Sama saja Rupanya
Beberapa hari lalu, saya ikut menemani ayah saya survei penduduk di Kecamatan Jelbuk. Di tengah perjalanan, tepatnya di depan lampu merah, saya melihat seorang pemuda berboncengan dengan pacarnya berhenti di kiri jalan. Sehingga hal itu membuat pengendara lain di belakangnya, tidak bisa bermanuver ke arah kiri. Padahal terdapat tulisan "belok kiri jalan terus." Oleh karena adanya pemuda tersebut, pengendara di belakangnya mengklaksonnya. Pengendara di belakangnya tampak ingin belok ke arah kiri. Mendengar klakson dari pengendara lain, pemuda tersebut bukannya menepi memberi ruang bagi pengendara di belakangnya, tetapi langsung lurus tancap gas di saat lampu masih menyala merah.
Melihat pengendara motor tersebut berhenti di pinggir jalan saya hanya berkata dalam hati "orang ini hanya tahu mengendarai motor tetapi tidak tahu peraturan lalu lintas." Seperti pembatas jalan dan rambu-rambu lalu lintas tidak tahu dia itu. Dilihat dari cara duduk di atas motor dan gaya penampilannya, ia tidak merepresentasikan manusia yang terdidik. Oleh karena tidak tahu pembatas jalan dan tulisan "belok kiri jalan terus" di depannya, akhirnya dia berhenti di tengah ketidaktahuan. Padahal di tepi kanan itu ada ruang kosong, tetapi justru dia memilih menepi ke sebelah kiri yang merupakan jalur pengendara lain. Diklakson malah jalan terus, padahal lampu masih merah. Seandainya dia ASN, pasti dia tahu hal-hal kecil seperti itu.
Di tengah perjalanan pulang dari sekolah, saya terhenti di lampu merah. Tampak seseorang mengenakan seragam keki berhenti di kiri jalan. Sudah dapat saya pastikan dia seorang ASN. Dalam hati saya "sama aja rupanya." Ini yang harusnya jadi contoh, malah melanggar tata tertib berlalulintas. Padahal penanda batas jalan sudah jelas. Tulisan "belok kiri jalan terus" juga sudah jelas. Kalau dia mau jalan lurus, ya menepi sedikit ke kanan beri akses pengendara lain yang mau belok ke kiri. Kalau dia berhenti di kiri jalan, pengendara lain jadi terhalang olehnya. Lah iya masak kayak gitu nggak tahu. Kan nggak ada bedanya dengan pemuda yang tadi. Saya kira karena sudah jadi ASN ngerti lah, rupanya sama aja.
Pelajarannya di sini adalah status sosial bukanlah tolak ukur kita dalam menilai kebajikan seseorang. Mau dia pengangguran atau ASN sekali pun, tidak menjamin mereka paham hal-hal kecil seperti berlalulintas. Wong kalau pagi hari saat saya piket, saya sering lihat pengendara dengan status ASN melanggar rambu lalu lintas. Padahal lampu masih merah, malah banyak yang jalan terus. Itu di rambu lalu lintas dekat area sekolah loh. Ya kesimpulannya sekali lagi nggak menjamin orang itu paham atau tidak hanya dilihat dari status sosialnya.