"Hmm itu" Katanya
Tanggal 5 Juni kemarin, diadakan sebuah gladi resik dalam rangka perpisahan siswa kelas 6. Menjelang maghrib, anak-anak diminta untuk istirahat dan sholat. Beberapa saat kemudian, saya perhatikan ada satu anak kesana kemari mencari sesuatu. Setelah saya tanya, rupanya dia kehilangan uang sebesar 10 ribu. Singkat cerita, uang dia yang hilang saya ganti dengan nominal yang sama.
Setelah saya ganti, dia bilang "besok saya ganti ya pak." Saya jawab "besok saya izin nggak ke sekolah. Sudah ambil kamu aja nggak usah diganti." Singkat cerita, dia lalu pergi beli-beli bersama temannya. Tidak lama kemudian, dia kembali ke sekolah. Di depan ruang guru, dia bertemu guru kelasnya. Lalu dia berkata "Bu uangku yang hilang tadi sudah diganti sama pak Galuh." Guru kelasnya hanya bilang "hmm itu."
Terus terang, di sini saya terganggu dengan ucapan "hmm itu." Setelah mengucapkan itu, tidak ada aksi susulan seperti sekedar basa-basi atau mengucapkan terima kasih pada saya. Guru kelasnya langsung masuk ke ruang guru. Padahal, di depan ruang guru ada saya. Saya sedang duduk-duduk saat itu. Saya kalau ada di posisinya, saya akan mengucapkan terima kasih dan memberi uang 10 ribu balik padanya. Itu sebagai ganti karena sudah membantu anak didik saya. Nggak ada, dia langsung masuk ruang guru saat itu. Saya hanya berpikir positif. Mungkin dia banyak pikiran begitu.
Bagi saya ini adalah temuan lucu begitu. Bagaimana mungkin seorang pendidik yang dibekali segudang ilmu bisa mengucapkan "hmm itu" setelah peserta didiknya dibantu. "Hmm itu" artinya apa sih? Saya pribadi tidak paham. Saya hanya bisa sedikit mengerti jika membayangkan situasi di mana saya menghadapi kesulitan dalam mengerjakan soal. Lalu saya tanya pada guru saya "Bu ini gimana caranya? Sulit sekali saya tidak tahu cara mengerjakannya." Gurunya jawab "jawabannya semua ada di buku paket, coba cari sendiri kan sudah bukan anak kecil lagi." Lalu saya bilang "nggak ada loh Bu sulit ini soalnya." Gurunya hanya bilang "ada coba cari lagi dengan teliti." Setelah soal sulit tadi terselesaikan, saya bilang pada guru saya "Bu soal sudah selesai saya kerjakan, jawabannya sudah ditemukan." Lalu gurunya bilang "hmm itu."
Melalui ilustrasi di atas saya bisa sedikit menggambarkan bahwa saat kehilangan uang, si anak sudah mengadu pada gurunya. Namun, di sini tidak ada tindakan solutif dari sang guru seperti "ya sudah ini saya ganti uangmu" atau "oke saya bantu cari ya." Sang guru hanya berkata "coba cari lagi, pasti ketemu itu jatuhnya di mana. Makanya lain kali jangan teledor naruh uang." Setelah uang itu ketemu, gurunya bilang "hmm itu." Ini masih masuk dan bisa diterima akal saya. Masalahnya di sini kan uang anak itu adalah pemberian dari saya. Uang itu bukan milik anak itu sendiri. Uangnya dia sampai sekarang nggak tahu sudah ditemukan atau belum. Sehingga ucapan "hmm itu" terdengar tidak masuk sekali di benak saya.
Dalam aturan tak tertulis, seharusnya sang guru menemui dan mengucapkan terima kasih pada saya sebagai bentuk respect. Bukan justru bilang "hmm itu." Karena situational konteksnya tidak masuk. Atau kalau perlu, mengganti uang 10 ribu itu balik pada saya. Mengingat dia kan guru kelas dari anak itu. Tapi walaupun diganti pun, saya tetap tidak mau. Jadi yang masuk akal dalam hal ini adalah cukup mengucapkan terima kasih pada saya. Itu nilainya lebih tinggi dari angka uang nominal 1 juta di mata saya. Sekian terima kasih...