Program Sabtuan: Berkunjung ke Rumah Peserta Didik sebagai Misi Mengetahui Kehidupannya lebih Dekat
Setiap hari Sabtu sore, saya memiliki program berkunjung ke rumah peserta didik saya. Program tersebut adalah inisiatif dari saya pribadi. Program ini saya balut dengan kata-kata belajar bersama. Walaupun sebetulnya, tujuan utamanya adalah mengetahui bagaimana sih interaksinya dengan lingkungan rumahnya.
Di kelas saya, dari 29 anak, ada 12 anak yang saya rasa perlu diteliti dan diselami kehidupannya. Sebut saja mereka adalah: Marsya, Ayus, Fida, Avila, Faris, Mareta, Aqila, Icha, Tasya, Zultan, Difkie, dan Nur. Karena selama saya memantau di kelas, kedua belas anak itu sangat lambat dalam menerima materi. Kalau dalam pembelajaran diferensiasi, mereka itu ada di kelompok belum mahir. Selain itu, perilaku mereka di dalam kelas tidak mencerminkan perilaku yang baik. Nah, saya merasa perlu di sini untuk menyelidiki masalah itu. Saya yakin ada yang mempengaruhi mereka bisa seperti itu. Pikiran saya langsung tertuju pada interaksi mereka dengan keluarga di rumahnya.
Sabtu pertama, saya berkunjung ke rumah murid saya bernama Faris. Saya datang ke sana disambut oleh tantenya. Dari percakapan dengan tantenya, saya jadi tahu kalau orang tua Faris ini sudah bercerai. Dia di sana hanya tinggal bersama Ayahnya, kakak kandungnya, om, Tante, dan anak dari om dan tantenya. Ketika saya tiba di depan rumah Faris, dia asik duduk sambil merakit benang dan kail pancing. Dari tantenya, saya jadi tahu kalau hobi Faris ini mancing.
Di rumah Faris, saya tidak berdua, melainkan ditemani oleh murid saya yang lain yaitu Tasya dan Marsya. Kebetulan mereka satu tetangga dengan Faris dan juga masuk ke dalam list investigasi saya. Dengan hadirnya Tasya dan Marsya itu, saya kira mengurangi kecurigaan keluarga Faris terhadap saya. Karena memang tujuan saya dari awal untuk mengetahui gimana sih kehidupan Faris ini kalau di rumah. Saya perhatikan tantenya ramah sekali. Omnya yang gak ramah. Tapi gak apa-apa, mungkin beliau kaget kok bisa ada guru nyasar ke rumah beliau begitu. Saya pulang dari rumah Faris jam 17:15. Dan ayahnya Faris belum pulang. Padahal jujur, saya ingin sekali ngomong sama ayahnya Faris itu.
Sabtu kedua, saya berkunjung ke rumah Ayus. Ini adalah kedua kalinya saya berkunjung ke sana. Yang pertama saat menjenguk dia sakit. Setelah tiba di sana, saya kaget ternyata di sana sudah ada Tasya dan Marsya. Memang di kelas kedua anak ini memohon kepada saya agar dibolehkan ke rumah Ayus untuk belajar bersama. Ya sudah saya bolehkan mengingat jarak rumahnya yang tidak jauh dari rumah Ayus.
Tiba di rumah Ayus, saya disambut oleh ayahnya. Dulu saya ke sana, belum sempat ketemu beliau. Beliau ada di Gresik katanya. Kemudian, tidak lama setelah itu, saya bertemu kakanya. Dia bawa gorengan masuk ke rumah. Nah, ibunya Ayus tidak ada di rumah karena sedang berjualan di warung depan pinggir jalan raya. Saya tidak menemukan sesuatu yang janggal di sini. Interaksi di rumah antara Ayus, ayahnya, dan kakaknya berlangsung baik-baik saja. Hanya saja, ketika kami belajar, ayah dan kakaknya Ayus itu ada di dalam kamar. Jadi ya saya nggak bisa memperoleh informasi langsung dari mereka berdua. Sumber informasi saya hanya Ayus saja. Kedua orangtuanya Alhamdulillah masih lengkap. Ini dugaan saya saja ya, Ayus di kelas menunjukkan perilaku yang kurang baik karena memiliki sedikit waktu bersama ibunya. Karena ibunya berjualan dari pagi sampai malam di warung. Ayus ini anak laki-laki. Anak laki-laki umumnya dekat dengan ibu. Barangkali interaksi yang minim dengan ibunya itulah yang membuat kemudian di kelas, Ayus menunjukkan sikap yang kurang baik.
Sabtu ketiga Minggu ini, saya akan berkunjung ke rumah Icha. Dia kebetulan satu tetangga dengan Avila dan Fida yang juga termasuk murid saya. Avila dan Fida juga termasuk ke dalam dua belas anak yang akan saya selidiki dan investigasi. Saya berharap dapat menemukan daging segar di sini, sehingga bisa saya jadikan evaluasi dan refleksi ke depan.