Nasib Penjaga Bel Ujian: Aktor dibalik Suksesnya Ujian Kelas VI
Dua hari sebelum asesmen sumatif akhir kelas VI, dilaksanakan sebuah rapat di sekolah. Di dalam rapat itu, saya oleh kepala sekolah diminta untuk mencari suara bel di YouTube lalu akan disambungkan ke monitor. Tapi jujur sulit mencari bunyi bel yang dimaksud. Singkat cerita, pembahasan mulai ke teknis bel. Karena terus terang saja bel di sekolah kami itu otomatis. Dan bunyi belnya tidak seperti bunyi bel ujian. Ya bunyi "saatnya jam pertama..." Kepala sekolahnya maunya bel bunyi "tettttt....." Nah, nyari bel seperti itu yang dapat bunyi satu kali, dua, tiga, hingga empat kali sulit. Karena saya nyarinya di YouTube. Singkat cerita, hari Minggu itu saya download aplikasi bel di play store. Alhamdulillah sesuai dengan permintaan kepala sekolah. Hanya saja, cara membunyikannya adalah menyalakan aplikasi bel di hp, lalu hp didekatkan ke mic sekolah supaya suara kedengaran dengan keras dan jelas.
Di dalam rapat, kepala sekolah meminta saya untuk jaga bel di hari Senin. Karena di hari itu murid saya ada pelajaran olahraga. Selasa dan seterusnya digantikan guru kelas yang lain. Namun realitanya di sini, saya jaga bel hari Senin dan Rabu hingga Jumat. Rabu guru kelas tiga jaga koperasi katanya. Kamis guru kelas satu jaga lab komputer. Jumat ini guru kelas lima nggak ngapa-ngapain, tetapi saya yang disuruh jaga bel. Ini yang membuat saya sakit hati sampai sekarang. Saya itu ngajar di lantai dua. Bolak-balik ke lantai satu untuk membunyikan bel. Oh iya jujur aja sulit ini.
Jam 06:55, saya memandu doa. Karena guru agama bertugas jaga ujian di sekolah lain. Senin sampai Jumat tuh saya mandu doa melalui mic sekolah. Setelah itu, jam 07:15 saya membunyikan bel. Jam 07:30, saya membunyikan bel. Jam 09:25 saya membunyikan bel dan yang terakhir jam 10:00, saya juga membunyikan bel. Di hari Rabu hingga Jumat itu durasi mengerjakan soalnya berbeda. Alhasil saya membunyikan belnya juga berbeda waktunya. Kadang saya jam 08:25 membunyikan bel. Kadang juga 08:55 saya membunyikan bel. Jujur saja, pekerjaan ini tidak mudah. Tetapi saya yang dipercaya oleh kepala sekolah ya sudah.
Saya tuh lihat ada guru yang nganggur di ruang guru. Yang saya sering lihat itu guru kelas 6. Nggak tahu ya, nggak ada ini yang inisiatif coba bilang "mas biar saya saja yang jaga bel. Sampean jaga kelas saja. Kasihan sampean jaga bel setiap hari." Nggak ada itu yang berbunyi seperti itu. Tapi dalam hati saya, nggak apa-apa sudah. Saya lakukan ini dengan niat menolong. Semoga suatu saat kalau saya perlu bantuan, Allah mau bantu saya lewat perantara orang lain.
Yang paling saya kesel itu waktu hari terakhir ujian yaitu hari Jumat. Saya lihat di jadwal, ujian akan selesai jam 08:30. Jadi saya jam 08:22 ke ruang bel. Saya berjalan melalui ruang guru. Guru kelas 6 bilang, "jangan dibel dulu, waktunya berubah. Nanti aja jam 09:23 sampean ke sini." Beberapa saat kemudian, saat saya makan tiba-tiba ada murid saya bilang "pak disuruh tekan bel sama Bu C, disuruh cepetan." Wah dari sana saya kaget karena ini masih jam 08:58. Saya turun ke lantai bawah. Di situ saya lihat dua guru kelas 6 menunggu saya dan berkata "maaf salah ngasih tahu jadwal tadi, cepetan dibel pak." Nah, jujur saya kesal ini. Saya lagi enak-enak makan disuruh tekan bel. Harusnya jam 08:55 itu saya tekan bel satu kali dan 09:00 empat kali. Nah ini saya jam 09:02 langsung tekan bel empat kali. Saya lihat dari kejauhan penjaga ruangan sudah tolah-toleh itu menunggu bunyi bel. Sedangkan ujian selesai jam 09:00. Guru kelas 6 bilang jam 09:30 tadi ke saya ya sudah. Yang ujian kelas 6, dan guru kelas 6 sendiri pun nggak tahu kapan jadwal ujian berakhir. Setelah itu minta maaf begitu ke saya. Boleh dikatakan saya telat 2 menit di sini untuk tekan bel. Saya itu di lantai 2 loh. Lumayan jauh jaraknya ke ruangan bel.
Bagi yang belum tahu, bel itu ada artinya. Bunyi 3 kali, peserta didik memasuki ruangan. Bunyi 2x, peserta didik mulai mengerjakan. Bunyi 1x, waktu mengerjakan tinggal 5 menit. Dan bunyi 4x, ujian selesai dan peserta boleh meninggalkan ruang ujian. Yang saya sesalkan hari Jum'at itu saya tidak tekan bel bunyi 1x karena telat tadi. Di balik kejadian ini, saya nggak tahu mau bilang apa lagi. Saya suka diambil butuhnya dan sering dimanfaatkan. Tapi ya gini tugas aktor di balik layar. Itu anak-anak kelas 6 nggak ada yang tahu sampe sekarang kalau bel berbunyi karena saya. Mereka tahunya bel itu berbunyi otomatis. Dan terakhir kepala sekolah nggak ada empatinya itu pada saya. Pas rapat bilang A, kenyataannya berbeda. Ah sudahlah....