Postingan

Bukan Sulap Bukan Sihir: Pas Upacara Sedikit, Selepas Upacara Banyak

       Hari Senin kemarin, kami mahasiswa PPL PPG Prajabatan berkumpul dan melaksanakan upacara bendera di SD yang terletak di kelurahan Mangli. Upacara kali ini berbeda dengan upacara yang saya rasakan sebelumnya. Di mana sebelumnya, selama mengikuti upacara, posisi guru dan staf karyawan selalu berada di tempat yang teduh. Nah, di SD Mangli ini lain, posisi guru berada di tempat yang panas. Kami berada di sebelah barat seperti itu. Saat penghormatan bendera, guru dan staf diminta untuk harap kiri. Nah di sini itu, kami merasa silau akan sinar matahari. Saya akui, Senin kemarin memang matahari bersinar terik sekali, sampai-sampai ada siswa yang lemas dan terpaksa mundur dari barisan upacara. Terlepas dari itu, ada sebuah momen menarik di mana saya perhatikan guru dan staf karyawan yang mengikuti upacara sedikit. Namun setelah upacara selesai, semua guru banyak tumpah ruah di dalam lapangan.          Upacara di SD tersebut diadakan sebagai me...

Pertanyaan Tidak Jelas dari Seorang Mahasiswa

       Tanggal 17 Januari kemarin, adalah hari dimana berlangsungnya pelaksanaan orientasi mahasiswa PPG Prajabatan gelombang 1 tahun 2024 di Universitas Jember. Banyak saya temui wajah-wajah bahagia pada seluruh mahasiswa karena sudah tidak sabar lagi untuk memulai perkuliahan. Alhamdullilah acara tersebut berlangsung lancar. Namun, di balik jalannya acara tersebut, ada satu momen di mana saya terganggu dengan pertanyaan salah satu mahasiswi. Tampak terlihat, dia sangat tidak jelas sekali seperti itu.         Di tengah-tengah jalannya acara, ada mahasiswi yang bertanya pada kami. Saat itu posisinya, saya duduk di depan sendiri, dan di samping kiri saya ada teman baru saya. Dia laki-laki. Di sebelah kanan saya, baru perempuan. Dan sebelah kanannya lagi ada perempuan. Di situ ada lima baris kursi lah begitu. Mahasiswi tersebut tanya pada kami "mas dari kampus mana?" Mendengar pertanyaan itu saya tidak menoleh ke dia. Teman saya yang laki-laki ...

Mengantarkan Surat ke Sekolah saja Memakai Almamater Kampus Segala

       Saya lupa ini kejadiannya hari apa, yang pasti terjadi di bulan Januari. Kejadian di mana saat saya mengantarkan adik saya ke sekolah di pagi hari. Begitu memasuki pintu gerbang sekolah, saya dikejutkan dengan pemandangan mahasiswi sombong yang mengenakan almamater UNEJ. Jujur muak saya dengan pemandangan itu. Pagi hari itu harusnya otak fresh, mood baik, dan diselimuti energi dan semangat positif. Hm jadi lenyap seketika setelah melihat pemandangan itu.         Maksud saya ngapain sih ke sekolah mengenakan almamater kampus kalau ujung-ujungnya hanya menyerahkan surat keterangan tidak masuk sekolah adiknya? Kalau PPL atau penelitian masih pantas lah. Itu tidak, setelah mbaknya memberikan surat ke guru piket ya sudah pulang setelah itu. Mana lagi mbaknya masih pakai celana tidur. Atasannya pakai almamater, kan aneh begitu. Kenapa tidak memakai pakaian yang lain begitu? Jaket misalnya seperti itu, atau pakaian yang lain selain jas almama...

Mimpi Bertemu Gusdur PART II

       Tadi pagi, saya bermimpi bertemu Gusdur kembali. Ini adalah kali kedua saya bertemu dengan beliau di dalam mimpi. Yang pertama terjadi di tahun 2019 dan yang kedua di tahun 2023. Perbedaannya, di tahun 2019, di dalam mimpi saya, Gusdur hanya diam saja. Namun, di tahun 2023, Gusdur berbicara.          Untuk yang kedua kalinya, saya bertemu Gusdur di dalam mimpi tanpa adanya ekspektasi. Di mimpi pertama pun juga sama sih. Saya sama sekali tidak berdoa atau berharap supaya saya mimpi bertemu beliau. Saya tidak tahu mengapa saya bermimpi bertemu beliau seperti itu. Perbedaannya di sini, di mimpi pertama, saya merasa bahagia sekali bertemu beliau walaupun lewat mimpi. Nah, di mimpi yang kedua saya merasa sedih sekali. Karena ada satu momen di mana Gusdur berbicara, tetapi sayangnya saya tidak mendengar isi dari pembicaraan tersebut. Jadi bisa dikatakan, saya melihat beliau berbicara dengan orang lain, namun saya tidak dapat mendengar apa ya...

