Kelangkaan BBM di Jember: Saya sudah Memprediksinya dari Awal

       Hari Sabtu tanggal 19 Juli, saya menjenguk rekan sesama guru yang tengah sakit. Saya pergi ke rumah beliau tidak sendirian, melainkan juga ditemani oleh rekan-rekan guru yang lain. Sampai di SPBU Cendrawasih, saya menyempatkan diri untuk beli bensin melihat persediaan bensin saya tinggal sedikit. Ternyata di SPBU tersebut terpampang tulisan bahwa bensin masih dalam proses pengiriman. Ya sudah tahu akan hal itu saya balik arah dan lanjut ke rumah teman saya yang sakit. 

      Perlu diketahui, rumah teman saya ini di kelurahan Gebang, sebelum jembatan yang menuju arah ke ponpes Al Qodiri. Sampai di sana, ya biasa kami berbincang-bincang seperti itu. Saya juga berbagi informasi tentang tidak adanya bensin di SPBU Cendrawasih. Teman saya bilang kalau bensin itu mungkin malam hari datangnya. Singkat cerita, sepulang dari sana, saya mampir beli bensin ke SPBU yang terletak di kelurahan Gebang. Sampai di sana Alhamdulillah bensinnya ada begitu. Cuma yang membuat saya sedikit kecewa ialah kenapa saya isi bensin 20 ribu tapi di dashboard naikknya tidak signifikan seperti biasa. Dalam hati tidak apa-apa lah yang penting sudah saya isi bensinnya. Bisa buat persediaan besok. 

      Hari Minggu keesokan harinya, adik saya ini beli bensin dua kali di SPBU Cendrawasih.  Tapi rupanya bensin masih dalam proses pengiriman. Dalam hati saya "tumben lama ya proses pengirimannya? Biasanya tidak selama itu." Seperti yang dikatakan oleh teman saya, saya pun tadinya mengira bahwa bensin itu akan datang di hari Sabtu malam. Tapi ternyata di hari Minggu pun tidak datang. Tumben gitu dalam hati saya. Biasanya setiap pagi, stok bensin di SPBU Cendrawasih itu selalu ada. Malam setelah isya itu biasanya habis. Nah, nanti malam sekitar pukul 22:00, itu nanti datang lagi truk Pertamina untuk mengirim bensin di SPBU. 
 
      Senin pagi, sekitar pukul 05:30, adik saya pergi ke SPBU Cendrawasih. Ternyata bensinnya sudah datang. Saya menduga bensinnya datang kemarin malam itu. Tumben saja seperti itu. Seperti yang sudah-sudah, kalau proses pengirimannya lama pasti ada kendala itu. Pikiran saya mengarah pada dua hal. Pertama faktor politik dan kedua dampak ditutupnya jalan Gumitir sementara. 

       Hari Kamis pagi, saya berniat beli bensin di SPBU Cendrawasih. Begitu saya tiba di sana, saya disambut oleh petugasnya. Saya tanya "bensinnya belum datang mas?" Masnya jawab "masih belum ya mas, masih proses pengiriman. " Karena tidak ada, saya langsung ke SPBU Gebang. Karena dua SPBU ini saja yang terbilang dekat dengan rumah saya. Setelah sampai di sana, rupanya di SPBU Gebang bensinnya masih dalam proses pengiriman juga. Dalam hati saya waduh masalah ini. Hal itu akhirnya membuat saya memutuskan untuk beli bensin di pom mini yang lokasinya tidak jauh dari SPBU Gebang. Alhamdulillah ada begitu. Di tengah mengisi bensin, saya mendengar penjualnya cerita ke pembeli lain kalau banyak pengendara lain balik arah setelah tahu SPBU tutup. Penjual juga mengatakan bahwa sebentar lagi sepertinya bensin langka. Hal itu terjadi karena akses jalan Gumitir sedang ditutup sementara. Dia sendiri sebenarnya juga memiliki stok bensin yang tidak banyak. 

