Amanat Pembina Upacara yang Gitu-Gitu aja

       Semasa sekolah, apakah pembaca pernah mengikuti upacara bendera setiap Senin? Jika pernah, bagaimana perasaan pembaca saat mendengarkan amanat dari pembina upacara? Apakah senang, sedih, bosan, atau yang lain? Jujur, penulis bosan sekali. Mulai dari penulis jadi siswa hingga menjadi guru, amanat pembina upacara ya gitu-gitu aja. 

       Pertama, yang diucapkan oleh pembina upacara yaitu ucapan terima kasih kepada petugas upacara. "Terima kasih kepada petugas upacara yang sudah bekerja dengan cukup baik. Semoga upacara berikutnya dapat lebih baik lagi" kurang lebih seperti itu. Kedua, ucapan kritik kepada peserta upacara. "Untuk peserta upacara sudah cukup baik ya, hanya saja bapak ibu guru masih melihat yang belakang ada yang bergurau. Semoga Minggu depan bisa lebih baik lagi ya semuanya." Ketiga umumnya ucapan untuk semangat dan rajin belajar. Keempat umumnya menyinggung perihal kebersihan lingkungan. "Tolong kalau habis beli-beli, sampahnya dibuang di tempat sampah ya. Kemarin bapak ibu guru masih melihat ada anak-anak yang masih membuang sampah tidak pada tempatnya." Setelah itu ditutup. Minggu depannya diulang lagi. Sampai bosan yang dengar.

       Saya nggak ngerti ya kenapa siklusnya seperti itu terus. Apa karena ada durasinya atau karena teriknya matahari, saya juga tidak tahu. Tapi jujur, fenomena ini sudah lama mengganggu pikiran saya. Yang pada akhirnya, baru bisa saya tulis sekarang. Kenapa nggak ngasih amanat yang berbeda begitu ya? Tapi sekalinya ada amanat yang berbeda, isinya ngibul semua. Nyuruh anak untuk tidak main hp, lah gurunya sendiri saat ngajar main hp. Yang paling parah, ada yang mengajak untuk tidak membuli teman, gurunya sendiri justru pembulinya. Ada itu di tempat saya ngajar. 

      Sebagai subjek, saya menilai bahwa upacara bendera hanya serangkaian prosesi yang tak ada isi. Ya hanya sebagai pelengkap jadwal Mingguan saja. Selesai upacara ya sudah selesai. Saya inginnya selesai upacara, ada yang peserta didik bawa pulang ke rumah begitu. Peserta didik bawa sesuatu atau tidak, tergantung dari amanat yang disampaikan oleh pembina upacara. Kalau model amanatnya begitu saja, ya nggak bakal dibawa pulang oleh peserta didik. Kalau sudah nggak dibawa, ya nggak bakal dimasukkan ke dalam hati dan pikiran. Wong saya pernah perhatikan, isi amanat upacara itu diulang-ulang. Bulan kemarin Bu A membahas soal kebersihan, dua bulan kemudian dibahas lagi oleh Bu F. 

       Hari pendidikan Nasional kemarin, kepala sekolah sebagai pembina upacara menyampaikan amanat dengan cara membaca. Beliau sudah punya print outnya. Ya gitu, dibaca persis dengan apa yang ada di teks. Maksud saya, ambil poin-poinnya saja kan bisa. Selesai upacara apa yang terjadi? Semuanya jadi lupa. Nggak ngerti apa intisari yang ditampilkan oleh pembina upacara. Ketika ditutup dengan salam, peserta upacara banyak yang bersorak ria. "Alhamdulillah" begitu katanya. Teksnya itu loh saya tahu kurang lebih 11 lembar. Dibaca semua, titik komanya juga sama, intonasinya datar. Kemudian, mata terus melihat pada teks. Dalam hati saya "nggak ngerti seni berpidato orang ini." Jujur saja, lama sekali amanatnya waktu itu. Bagaimana nggak lama wong dibaca semua teksnya. 

       Ada lagi yang lebih konyol. Ketika hendak menutup amanat, pembina upacara justru tidak jadi menutupnya. Paham maksudnya? Diberilah kata-kata seolah amanat upacara mau ditutup. Tetapi yang terjadi, justru diulang kembali amanatnya. Ya terus gitu muter-muter. Padahal tadi sudah disampaikan, tetapi disampaikan lagi. Akhirnya yang terjadi, banyak peserta didik yang istirahat di barisan paling belakang. Karena mereka tidak kuat dengan teriknya matahari. Itu pun, tahu banyak peserta didik yang lemas duduk di belakang, pembina upacara justru tetap melanjutkan amanatnya yang muter-muter itu. Saya waktu itu sampai jengkel. Beliau kepala sekolah padahal. Sekelas kepala sekolah, isi pidatonya muter-muter seperti ikan koi di dalam bak mandi. "Sudah ya anak-anak, mungkin hanya itu yang bisa ibu sampaikan......" Mendengar itu pasti kita mikir, sebentar lagi akan ditutup. Tetapi faktanya tidak, malah diulang lagi yang sudah disampaikan. Upacara hari sumpah pemuda juga begitu. Kita semua mengira amanat mau ditutup, ternyata mau baca puisi. "Saya harus baca puisi ini karena ini titipan dari pengawas bina" katanya. Puisi nggak jelas itu. Peserta upacara nggak bakal ngerti. 30 detik di awal saja, jika cara menyampaikan amanatnya kurang pas di mata peserta didik, nggak akan didengarkan sudah sampai akhir. 

       Saya tidak mengerti, pembina upacara terlihat seperti juri audisi. Dia hanya hadir untuk menilai dan mengingatkan. Umumnya yang dinilai duluan yaitu petugas upacara. Setelah itu peserta upacara. Walaupun tidak semuanya, namun hampir semuanya seperti itu khususnya di sekolah kami. Diimbangi dengan pembawaan yang terlihat menggebu dalam memberikan penilaian. Seharusnya pembina upacara berdiri dalam keadaan tenang saja. Tunjukkan warna yang berbeda dan sampaikan amanat yang berkualitas sehingga dapat dibawa pulang ke rumah oleh semua peserta didik. 



      






      
      

Postingan populer dari blog ini

Kalau mau Ngasih, Kasih aja

Mengganti Permainan Tepuk-Tepuk di Sekolah

Oh Jadi ini Biang Keroknya