Jadi Imam Sholat Terawih di Sekolah Satu Hari: Nggak Kuat dengan Isi Amplopnya
Menjelang kegiatan pondok Ramadhan, kepala sekolah menginstruksikan agar buka dan sholat tarawih bersama dilaksanakan di sekolah. Nah, di sana kepsek kami menanyakan sudah dihubungi apa belum imamnya. Kalau belum, segera hubungi imam yang tahun lalu. Salah satu guru usul "ngapain kita nyari imam luar Bu, ini loh ada pak Galuh bisa." Lalu kemudian saya tanya "kalau ngundang imam dari luar itu, sekolah bayar atau tidak?" Saya dengar bayar katanya. Oleh karena itu, saya ngomong "kalau begitu, pakai jasa saya sudah gpp gratis." Seluruh peserta rapat menyetujui saat itu.
Ini adalah pengalaman pertama saya jadi imam sholat terawih di sekolah. Terawih bersama ini diikuti mulai dari kelas 4 hingga 6. Kelas 1-3 ikut jadwal paginya. Alhamdulillah acara pondok Ramadhan saat itu cukup lancar.
Keesokan harinya, saya terkejut karena oleh guru agama, saya diberi amplop. Awalnya saya menolak. Saya bilang "sudah Bu gak usah, saya ikhlas." Kendati demikian, guru tersebut tetap menyodorkan amplop itu ke saya. "Ini dari kepala sekolah" imbuhnya. Karena terus dipaksa dan dipaksa, akhirnya saya terima sebagai bentuk menghargai.
Sampai di kelas, saya main tebak-tebakan dengan diri saya sendiri. Saya menebak nominal uang di dalam amplop itu. Saya menebak angka nominalnya 25 ribu saat itu. Nggak apa-apa lah lumayan beli bensin kata saya. Namun setelah saya buka, rupanya nominalnya 250 ribu. Hal itu membuat saya kaget. Karena saya jadi imam terawih itu hanya satu hari. Jumlah rakaatnya hanya sebelas (plus witir 3 rakaat).
Jujur teman-teman, di rumah itu saya juga ditunjuk jadi imam sholat terawih. Dari satu bulan, saya dapat jadwal lima kali jadi imam sholat terawih. Dan itu sama sekali saya tidak dibayar. Nah, di sekolah hanya satu kali jadi imam terawih, bisa dibayar 250 ribu heran saya. Mengetahui itu, karena niat awal saya adalah gratis, maka saya berikan 200 ribu ke ibu saya, dan 50 ribunya ke adik saya. Kalau hanya uang bensin, saya ada lah simpanan. Jujur teman-teman, saya malu yang mau menerima uang sebanyak itu, mengingat tugas saya nggak berat.
Keesokan harinya, saya bilang ke guru agama agar tahun depan ngasihnya nggak usah terlalu banyak. Yang wajar-wajar saja lah. Lumayan sisa uangnya bisa buat kepentingan sekolah yang lain. Di rumah saya setiap hari Jumat malam Sabtu diadakan kajian. Itu ustadnya sekali ceramah, dikasih uang amplop sebesar 50 ribu. Loh kok bisa saya tahu? Lah wong saya sekretaris takmir masjid. Satu bulan sekali selalu rapat, jadi tahu. Imam sholat Jum'at, sekali tampil dikasih uang amplop sebesar 50 ribu juga. Nah, ini saya bisa dikasih 250 ribu, jauh sekali bukan? Tapi di sini saya tidak ada maksud untuk menolak rezeki. Hanya saja untuk kepentingan agama seperti jadi imam terawih itu nggak perlu lah dibayar. Kalau saya ya, nggak tahu yang lain. Di samping itu, saya masih termasuk guru yang juga aktif ngajar di sekolah tersebut. Jadi untuk saya, nggak perlu lah dibayar.