Gugatan untuk Panitia dan Juri yang Tidak Kredibel dalam Pemilihan Pemenang Kostum Karnaval

Gambar
      Tanggal 3 September yang lalu, diadakan  acara jalan sehat dalam rangka memperingati HUT RI  ke -77 di lingkungan RT kami. Tidak hanya jalan sehat saja, melainkan juga ada karnavalnya. Untuk peserta jalan sehat, kostumnya bebas, asal sopan begitu. Nah, untuk yang karnaval ini, peserta dituntut untuk mengenakan kostum sekreatif dan terbaik mungkin. Karena kostum tersebut nantinya akan dinilai oleh juri. Kostum terbaik akan memperoleh hadiah dari panitia. Sayangnya, dalam proses penilaian tersebut, penulis sama sekali dibuat kesal, karena penilaiannya yang tidak kredibel.          Jalan sehat yang diadakan di lingkungan kami, diikuti oleh semua kalangan. Ada anak-anak, remaja, dewasa, maupun lansia. Karnaval pun juga demikian, semua kalangan turut mengikutinya. Antusiasme warga RT kami besar sekali dalam memeriahkan HUT RI ke-77 tersebut. Hal itu bisa dilihat dari banyaknya warga yang jauh-jauh hari tengah membuat kostum yang akan di...

Rapat Tahi: Berasa Jadi Daun Kemangi di Atas Hidangan Lalapan Lele

Gambar
       Hari Sabtu, tanggal 12 Agustus 2023, saya berada di Bandung. Sabtu malam, sekitar jam 20:30, posisinya saya sudah ada di dalam ruangan. Ruangan tersebut dijadikan tempat bagi semua guru untuk mengikuti jalannya acara lepas pisah dengan kepsek SD kami yang lama. Alhamdulillah acara berlangsung khidmat dan lancar. Di tengah-tengah jalannya acara, saya mendapat pesan dari Ustad Santoso, ketua takmir di masjid kami. Isi pesannya sebagai berikut;         Saat menerima pesan itu, saya bingung mau membalas apa. Akhirnya saya hanya read saja. Rencananya mau saya balas nanti saja. 30 menit kemudian, ustad Santoso chat lagi. Saya merasa kesal, akhirnya saya balas "nggih mas". Balasan chat saya tersebut tidak dimaksudkan untuk menjawab pertanyaan apakah saya mau jadi sekretaris, melainkan merespon ajakan beliau yang meminta saya untuk hadir rapat pada malam Selasa. Kalau pertanyaan kedua yang berisi tentang ajakan untuk menjadi sekret...

Mahasiswa yang Sombong dengan Nama Kampusnya

       Belum lama ini, saya pernah menulis tentang mahasiswa sombong yang mengenakan almamaternya di atas gerbong kereta api. Nah, sekarang ada lagi yang baru, ada mahasiswa sombong yang mengenakan kemeja kampusnya di acara jalan sehat di lingkungan RT kami.  Perbedaannya adalah saya tidak merasa terganggu dengan mahasiswa yang mengenakan almamaternya di atas gerbong kereta. Tetapi saya terganggu dengan mahasiswa yang mengenakan kemeja bertuliskan nama kampusnya di acara jalan sehat tersebut. Maksud saya untuk apa begitu. Tidak punya pakaian lain apa? Kalau tidak punya, kemarilah saya kasih.         Yogi Raya Pangestu, merupakan pemuda dari lingkungan RT kami. Dia juga merupakan mahasiswa prodi ekonomi syariah, fakultas ekonomi, Universitas Jember. Tidak apa-apa sudah, saya cantumkan nama asli dia di blog saya. Supaya dia diketahui orang bahwa dia adalah mahasiswa dari Universitas Jember. Kan itu yang dia mau. Ya sudah saya wujudkan di s...