Postingan

Menampilkan postingan dari September, 2025

Oh Jadi ini Biang Keroknya

       Kemarin, kelas saya dipindah sementara karena ada perbaikan lantai. Kelas saya dipindah pas di depan koperasi depan. Ketika istirahat, saya iseng masuk ke dalam koperasi. Di sana saya melihat aneka macam jualan orang-orang termasuk salah satunya adalah jeli. Melihat itu saya jadi berpikir "oh rupanya ini yang jadi biang keroknya."        Sebelumnya, tidak ada yang jualan jeli selain saya di sekolah. Jualan ibu saya selalu laku setiap harinya. Bawa jeli 50 selalu laku tidak pernah tidak laku. Namun, saya menaruh jeli saya di koperasi belakang, bukan di koperasi depan. Sehingga saya tidak tahu jika memiliki saingan dagang.        Dua Minggu sejak berjualan jeli, saya  menemukan ada yang mengikuti saya jualan jeli juga di koperasi belakang. Bedanya punya saya ditaruh di dalam cup, sedangkan jeli dia diletakkan di semacam wadah lalu diberi stik ice cream. Penjaga koperasinya bilang ke saya "orang ini mesti kalau jualan ...

Ini Acaranya Siapa sih?

Gambar
       Tanggal 13 September kemarin, takmir masjid kami mengadakan acara maulid nabi. Acara tersebut rutin setiap tahun dilaksanakan di sini. Untuk acara tahun ini, panitia PHBI mengusung konsep simple. Konsep simple yang dimaksud di sini akan penulis terangkan di paragraf selanjutnya. Tapi, konsep tersebut justru dirusak oleh seseorang yang ingin numpang tenar tuh. Sebut saja orangnya adalah ketua RT kami sendiri.         Setiap bulan, tepatnya di Minggu pertama pada malam Rabu, di tempat kami selalu diadakan rapat pertemuan takmir. Di dalam rapat itu, dibahas poin-poin penting seperti acara maulid nabi contohnya tuh. Nah, bulan lalu kami berkumpul untuk membahas persiapan maulid nabi dan masalah sertifikat masjid. Dalam bahasan soal persiapan maulid nabi, ketua PHBI sebut saja pak Nurhadi sudah memiliki konsep yang bagus namun masih mentah. Masukan demi masukan muncul dalam rapat itu sehingga kami sedikit lebih jelas menemukan gambaran kons...

Ngambil Untungnya yang Wajar Sedikit dong

       Selain menjadi guru, saya juga aktif berjualan di koperasi sekolah. Saya jual jeli dan coklat. Dari berjualan di koperasi itu, saya jadi tahu varian harga dagangan yang lain. Ada satu hal yang membuat saya kesal di sini, yakni penjual yang lain menjual jajanannya dengan harga yang tak wajar.         Sebut saja contohnya latiau, sejenis jajajan China karena bungkusnya ada tulisan mandarinnya. Di toko dekat rumah saya itu harganya seribuan. Di koperasi dijual dua ribu. Kerupuk yang lazim dijual lima ratusan, di koperasi dijual seribuan. Yoghurt yang biasanya di toko rumahan dijual dua ribuan, di koperasi dijual tiga ribuan. Sejenis susu cimory yang biasanya harganya dua ribu dijual tiga ribu. Jujur saya merasa kesal dengan itu.         Saya itu jual jeli di koperasi. Jeli saya itu nutrijel. Dikemas dalam bentuk cup plastik kecil lengkap dengan tutupnya. Lalu masih dilengkapi dengan sendok plastik kecil. Terakhir ...

Tahu gitu Nggak Saya Sapa

       Tulisan ini sengaja saya tulis sebagai balasan lanjutan dari judul tulisan sebelumnya. Judul tulisan sebelumnya membahas tentang kekaguman penulis terhadap saudara non muslim. Penulis pribadi juga menginginkan agar saudara seiman penulis dapat mencontoh perilaku baik dari saudara non muslim penulis maksud. Tetapi justru yang terjadi sulit penulis temui saudara seiman yang membuat penulis kagum. Oke kalau saudara non muslim tidak pernah berhenti membuat penulis kagum, kalau saudara sesama muslim tidak pernah berhenti membuat penulis kecewa. Contohnya pas saat acara maulid nabi Muhammad tanggal 13 September kemarin.         Sebelum acara dimulai, rombongan RT 2 datang dan masuk ke dalam masjid. Salah satu di dalam rombongan tersebut ada wali murid saya. Beliau tampak tahu keberadaan saya, namun saya diam saja. Ya biar lah kalau dia mau nyapa dulu silahkan. Saya nggak mau nyapa dulu karena tahu pasti balasannya jelek. Hati membisiki saya ...

