Tahulah Tempat sebelum Bercerita
Tadi pagi, saya mendengar kabar bahwa kakek teman saya meninggal dunia. Saat itu kebetulan saya ada jam kosong. Karena itu, saya bersama satu teman saya memutuskan ikut ke sana untuk takziah. Sesampai di sana, ya biasalah kami duduk lalu ngobrol sebentar dengan salah satu keluarga almarhum. Tidak lama setelah itu, almarhum dibawa untuk disholatkan.
Saat itu, saya tidak ikut menyholatkan. Alasannya sepele yakni karena terlambat. Saat mau wudhu, sholat jenazah sudah dimulai. Akhirnya, saya nunggu di luar musholla. Di luar, saya perhatikan banyak orang yang mau ikut sholat tetapi terlambat. Saya berdiri di tengah-tengah mereka kemudian.
Tiba-tiba, ada orang mendekati saya lalu bertanya "sampean guru ya?" Saya jawab "iya". Lalu dia bertanya "P3K?" Saya jawab "tidak, saya masih honorer mas." Setelah tahu jawabannya, dia tidak balik tanya. Ngasih saran atau nasehat terhadap saya itu tidak ada. Justru dia malah memberitahu saya kalau dia kerja di salah satu perusahaan. Dia juga memberitahu bahwa dia kerja bukan di perusahaan daerah melainkan provinsi. Ketika dia cerita, saya cuma bisa membalas iya, oh enak mas, oh iya, dan oh gitu. Walaupun sekilas saya lihat gaya bicara dia sedikit congkak, saya sama sekali tidak marah. Karena saya sudah terbiasa sering bertemu dengan spesies orang seperti dia ini.
Singkat cerita, almarhum sudah selesai disholatkan dan hendak dimakamkan. Di tengah perjalanan, saya merasa kesal karena ada dua orang yang asik bercerita mengenai besaran gaji di tempat kerjanya. Yang lain melantunkan bacaan tauhid, mereka sendiri cerita soal gaji. Mana terdengar lagi suaranya. Menurut saya kalau mau cerita besaran gaji di tempat lain saja. Nggak pas saja momennya. Momennya kan sedang berduka, malah cerita gaji.
Lewat tulisan ini, saya mengajak diri saya pribadi khususnya untuk tahu tempat sebelum berbicara. Kalau momennya sedang berduka, sampaikanlah belasungkawa khususnya Pads keluarga almarhum. Tanyalah perihal yang relevan dengan kondisi saat itu. Misalnya tanya penyakit yang diderita almarhum, atau menguatkan hati keluarga yang ditinggal pergi oleh almarhum, bisa lewat kata-kata maupun doa. Jangan cerita soal pekerjaan atau gaji. Saya kira hal semacam itu bukan tempatnya lah.