Pertanyaan Tidak Jelas dari Seorang Mahasiswa

       Tanggal 17 Januari kemarin, adalah hari dimana berlangsungnya pelaksanaan orientasi mahasiswa PPG Prajabatan gelombang 1 tahun 2024 di Universitas Jember. Banyak saya temui wajah-wajah bahagia pada seluruh mahasiswa karena sudah tidak sabar lagi untuk memulai perkuliahan. Alhamdullilah acara tersebut berlangsung lancar. Namun, di balik jalannya acara tersebut, ada satu momen di mana saya terganggu dengan pertanyaan salah satu mahasiswi. Tampak terlihat, dia sangat tidak jelas sekali seperti itu. 
       Di tengah-tengah jalannya acara, ada mahasiswi yang bertanya pada kami. Saat itu posisinya, saya duduk di depan sendiri, dan di samping kiri saya ada teman baru saya. Dia laki-laki. Di sebelah kanan saya, baru perempuan. Dan sebelah kanannya lagi ada perempuan. Di situ ada lima baris kursi lah begitu. Mahasiswi tersebut tanya pada kami "mas dari kampus mana?" Mendengar pertanyaan itu saya tidak menoleh ke dia. Teman saya yang laki-laki ini, sudah saya beri gesture untuk tidak menjawab pertanyaan itu. Tetapi dia jawab, "UIJ mbak" kata dia. Perempuan itu merespon "oh". Kemudian dia perempuan ini menanyakan ke saya "kalau masnya?" Dengan muka cuek,  saya baritahu dia "sama seperti kamu, kamu UIN KHAS Jember, prodi Bahasa Inggris, angkatan 18." Dia bingung "loh iya tah? Kok sampean tahu ya? Sampean UIN juga?" Saya diam saja. Kemudian dia bilang "gitu kok gak nyapa sih dari tadi." Dalam hati saya "nyapa apa, saya tidak kenal sama kamu." Saya tahu nama dia, tapi saya tidak kenal dengan dia. Sama, dia pun tidak kenal juga dengan saya. Dan dia juga tidak tahu nama saya. 
      Jujur pertanyaan itu tidak jelas sekali. Setelah tanya, kemudian di jawab teman saya dia hanya bilang oh. Maksud saya kalau memang pingin tahu, ya tanyalah lagi, S1 dulu prodinya ngambil apa gitu. Atau lebih baik tanya lah dulu namanya siapa dan domisili mana. Nggak pas tiba-tiba tanya asal kampus. Kalau memang hanya sekedar pertanyaan basa-basi, lagipula setelah pertanyaannya terjawab, mau respon apa? Kesal saya, pertanyaannya lebih buruk daripada pertanyaan retoris. Jujur, saya kalau dengar pertanyaan-pertanyaan seperti itu malas yang mau jawab. 
       Pertanyaan itu sedikit mengingatkan saya di mana dulu saya mengikuti seminar tentang pengusaha sukses di hotel Bandung Permai. Setelah acara selesai, di saat itu juga hujan deras turun, di luar gedung, saya perhatikan ada seorang perempuan menyapa teman lamanya. Kemudian dia tanya teman lamanya itu kuliah di mana. Dijawab sama temannya itu "di UIJ". Nah, dia respon ke temannya "loh kok bisa kuliah di UIJ sih?" Nah, mendengar itu saya kesal dan bingung. Maksud saya, emang kenapa kalau kuliah di UIJ? Kan sama sekali tidak merugikan dia (penanya) sama sekali. Kesan yang diperoleh di sini seolah-olah kampus UIJ itu adalah kampus yang tidak maju dan terbelakang. Apa dia berpikir kampusnya lebih baik daripada UIJ? Ya kan gak tentu. Mentang-mentang negeri, bisa lebih bagus dari kampus swasta? Si penanya brengsek itu kampusnya di IAIN Jember, sekarang UIN KHAS. Wah mendengar pertanyaan itu,  saking kesalnya saya langsung pergi ke parkiran. Saya pakai mantel dan langsung pulang menuju rumah saya. 
       Jujur sampai sekarang saya kesal kalau mengingat kejadian. Apa sih maksudnya tanya asal kampus seperti itu? Setelah dijawab diam, nggak ada respon balik. Minimal bilang lah "salam kenal mas, nama saya bla-bla" seperti itu. Atau respon yang lain apa seperti itu. Kesal saya, nggak jelas sekali pertanyaannya. Apalagi yang tanya seorang mahasiswa lagi. Saya tidak melarang seseorang untuk bertanya. Ya paling tidak di sini pertanyaan bisa diterima lah seperti itu. Masa mau diajarin caranya buat pertanyaan. Itu setelah pertanyaannya dijawab, si wanita itu diam sudah nggak tanya lagi sampai acara selesai. Kan gak jelas itu namanya. Otaknya miring sepertinya. 
      Awalnya, saya ingin menaruh foto dia di blog ini, namun saya urungkan karena saya ingin menjaga privasi dia saja. Lagipula untuk apa seperti itu. Pembaca juga nggak ada yang mau kenal sama dia. Saya tahu foto dia, karena dia ini masuk di grup alumni prodi Tadris Bahasa Inggris UIN KHAS sama seperti saya. Kalau dilihat dari foto profilnya, wah foto dia memakai jas almamater UNEJ. Ya fotonya sendirian seperti itu, di depan cermin yang besar. Menurut saya, ngapain? Gak jelas sekali. Logo kampusnya diperlihatkan dengan jelas supaya orang tahu dia kuliah di UNEJ. Yang baru-baru ini foto profilnya di dalam gedung FKIP UNEJ. Sendirian lagi fotonya. Nggak tahu, kesal saja saya lihat tampangnya yang sombong seperti itu. Mahasiswa asli UNEJ saya yakin gak ada yang seperti itu lebaynya. 
      Ini mungkin ya, wanita itu tidak bertanya atau merespon kembali karena terganggu dengan sikap saya. Sikap yang saya tunjukkan saat itu memang kesal dan wajah saya cuek. Tetapi perlu diketahui, saya kesal bukan sama orangnya. Tetapi saya kesal sama pertanyaannya. Itu saja saya. Andai pertanyaan bisa diterima begitu, saya pasti nggak kesal.














Postingan populer dari blog ini

Kalau mau Ngasih, Kasih aja

Mengganti Permainan Tepuk-Tepuk di Sekolah

Oh Jadi ini Biang Keroknya