ sembunyi. Saya saja baru tahu kalau beliau ternyata jualan nasi, jujur. Karena tidak tahu tadi, saya pernah membeli makan di sebuah warung yang bisa dikatakan makanannya enak dan tempatnya bersih be...

Fenomena Lucu: Soal PTS PAI yang Tak Serasi

       Entah apa yang ada di benak guru PAI, sampai membuat soal yang memakan kertas banyak. 10 lembar kertas bayangkan. Saat rapat kemarin kemana saja beliau? Padahal saat rapat sudah dijelaskan bahwa format soal untuk kelas rendah adalah isian (titik-titik) dan berjumlah 20 soal sedangkan kelas atas isian 25 soal. Tetapi ini ada soal PAI pilihan ganda dan berjumlah 50 soal terdiri dari 8 hingga10 lembar. Kacau guru PAI yang satu ini.         Guru PAI tersebut memegang tujuh kelas. Masing-masing kelas terdiri dari 28-35 siswa. 35 siswa itu yang kelas 6. Dikali saja sudah berapa lembar kertas yang terbuang sia-sia. Sayang sekali, kertas-kertas itu juga nantinya bermanfaat untuk mencetak sesuatu yang lain, tidak hanya untuk soal PAI itu saja.  Padahal kalau memang mau diedit soal itu menjadi sedikit lembarannya bisa. Tetapi sudah terlambat karena soal sudah tercetak. Pak Guntoro datang menemui saya sambil mengeluh soal PAI paling banyak sendir...

Sang Pahlawan Cilik di Garis Lampu Merah Bhayangkara

       Ini adalah fenomena yang menyentuh hati saya. Secara tidak langsung mengingatkan saya akan murid-murid saya. Karena usia murid-murid saya tidak jauh berbeda dengan anak-anak yang berjualan di dekat lampu merah Bhayangkara.         Suatu hari, saya pergi bersama ibu saya membeli kasur sekitar pukul 12:30 bada dhuhur. Setelah melewati lampu merah Bhayangkara, saya melihat anak-anak jualan aneka snack. Sekilas saya perhatikan mirip makaroni snacknya. Tetapi bukan itu yang membuat saya salut. Yang membuat saya salut adalah kegigihan mereka dalam berjualan. Jujur demi Allah, saat itu terik sekali sinar mataharinya. Di depan lampu merah itu saya ngeluh saking panasnya. Karena panasnya berbeda dari sebelumnya.         Sekitar pukul 14:00 saya melewati lampu merah Bhayangkara kembali dan tak terlihat sosok anak-anak yang menjual snack tadi. Tidak tahu, fenomena itu mengingatkan saya kepada murid-murid saya khususnya ya...

Penjual Tak Jujur: Senyumin Saja

       Sepulang sekolah tadi sore, saya lapar sekali. Saya berencana untuk membeli makanan di warung depan. Saya sengaja beli lauk pauknya saja karena saya masih memiliki persediaan nasi di tupperware saya.         Begitu saya tiba di warung, penjual langsung bertanya "pegawai RS Paru ya?" Saya jawab "bukan, saya ngajar di depan sekolah sini". Lanjut, saya minta beli lauk pauknya saja. Penjualnya tanya "pecelan?" Saya jawab "iya sudah". Trik licik dari penjual disini adalah dia tidak menanyakan saya mau beli lauk pauk berapa. Dua ribu, tiga ribu, atau lima ribu? Penjual langsung memasukkan lauk pauk di dalam kertas minyak begitu saja.         Mengetahui akan hal itu saya tersenyum saja. Saya bilang saya beli lauk pauknya tiga ribu. Iya jawab penjualnya. Kalau saya tidak bilang begitu, khawatirnya nanti akan dicekik saya. Lima ribu langsung begitu. Ini adalah trik licik penjual. Seharusnya sebelum melayani saya, ditany...

Konsultasi Masalah Jam Mengajar: Membingungkan dan Dibingungkan

       Mengawali PTM di tengah wabah covid, benar-benar menyibukkan saya sekali. Salah satu kesibukan yang dimaksud ialah dalam menentukan jam mengajar. Untuk itu, guru kelas maupun mapel harus negosiasi dan berkonsultasi terkait dengan masalah jam mengajar. Dari sekian banyak guru, hanya ada satu guru yang menurut saya ribet sekali begitu. Hal itu sedikit menimbulkan gelak tawa dan kesal.        Tidak ada yang salah dari beliau di mata saya. Beliau aktif bertanya dan berkonsultasi kepada saya. Saya sudah katakan bahwa saya mengikuti arahan beliau saja. Berulang kali saya mengatakan itu. Tetapi beliau justru meminta pendapat saya. Manakala saya memberi pendapat, beliau salah paham terus dengan saya. Terlebih, diksi yang digunakan beliau dalam berbahasa salah menurut saya. Kalau bukan saya, mungkin orang yang diajak bicara akan emosi.          Semua mapel termasuk bahasa Inggris sudah ditentukan jadwalnya semenjak awal saya...

Kemenangan Yang Berarti

Gambar
      Hari Senin malam, saya mengajak Randika, tetangga saya untuk joging esok pagi hari, mengingat esok hari libur. Sejujurnya saya tidak memiliki teman untuk diajak joging semenjak kakek saya dioperasi. Biasanya di pagi hari saya selalu joging dengan kakek saya di sebuah perumahan bernama Bernady Land. Nah, alasan saya mengajak Randika joging karena saya melihat dia tengah joging saat saya pulang mengantarkan ibu saya dari pasar. Enak begitu kalau saya ajak dia joging bersama saya.        Saat saya chat Randika, dia awalnya mau kemudian tiba-tiba sempat menuda karena esok katanya dia mau puasa. Mendengar itu, sontak saya bertanya-tanya puasa apa kok di hari Selasa. Setelah itu, dia menunda puasanya lagi. Katanya puasanya masih hari Rabu, bukan besok Selasa.         Singkat cerita, saya masih bertanya-tanya mau puasa apa Randika itu. Tidak hanya itu, saya juga melihat di salah satu status teman saya, agar supaya ki...