     Hari Sabtu, sepeda saya dipinjam oleh teman sesama guru di acara nikahan. Jam 12 siang katanya mau dikembalikan. Saya tadinya lumayan cemas. Karena bensin saya pasti nanti akan terpakai juga. Padahal saya ingin mempersiapkan diri untuk menghadapi kemarau bensin ke depan. Saya sudah yakin dan terasa bahwa akan terjadi kemarau bensin di Jember. Karena sebagai orang yang rumahnya dekat dengan SPBU Cendrawasih, peristiwa sebelumnya itu tidak wajar terjadi. Biasanya bensin di pagi hari itu selalu ada. Nah ini kalau tidak ada berarti ada yang tidak beres ini. Singkat cerita, saya pinjamkan motor saya dengan niat membantu. Begitu motor dikembalikan, saya terkejut karena bensin saya stabil begitu. Ya tidak berkurang dan tidak bertambah. Bertambah sih tapi hanya sekitar 10% dari semula. Saya menduga pasti teman saya yang mengisi bensinnya ini. Cukup ini menurut saya untuk menghadapi kemarau bensin ke depan. 

      Sabtu sore, saya itu mulai mendengar cerita dari adik dan sepupu bahwa bensin sekarang sulit didapatkan. Di SPBU tidak ada dan di pom mini pun juga tidak ada. Nggak hanya dari mereka, dari tetangga pun saya juga dengar. Kemudian dari status wali murid, saya juga tahu bahwa kemarau bensin sudah dimulai. Malam harinya itu banyak yang mengeluh tentang ketersediaan bensin di SPBU. Saya yakin besok pagi akan banyak yang antre beli bensin ini. 

      Minggu pagi, terjadi momen langka di mana banyak pengendara roda dua dan empat antre untuk membeli bensin. Antreannya panjang sekali. Ini mengingatkan saya akan peristiwa pada tahun 2014 tepatnya tahun di mana Jokowi terpilih menjadi presiden ke 7. Banyak yang mengatakan antrean bensin itu terjadi karena faktor politik lah pada tahun itu. Nah kalau tahun ini berbeda. Ini terjadi karena dampak akses jalan Gumitir sedang ditutup sementara. Ya boleh dikatakan ini kali kedua lah antrean bensin panjang seperti itu. Bahkan malam pun masih tetap antre orang-orang itu untuk beli bensin. Bayangkan, dari sebelah barat antrean mencapai jembatan Soka, dan di sebelah timur antrean mencapai pertigaan pasar Kreongan. Menurut saya ini panjang sekali begitu. Dan ini terjadi bukan di SPBU Cendrawasih saja, melainkan hampir di semua SPBU yang ada di Jember. Wah di status wali murid itu banyak yang memperlihatkan panjangnya antrean bensin ini. Nah, sejak saat itu juga ada orang nakal yang memanfaatkan momen tersebut. Mereka sengaja beli bensin banyak untuk dijual dengan harga yang lebih mahal. Biasanya satu liter 10 ribu, oleh mereka dijual 15 ribu, bahkan ada yang jual 20 ribu perliter.  Ya boleh dikatakan mereka mencari untung lah dari peristiwa tersebut. 

        Hari Senin itu lebih gila lagi antreannya. Jam 06:20 saya berangkat kerja. Di tengah jalan menuju tempat kerja, saya melihat antrean panjang melebihi pasar Kreongan. Jam 06:50, teman saya yang rumahnya di Kreongan juga mengeluhkan peristiwa antrean tersebut. Dia mengatakan bahwa dia itu sempat tidak bisa keluar dari bibir gapura perumahan. Dia tinggal di perumahan Cendrawasih sekedar informasi saja. Itu katanya jalanan macet total. Di sebelah barat, antrean mencapai SMPN 7 Jember, dan di timur mencapai stadion Notohadinegoro. Wah panjang sekali dalam hati saya. Bahkan saya sedikit tidak percaya. Kalau begitu, lebih panjang dari yang tahun 2014 dong. Kemudian saya jadi percaya setelah lihat status WA teman saya. Di situ ditampilkan video dorone dari atas tentang antrean panjang itu tadi di SPBU Cendrawasih. Di SPBU Gebang juga sama antre full begitu. Ada tiga arah bahkan antreannya di sana. Itu antreannya terjadi sampai malam loh. 

