Postingan

Rapat Tahi: Berasa Jadi Daun Kemangi di Atas Hidangan Lalapan Lele

Gambar
       Hari Sabtu, tanggal 12 Agustus 2023, saya berada di Bandung. Sabtu malam, sekitar jam 20:30, posisinya saya sudah ada di dalam ruangan. Ruangan tersebut dijadikan tempat bagi semua guru untuk mengikuti jalannya acara lepas pisah dengan kepsek SD kami yang lama. Alhamdulillah acara berlangsung khidmat dan lancar. Di tengah-tengah jalannya acara, saya mendapat pesan dari Ustad Santoso, ketua takmir di masjid kami. Isi pesannya sebagai berikut;         Saat menerima pesan itu, saya bingung mau membalas apa. Akhirnya saya hanya read saja. Rencananya mau saya balas nanti saja. 30 menit kemudian, ustad Santoso chat lagi. Saya merasa kesal, akhirnya saya balas "nggih mas". Balasan chat saya tersebut tidak dimaksudkan untuk menjawab pertanyaan apakah saya mau jadi sekretaris, melainkan merespon ajakan beliau yang meminta saya untuk hadir rapat pada malam Selasa. Kalau pertanyaan kedua yang berisi tentang ajakan untuk menjadi sekret...

Mahasiswa yang Sombong dengan Nama Kampusnya

       Belum lama ini, saya pernah menulis tentang mahasiswa sombong yang mengenakan almamaternya di atas gerbong kereta api. Nah, sekarang ada lagi yang baru, ada mahasiswa sombong yang mengenakan kemeja kampusnya di acara jalan sehat di lingkungan RT kami.  Perbedaannya adalah saya tidak merasa terganggu dengan mahasiswa yang mengenakan almamaternya di atas gerbong kereta. Tetapi saya terganggu dengan mahasiswa yang mengenakan kemeja bertuliskan nama kampusnya di acara jalan sehat tersebut. Maksud saya untuk apa begitu. Tidak punya pakaian lain apa? Kalau tidak punya, kemarilah saya kasih.         Yogi Raya Pangestu, merupakan pemuda dari lingkungan RT kami. Dia juga merupakan mahasiswa prodi ekonomi syariah, fakultas ekonomi, Universitas Jember. Tidak apa-apa sudah, saya cantumkan nama asli dia di blog saya. Supaya dia diketahui orang bahwa dia adalah mahasiswa dari Universitas Jember. Kan itu yang dia mau. Ya sudah saya wujudkan di s...

Alien Mengaji di Depan Kamar Perawat Wanita

       Sekitar pukul 03:30 WIB, saya menuju ke musholla yang terletak cukup jauh dari kamar ibu saya. Saat menelusuri sebuah lorong rumah sakit, tampak dari luar jendela saya melihat banyak perawat atau petugas medis yang sedang istirahat. Saya saat itu berpikir "mereka pasti kelelahan karena seharian non stop bekerja terus."                  Di tengah-tengah perjalanan, saya kemudian mendengar suara orang yang sedang melantunkan ayat suci Al-Qur'an. Dan benar, begitu saya jalan belok ke kanan, ada seseorang yang membaca Al-Qur'an melalui layar ponselnya tepat di depan ruangan tempat para perawat dan petugas medis istirahat tadi. Mohon maaf yang jadi masalah di sini adalah pertama dia mengaji di waktu dan tempat yang menurut saya tidak pas. Kedua, volume suara dia terlalu besar, sehingga terdengar walaupun dari kejauhan. Khawatir, volume suara yang keras tersebut terdengar dan menggangu perawat dan petugas medis yang tenga...

Kenapa Saya Sendiri yang Bayar Tujuh Ribu?

        Walaupun status saya bukan guru PNS atau P3K, saya tetap pulang mengikuti jam dinas, yaitu jam 14:00 WIB. Sebetulnya, banyak guru yang meminta saya untuk pulang ketika murid dari kelas tinggi pulang, namun saya menolaknya. Ini sudah menjadi prinsip kerja saya. Prinsip kerja saya adalah saya harus datang ke sekolah lebih awal dari kepala sekolah dan saya harus pulang lebih akhir dari beliau.          Pulang jam 14:00 WIB, membuat saya sering merasa lapar di siang hari. Hal itu memaksa saya mau tidak mau untuk beli makanan. Biasanya, saya membeli makanan di rumah Bu Nyoto, seseorang yang rumahnya dekat dengan area sekolah. Selain jaraknya dekat, harganya juga terjangkau, yakni satu porsi nasi pecel dijual seharga enam ribu rupiah. Harga segitu kita sudah bisa dapat lauk yang banyak seperti; dadar jagung, tempe goreng yang dipotong kecil-kecil, tahu kocek, mie telur, dsb.         Awal membeli nasi di rumah Bu Nyo...

