Sesepuh yang Aktif di Masjid tinggal Satu
Jujur, hari ini adalah momen paling menyedihkan bagi saya. Hari ini, saya ditinggal selama-lamanya oleh pak de Sumitro. Beliau adalah sesepuh yang aktif adzan dan sholat berjamaah di masjid. Terus terang saja saya merasa belum ikhlas begitu. Kini di masjid tempat tinggal kami, sesepuh yang aktif tinggal satu yaitu pak Mistari seorang.
Hari Kamis saya tengah rebahan di rumah. Ibu saya masuk rumah lalu berkata "pak Mitro sekarang nazak, coba sana lihat." Mendengar itu, saya langsung bangkit dari tempat tidur. Jujur saja, badan saya gemetar. Saya ke rumah pak Mitro ditemani oleh adik saya. Sampai di sana, saya tak kuasa melihat kondisi beliau. Saya pegangi tangan beliau. Tidak lupa, saya doakan beliau. Terus terang, saya takut sekali melihat keadaan beliau. Saya belum siap beliau meninggalkan saya selamanya. Saya menemani beliau di kamar kurang lebih satu jam. Lalu setelah itu saya pulang.
Keesokan harinya pukul 12:10 ba'da sholat Jum'at, ada pengumuman dari speaker masjid. Isi pengumuman itu adalah kabar dukacita bahwa pak Mitro meninggal dunia. Mendengar itu saya tak kuasa menahan air mata saya. Beliau itu baik sekali loh sama saya. Nggak cuma baik, hubungan kami berdua itu akrab dan dekat. Saat masih sekolah, saya setiap pagi itu suka mandi sungai. Setiap ke sungai, saya selalu bertemu pak Mitro. Ya ngobrol lah kami di sana. Setiap hari saya selalu bertemu beliau juga di masjid. Beliau itu nggak pernah bolong jamaahnya. Beliau selalu datang lebih awal untuk mengumandangkan adzan. Usia beliau sudah 70-an. Setelah selesai sholat ya kami ngobrol dan bercanda lagi. Beliau itu selalu memanjakan saya dan berharap suatu saat nanti saya dapat menjadi penerus yang baik setelah pendahulu-pendahulu kami. Dari beliaulah saya tahu, kisah masa lalu di mana saya dekat dengan almarhumah nenek saya.
Perlu diketahui, di masa saya, sesepuh yang aktif di masjid itu ada lima. Sebut saja namanya almarhum bapak Misto, Maryono, Slamet Muk, Mitro, dan Mistari. Keempatnya sudah meninggal dunia dan menyisakan pak Mistari seorang. Itu juga yang kemudian membuat saya sulit membendung air mata. Bukan karena apa, saya merasa belum bisa membanggakan mereka. Jujur, saya ingin mereka datang dan melihat pernikahan saya. Tapi takdir berkata lain, empat dari mereka berlima meninggalkan saya selamanya.
Lanjut pada cerita. Sekitar pukul 13:00, hujan turun dengan derasnya. Hal itu juga sedikit menunda prosesi pemakaman. Sampai-sampai, saya akhirnya ketiduran. Ba'da ashar hujan mulai reda, hanya gerimis saja. Sepupu saya menjemput dan mengajak ke pemakaman naik sepeda motor. Di sini, kami punya tugas memandu jalan. Saya ke makam hanya mengenakan kaos dan celana pendek saja mengingat kondisi makam yang penuh lumpur setelah diguyur hujan deras. Jujur, dari sini saya tahu yang mengantarkan beliau ke pemakaman tidak banyak. Saya tahu karena memang cuaca kurang mendukung.
Ketika jenazah pak Mitro diturunkan ke liang lahat, saya itu tak kuasa meneteskan air mata. Begitu dikumandangkan adzan, dada saya terasa sesak sekali. Di otak saya muncul "saya ingin beliau lihat saya nikah." Saya juga ingin beliau melihat saya sukses dan menjadi guru atau dosen yang baik. Itu yang membuat saya sulit menahan air mata. Beliau sudah tahu saya berhasil menjadi imam masjid. Tapi itu saja belum cukup. Saya ingin membuktikan diri lebih dari itu kepada beliau. Karena jujur saja, saya hanya ingin membuktikan diri pada orang yang saya hargai. Saya nggak ada kepentingan untuk caper dan membuktikan diri pada orang yang sama sekali tidak saya hargai.
Di saat yang lain mulai satu-persatu meninggal area makam. Saya duduk sendiri di sana dan mendoakan beliau. Semoga beliau bisa menjawab pertanyaan-pertanyaan dari malaikat Munkar dan Nakir. Sepupu saya dari kejauhan melambaikan tangan pada saya. Akhirnya saya pergi meninggalkan makam. Boleh dikatakan, saya orang paling akhir di sana. Saking begitu cintanya saya kepada bapak Sumitro. Pergi meninggalkan makam itu saya nangis sejadi-jadinya. Ingus keluar berkali-kali dari hidung juga nggak begitu saya hiraukan. Kepala saya pening sekali. Itu mungkin karena terkena hujan atau menahan air mata keluar.
Tulisan ini saya tinggalkan di sini sebagai jejak bukti bahwa saya sangat mencintai para pendahulu saya. Mereka semua orang baik dan berjasa pada hidup saya. Setiap ketemu saya, mereka selalu menasehati saya. Almarhum pak Slamet Muk dan pak Misto itu guru ngaji saya. Almarhum pak Maryono itu bukan guru ngaji tapi sering pulang paling akhir saat tadarusan di masjid. Saya dan almarhum pak Maryono itu ya Allah suka sekali bercanda. Kalau dekat dengan beliau saya itu selalu tertawa jujur saja ini. Kini pak Sumitro menyusul mereka bertiga. Saya doakan lewat tulisan ini semoga kuburnya terang, dosa-dosanya diampuni, dan yang paling penting bisa berkumpul di surganya Allah SWT. Yang terakhir di sini, saya mohon maaf apabila pembaca menemukan ritme penulisan yang kurang baik. Lalu menemukan ketidakkorelasian antara ide pokok dan kalimat penjelas. Karena jujur saja, saya juga sedih dalam menulis tulisan ini. Sulit menulis dalam keadaan emosional seperti ini. Otak berpikir, tangan mengetik, sementara hati menangis karena kehilangan.