Arti Pertemanan
Tahun 2024 silam, saya mendapat kabar teman saya resign dari pekerjaannya sebagai seorang guru. Setelah saya dinyatakan lolos UKPPG, keesokan harinya saya pergi ke rumahnya. Jauh-jauh dari kecamatan Patrang ke kecamatan Ajung untuk sekedar ingin tahu bagaimana kabarnya.
Sampai di sana, saya disambut dengan baik di warungnya. Bahkan saya dan adik saya diberi makanan secara gratis. Setelah resign dari sekolah, dia beralih menjadi penjual warung kecil di tepi sawah. Melihat pemandangan itu, saya tidak tega terus terang saja. Saya nggak ngerti alasan kenapa dia memilih resign padahal dia sudah masuk dapodik. Pendaftaran P3K telah dibuka saat itu. Saya yakin kalau dia ikut, dia akan lolos karena merupakan pelamar prioritas.
Dengan ngobrol dengannya, saya jadi tahu alasan mengapa dia memilih resign. Dia terlibat konflik dengan kepala sekolah yang baru. Maksud saya kenapa harus resign. Sayang sekali kan kalau resign. Padahal selangkah lagi sudah P3K. Tapi itu jalan yang dipilihnya mau bagaimana lagi. Memang, lingkungan sekolah itu tidak selamanya bersahabat. Jadi teman-teman harus waspada dan hati-hati. Hati manusia tidak ada yang tahu.
Teman saya satu ini sudah menikah dan sudah punya anak. Dia lebih dulu mengajar dibanding saya. Jujur, dia kalau ke saya kurang ramah. Saya pernah sakit hati ketika berhadapan dengan dia jujur saja. Jantung saya pernah berdetak lebih cepat ketika dengar ucapan tak pantas darinya. Tapi kita ini berteman, masak yang diingat jahatnya saja, kan tidak. Oh iya nggak boleh seperti itu. Sudah saya maafkan dan lupakan kesalahannya terhadap saya. Kenapa demikian? Allah ke makhluknya kan juga demikian.
Di warung itu, saya juga ngobrol banyak dengan suaminya. Dia cerita lah kemudian masalah istrinya resign. Panjang ceritanya dan saya hanya bisa diam mendengar saja. Tidak terasa waktu sudah berlalu, saya izin pamit kemudian. Teman saya ini bilang "dari sekian banyak guru di sekolah itu, hanya sampean seorang yang mau menjenguk dan mampir kemari. Padahal sampean sudah tidak terikat lagi dengan sekolah itu." Saya hanya bisa diam saja mendengar itu.
Teman-teman semua, dalam kehidupan, kita sering dipertemukan dengan orang yang tidak baik dengan kita. Tapi kita terkadang salah menyikapi sehingga kita memilih untuk menjaga jarak dan enggan berhubungan dengan dia. Di buku-buku motivasi kebanyakan ajarannya seperti itu. Kita dituntut untuk tidak terlalu mempedulikan orang lain yang bahkan mereka ke kita pun tidak peduli. Sebaiknya jangan berbuat demikian. Cintai orang yang membencimu sebagaimana ajaran Nabi kita Muhammad SAW.