      Datang cerita dari Tante saya. Dia beli bensin di SPBU Tegal Besar mulai jam 17:10. Dan dia selesai isi bensin sekitar jam sembilan malam. Wah gila berarti rame sekali gitu antreannya ya. Ada tetangga saya bahkan ikut begadang di sana sambil membawa termos untuk persediaan ngopi bareng. Dia antre dari jam 23:30. Dan selesai jam tiga pagi. Wah edan gitu menurut saya. Dan masih banyak cerita yang tidak bisa saya ceritakan di sini satu persatu. Intinya anda mau beli bensin, anda harus siap antre sekitar 4 jam. 

       Karena kelangkaan BBM tersebut, pada akhirnya bupati mengeluarkan kebijakan bahwa sekolah dasar dan menengah pertama pembelajarannya dilaksanakan secara daring. Karena daring, pagi jam 06:30, saya mengantarkan ibu saya belanja di pasar Kreongan. Sampai di pasar, saya melihat antrean kendaraan bermotornya sudah sampai di depan pasar. Bayangkan, dari SPBU sampai ke pasar. Ayah saya saat itu juga ikut antre BBM. Adik saya sekolah. Karena yang daring itu kan hanya TK, SD, dan SMP. Saya amati saja antrean kendaraan bermotor tersebut. Ada seorang pemuda antre, saya amati dari awal sampai akhir. Begitu ibu saya selesai belanja, pemuda tersebut hanya maju kurang lebih empat meter dari posisi awal bayangkan. Padahal ibu saya belanjanya lama. 
       
       Yang aneh itu pas malam hari. Saya dan sepupu saya keluar sekitar pukul 19:30 ke Alfamart. Saya perhatikan jalan Nusa Indah itu sepi dari kendaraan bermotor. Benar-benar sepi layaknya jam 5 pagi hari. Saya sampai geleng-geleng kepala saat itu. Kalau pejalan kaki saya perhatikan ada, tetapi tidak banyak. Sepi pokoknya seperti jam lima pagi itu sudah. 

       Lewat tulisan ini, saya hanya mau bilang terima kasih kepada Tuhan. Berkat-Nya, saya tidak perlu repot-repot antre bensin sepanjang dan selama itu. Alhamdulillah persediaan bensin saya cukup untuk survive selama 10 harian. Wong pada dasarnya saya tidak suka keluar rumah. Saya keluar rumah itu ya kalau nggak ke pasar ngantar ibu ya ke sekolah kerja. Ya kembali lagi, saya mengucapkan syukur Alhamdulillah begitu. Terus terang, saya saja yang tidak antre merasa kasihan dengan orang-orang yang antre BBM. Jujur, saya juga pernah merasa lelah begitu melihat antrean panjang seperti itu. Apalagi mereka yang berjuang antre, bukan? Salut sekali pada mereka. Jujur, saya tidak pernah menyangka Tuhan sebaik ini dengan saya. Saya mengira bahwa saya harus isi bensin juga, ternyata tidak. Bensin yang tadinya sudah penuh, kembali penuh karena diisi oleh teman saya. Ya gitu pelajaran hidup, kalau kita ikhlas bantu orang lain, Allah pasti akan bantu kita suatu saat nanti. Terima kasih 
      

Postingan populer dari blog ini

Kalau mau Ngasih, Kasih aja

Mengganti Permainan Tepuk-Tepuk di Sekolah

Oh Jadi ini Biang Keroknya