Upil Oh Upil
Apakah anda pernah ngupil? Jika pernah, kapan dan di mana terakhir kali anda meletakkannya? Apakah di kaki meja atau di sudut kaki kursi? Saya yakin, anda pernah menaruhnya di suatu tempat yang tidak bisa dijangkau oleh mata manusia lain. Terakhir, apakah anda sudah memeriksa bahwa upil anda tetap berada di tempat yang sama? Jika sudah, apakah upil anda tetap berada di situ atau mungkin upil anda hilang dengan sendirinya?
Tahukah anda bahwa mengupil sering kali kita lakukan di luar kontrol kesadaran? Tahu-tahu jari telunjuk kita masuk saja ke rongga hidung. Seperti penulis misalnya, tanpa penulis sadari, jari telunjuk penulis seperti tahu bahwa di rongga hidung banyak upilnya. Ada upil yang kering, pun ada juga yang agak basah. Setelah jari masuk, dia menari dan berputar searah jarum jam. Ketika upil didapat, penulis memelintirnya di jari layaknya adonan kue onde-onde versi kerdil. Lalu penulis menghempaskannya menggunakan jari telunjuk. Pernah suatu waktu, penulis menghempaskannya mengenai sinar gitar. Seketika gitar penulis berbunyi sendiri "jreengggggg"
Selain dihempaskan, penulis pernah menaruh upil di suatu tempat yang tak terlihat oleh mata. Seperti di bawah ranjang, meja, dst. Tetapi anehnya ketika upil tersebut penulis letakkan, lalu penulis periksa lagi esoknya, sudah hilang entah kemana. Apakah pembaca juga mengalami hal serupa? Penulis jadi bertanya-tanya "kemana ya upilku berada?"
Terakhir, apakah anda tahu bahwa upil itu rasanya asin? Kalau anda belum tahu, silahkan anda coba sendiri. Tidak perlu merasa jijik karena itu upil kita sendiri, bukan upil orang lain. Cobalah sekali-kali karena itu memberikan kesan atau makna hidup tersendiri untuk anda. Saya jamin anda pasti akan tersenyum-senyum sendiri setelah mencobanya. Tidak apa-apa jangan merasa cemas karena itu hanya sekedar upil bukan tinja. Jadi saya jamin aman.