Mahasiswa Mengenakan Almamater Kampus di Atas Kereta Api

       Beberapa hari yang lalu, sepupu saya yang juga seorang mahasiswa menggerutu di hadapan saya. Dia tiba-tiba bertanya dengan nada sedikit kesal ke saya "kenapa ya mas, mahasiswa mengenakan almamater kampusnya tatkala naik kereta api? Supaya apa itu ya kira-kira?" Saya respon "ya tidak tahu. Pemandangan seperti itu memang kerap sekali saya jumpai di stasiun. Tetapi saya tidak menemukan jawaban kenapa mereka mengenakan almamaternya saat naik kereta api." Sepupu saya lalu berkata "gini mas, saat kita mengenakan almamater kampus. Orang di atas gerbong akan mengetahui bahwa kita adalah mahasiswa. Pandangan orang terhadap status mahasiswa itu kan tinggi sekali. Orang -orang di atas gerbong akan beranggapan bahwa mahasiswa itu adalah kaum terpelajar dan intelektual. Nah, khawatirnya begitu ditanya-tanya, mahasiswa tersebut tidak bisa jawab kan malu mas. Saya tidak melarang mahasiswa untuk memakai almamaternya di atas kereta. Bagus juga itu, mungkin sebagai bentuk...

Dikira Sedang Menjaga Kehormatannya, Gak Tahunya Sudah Punya Pacar

       Dua tahun lalu, saya melakukan dakwah tentang pacaran di grup wa. Ya bisa dikatakan dakwah tersebut berisi amar makruf nahi munkar lah. Saya mengawali dakwah saya dengan cara chat pribadi member dalam grup tersebut. Siapa saja yang terlihat chat di grup, saya chat begitu. Perlu diketahui, member dari grup ini adalah remaja. Alasan saya melakukan dakwah ini sebab saya stress dan depresi setelah mendapatkan ilmu laduni. Karena sebelumnya saya pernah mencoba belajar mengenal apa itu cinta, wanita, dan pacaran. Saya mempelajarinya menggunakan rasio dan empiri orang lain. Metodenya belajarnya adalah dialog. Metode ini pernah dicontohkan oleh Socrates untuk mencari kebenaran. Sayangnya saya gagal dalam mengetahui ketiga hal tersebut. Akhirnya saya coba tempuh dengan jalur tasawuf, seperti layaknya imam Al Ghazali. Saya perbanyak dzikir, mendekatkan diri kepada Allah, sholat malam, dst. Dari itu, saya mendapatkan ilmu laduni. Bukan gembira setelah mendapatkan ilmu te...

Mengambil Pelajaran dari Kasusnya Bapak M

Gambar
       Minggu lalu, saya menjemput adik saya di sekolahnya. Saya menjemputnya jam lima sore karena dia mengikuti latihan paskibra. Di tengah-tengah perjalanan, tiba-tiba dia memberitahu saya bahwa pak M telah dipecat secara tidak hormat dari sekolahnya. Mendengar itu saya kaget dan langsung bertanya "kenapa pak M bisa dipecat?" Adik saya bilang "saya ceritakan di rumah nanti saja sudah." Di tengah jalan saya juga sambil bertanya-tanya pada diri saya sendiri, apa ya kira-kira penyebabnya pak M dipecat dari sekolahnya.            Begitu sampai di rumah adik saya berkata "kasihan loh anaknya sampai trauma mas." Mendengar itu saya langsung menebak dengan bertanya "pak M melakukan pelecehan seksual ya dik?" tanya saya. "iya" jawab adik saya. "Padahal pak M itu loh ngajarnya enak, ke anak-anak juga ramah" sambungnya. Saya tanya lagi "kamu dapat info itu dari siapa?" Dia jawab "dari pak A (pembina paskibra)" Saya ...