Teman Saya Hilang Satu per Satu

       Novita, adalah teman saya dari MTs, MA, dan kuliah. Hanya saja, kami kenal tetapi tidak akrab. Ya hanya kenal saja begitu. Bahkan ngobrol pun hampir tidak pernah. Saya juga tidak ingat kapan terakhir kali ngobrol dengan dia saat masa sekolah dan kuliah. Setelah sekian lama, saya bertemu dengannya kembali di SDN Patrang 1. Di sini kami menjadi rekan sesama guru. Kami juga banyak ngobrol dan saling bertukar pikiran di sini. Sebelum pada akhirnya, seminggu kemudian dia menyatakan resign dari sekolah. Dia mengundurkan diri karena suaminya diterima sebagai guru sekolah rakyat yang penempatannya di Madura. Terus terang saja, baru seminggu kehilangan teman rasanya lumayan sedih. Karena di mata saya Novita itu orangnya baik dan nyambung ketika diajak bicara. Namun di sini sebagai teman, saya doakan yang terbaik untuk dia dan suaminya di sana. 

      Naufal, seorang penjaga sekolah. Dia dua tahun lebih tua dari saya. Baru mengenalnya dua hari, saya langsung akrab. Karena dia tahu caranya menghargai. Selain itu, usia kami tidak terpaut jauh sehingga topik pembicaraan kami masih nyambung. Kami sering bercanda satu sama lain. Saling membantu ketika sekolah mengadakan acara. Saat ngobrol dengannya, tidak ada kata-kata dia yang menyinggung atau pun menyakiti perasaan saya. Jujur saja, saya nggak pernah terlibat konflik dengannya. Dua bulan kemudian dia resign. Saya nggak tahu alasan pasti dia resign. Menurut dugaan saya, dia resign karena terlibat konflik internal dengan sesama penjaga di sekolah kami. Terus terang saja saya sedih kehilangan dia karena dia orang baik dan pandai caranya menghargai. 

      Halimah, guru kelas 1B. Selain Novita, saya merasa cocok ketika berbicara dengannya. Dia mendapatkan gelar sarjana di kampus yang sama seperti saya. Bedanya saya angkatan 16, dia angkatan 18. Di UT dia menempuh S1 kembali agar bisa mengikuti PPG Prajabatan. S1 sebelumnya, dia mengambil prodi PAI. Di UT dia mengambil prodi PGSD. Nah, yang saya suka dari dia adalah ketika diajak berbicara dia tahu sikon. Dia tahu kapan bercanda dan serius. Ketika berbicara dengannya, dia nggak pernah menyakiti perasaan saya. Dengan kata lain, dia tahu caranya menghargai. Tidak seperti kebanyakan guru-guru muda yang lain. Selain mengajar, dia juga aktif menjaga kantin sekolah. Ketika jam istirahat, dia berdiri dan melayani anak-anak yang mau beli-beli. Pertengahan bulan Maret 2026, dia resign karena ikut suaminya di Sidoarjo. Saya bersama rekan guru sempat hadir di acara pernikahannya. Saya sedih kehilangan teman baik seperti dia jujur saja. Dia banyak membantu saya lah selama mengajar di sekolah. 

      Bu Dewi, kepala sekolah kami. Orang yang penuh kehati-hatian dalam menjalankan tugas. Walaupun kebijakannya penuh kontroversial, saya masih menyimpan rasa respect terhadap beliau. Jasa beliau besar sekali untuk sekolah kami, ya walaupun dosanya juga besar. Bulan Juni kemarin, beliau dimutasi di sekolah lain. Jujur ketika masuk ruang kepala sekolah, melihat meja kerja tanpa kehadiran beliau, saya jadi kangen dan teringat beliau. Dah sampai sini aja gak usah banyak-banyak. 

       Hasbi, seorang penjaga penggantinya Naufal. Saya berteman akrab dengan dia. Dari dia saya tahu, bahwa saudara saya adalah saudara dia. Jadi Hasbi saudara saya juga dong. Dia orang baik dan tekun bekerja. Jika dibandingkan dengan Naufal, dia lebih rajin menurut saya. Sebagai penjaga, dia harus datang lebih pagi dari kami. Bahkan saya tahu dia pernah bermalam di sekolah ketika ujian TKA hendak berlangsung. Dia juga mengaku pernah menyapu sekolah jam dua dini hari. Dengan gaji kecil seperti itu, rasanya tidak sebanding dengan tenaga yang dia keluarkan. Mungkin itu alasan dia memilih resign. Dia resign masih lima hari yang lalu. Ketika berpamitan dengan kami, dia masih senyum-senyum begitu. Alasan kedua mungkin karena dia mau kuliah. Dia memasuki ajaran baru bulan Agustus di UT. Saya orang pertama kali di sekolah yang menyarankan dia untuk kuliah. Awalnya dia menolak. Tapi saya terus nasehati dia sampai akhirnya dia memberanikan diri untuk daftar kuliah di UT. 

       Dari kelima orang di atas, semua saya kangeni. Tapi saya lebih kangen dengan Naufal dan Hasbi. Karena mereka laki-laki, jadi saya lebih banyak ngobrol dengan mereka. Naufal itu orang baik, Hasbi pun juga orang baik, ya walaupun mereka berdua jarang sholat. Yang lucu itu Hasbi. Sudah berjalan menuju masjid untuk sholat Jum'at, dirinya malah belok ke warung untuk beli rokok. Nah, ngomong-ngomong rokok, Hasbi ini jadi setan di sekolah. Dia selalu menggoda saya untuk merokok. Sudah saya katakan, saya itu nggak bisa merokok. Dia terus nggak ada capek-capeknya membujuk saya. Kendati demikian, dia itu orang baik dan berharga bagi hidup saya. Kini teman saya satu per satu telah hilang. Tetapi namanya kekal dalam diri saya. Terima kasih sudah berbagi tawa. Saya doakan kalian sukses selalu dan bahagia di sana. 




Postingan populer dari blog ini

Kalau mau Ngasih, Kasih aja

Mengganti Permainan Tepuk-Tepuk di Sekolah

Oh Jadi ini Biang Keroknya