Saudara Non-Muslim tidak pernah Berhenti Membuat Saya Kagum

       Hari Jumat kemarin, saya ngajar les di kediaman saya. Waktu masih terlalu awal, murid saya datang ditemani oleh ayahnya. Saya bilang "waduh pak saya masih belum siap apa-apa. Terlalu awal datangnya jenengan ini pak." Bapaknya jawab "ngapunten nggih pak (sambil membungkuk dan meletakan tangan di dada), kalau kemalaman nanti takut hujan pak." Bapak tersebut adalah seorang pemeluk agama kristen.       Dalam tulisan ini, yang menjadi perhatian saya bukan agamanya. Tapi etika dan sopan santunnya. Jujur, saya kagum begitu. Di lain sisi, saya juga merasa iri. Kenapa saudara seiman saya perilakunya tidak seperti bapak tersebut ya. Ya saya yakin ada tapi belum ketemu saja yang perilakunya seperti wali murid saya tersebut.        Jujur teman-teman, saya tidak tahu kenapa orang kristen tidak pernah berhenti membuat diri saya kagum. Bapak tersebut adalah orang berada. Profesinya sebagai dokter. Dokter sungguhan bukan dokter-dokteran...

Ada Guru Malu Baca Teks di Layar

       Tadi, kami ada acara pelatihan pembelajaran mendalam di universitas Islam swasta di Jember. Acara tersebut dihadiri oleh guru kelas 4-6 SD se-kecamatan Patrang. Pada saat pelatihan pembelajaran mendalam tadi, ada peristiwa yang menggelitik perut saya. Peristiwa di mana ada guru laki-laki diminta maju ke depan untuk baca, tapi dia malu. Dia sempat maju ke depan, begitu disuruh baca teks di layar, dia malu dan lalu menuju ke tempat duduknya kembali. Dalam benak saya "loh loh loh ada juga lah model guru seperti ini."         Saya nggak ngerti apa yang membuat guru tersebut malu tatkala diminta membaca teks di layar. Menurut saya aneh sekali ada guru disuruh baca malu. Tapi dia mau loh tadi disuruh maju ke depan untuk baca. Nggak malu ini dia pas maju ke depan. Begitu mau baca, lah kok balik lagi ke belakang. Ya Allah tahu gitu kalau malu ya mending nggak usah maju. Biar malunya gak double. Kasihan dia diketawain orang sebanyak itu di dala...

Gajiku sebagai Guru Honorer di Tahun 2025 sama dengan Gajiku di Tahun 2021

       Saya tidak ngerti ya mau ngomong apa. Kita sekarang hidup di tahun 2025. Tapi persoalan gaji guru honorer masih sama seperti di tahun 2021. Tidak ada perubahan sama sekali. Perlu diketahui tahun 2021 saya ngajar di sekolah A, 2025 saya ngajar di sekolah B. Saya resign dari sekolah A karena mengikuti program gak jelas dari pemerintah. Tapi bukan itu persoalannya.         Persoalannya adalah kenapa ya negara ini terlalu kelewatan bengisnya kepada pahlawan tanpa tanda jasa. Tidak peduli statusnya mau guru ASN maupun non ASN, mereka adalah pahlawan bangsa. Jadi saya pikir, persolan gaji dari tahun ke tahun musti ada peningkatan. Ini nggak, gaji yang saya terima di tahun 2025 bisa sama loh seperti tahun 2021. Ampun saya sudah I can't put into words.        Saya kasihan dengan mereka guru honorer yang sudah berkeluarga. Apa cukup gaji segitu untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari. Padahal untuk menjadi guru, mereka harus sa...