Tidak Ada yang Memberitahu Sesulit itu Menjadi Guru Honorer
Jujur saja, nggak ada orang yang ngasih tahu saya betapa sulitnya jadi guru honorer. Kalau dari awal saya tahu, jujur saya nggak akan mau jadi guru honorer. Di samping gaji rendah, kepastian untuk diangkat jadi PNS atau PPPK itu belum jelas. Dengan kata lain, kesejahteraan hidup seorang guru honorer di negeri ini amat mengkhawatirkan. Kadang saya kesal melihat mahasiswa baru lulus, lalu jadi guru honorer gayanya petantang-petenteng. Nasib jenjang karirmu itu belum jelas batin saya.
Zaman saya SMA, guru saya pernah berpesan di kelas "setelah lulus SMA, kuliah ngambil jurusan pendidikan sejarah. Karena guru sejarah sekarang langka." Baik, saya akui itu benar apa adanya. Tapi di sini poin pentingnya adalah sang guru tidak memberitahu kami bahwa untuk menjadi guru itu ada tingkatannya. Tingkatkan terendah adalah Wiyata bakti atau guru honorer tidak tetap yang mengajar di sekolah. Gajinya juga miris teman-teman karena sumber gajinya dari dana BOS. Jadi nominalnya bervariatif. Mulai ada yang 150, 200, 300, hingga 700 ribu perbulan. Bahkan kapan hari saya pernah baca di Instagram, ada guru honorer belasan tahun mengajar hanya digaji 12 ribu rupiah perbulan. Ya Allah menyedihkan sekali itu.
Saya kuliah ngambil prodi pendidikan bahasa Inggris. Artinya di sini saya calon pendidik. Selama perkuliahan, dosen tidak memberitahu saya besaran gaji yang diterima oleh guru honorer. Beliau-beliau juga tidak pernah memberitahu saya bahwa sesulit itu memulai karir sebagai seorang guru. Yang terjadi akhirnya saya tersesat sendiri. Saya pernah mendengar kata-kata guru honorer itu di SMA. Tapi saya sendiri belum paham apa sih guru honorer itu. Dan saya juga tidak mengerti bahwa ternyata gaji guru itu berbeda-beda. Dulu pas SMA, setahu saya guru ya sudah guru dengan gaji yang sama. Bayangan saya pas SMA jadi guru itu enak. Karena kebanyakan guru saya datang ke sekolah mengendarai mobil. Itu juga yang kemudian membuat saya tertarik untuk terjun di dunia pendidikan. Sampai pada akhirnya, saya berpikir ternyata sulit juga ya jadi guru, apalagi masih honorer.
Sampai sekarang itu saya masih berpikir, kenapa tidak ada yang memberitahu saya bahwa sepedih itu jadi guru honorer. Bayangkan saja perbulan digaji 400 ribu. Nominal itu lebih kecil dari penghasilan yang saya dapatkan saat mengajar di tempat les selama sebulan. Di sekolah saya dapat 400 ribu perbulan, di tempat les saya bisa dapat 900 ribu hingga 1 juta perbulan. Tahun 2021 saya memulai karir sebagai guru honorer dengan gaji 400 ribu perbulan. Bayangkan, gaji saya sama dengan gaji tukang kebun lulusan SMA. Tahun 2025, saya ngajar di tempat berbeda. Gaji saya masih tetap 400 ribu tuh sedangkan tukang kebun 500 ribu. Padahal saya sudah S1 plus punya sertifikat pendidik. Puhh perih loh hati saya. Tahu gitu lulus bangun tempat les-lesan saja ya kan.
Passion saya itu ngajar. Saya cinta sekali jadi guru, walaupun statusnya masih honorer. Tetapi semakin kemari saya semakin sadar bahwa saya telah ditipu dengan dalih "mengabdi". Berapa lama mengabdi, kan gitu. Di tempat ngajar saya, itu ada yang sudah 17 tahun ngajar baru diangkat jadi PPPK. Ada yang dari tahun 2019 mengajar, baru dingkat jadi PPPK di tahun 2025 kemarin. Nah, saya ini yang nggak tahu kepastiannya kapan. Kayak yang sudah mau menyerah gitu rasanya. Saya ikut PPG kemarin tujuannya ya agar jenjang karir saya lebih baik dari sebelumnya. Tetapi mungkin ini belum saatnya. Saya ngajar mulai dari tahun 2021. Tahun 2024 awal saya resign karena ikut PPG. Padahal saya ngajar sudah dua tahun lebih sekian bulan. Harusnya saya dapat SK Bupati dan bisa masuk dapodik. Saya sudah mengajukan sebanyak tiga kali. Tapi saya tidak tahu kenapa saat itu saya belum juga masuk dapodik. Desember 2024 saya lulus PPG, sempet ikut PPPK tahun 2025 di Kabupaten Malang tapi sayang tidak lolos. Hal itu juga yang kemudian membuat saya mulai dari bawah lagi untuk jadi guru honorer. Sekarang sudah 2026, saya belum tahu kepastiannya ke depan seperti apa. Ya hanya bisa berdoa dan berharap kepada Tuhan saja.
Terus terang saja, sulit jadi guru honorer. Bukan soal gaji saja, tetapi juga beban administrasi. Belum lagi jika di sekolah ada yang namanya diskriminasi antara guru honorer dan ASN. Serba repot juga iya katanya. Sekolah tidak merekrut honorer ya kewalahan mengingat guru ASN nya sedikit. Jadi mereka butuh tenaga honorer. Beban ngajar sama, tetapi upah berbeda akhirnya. Nah, ini kabarnya sekolah dilarang merekrut guru honorer lagi. Nggak jelas pokoknya kelanjutannya. Larangan itu menurut pengakuan rekan sesama guru sudah ada sejak 2015. Tapi faktanya banyak sekolah negeri yang masih merekrut guru honorer. Pesan saya segerakanlah membuka lamaran PPPK atau CPNS guru dengan formasi yang banyak. Kita tahu berapa ratus ribu guru yang pensiun tahun ini. Dan kita juga harus melek berapa juta guru honorer tahun ini yang belum jelas masa depannya. Uniknya guru dan dosen saya tidak memberitahu saya soal itu. Kalau dari awal tahu sesulit ini berkarir sebagai guru, saya mending daftar jadi masinis saja. Terima kasih