Postingan

Menampilkan postingan dari November, 2025

Hari Guru 2025: Momen yang sangat Sulit untuk Dilupakan

Gambar
           Saya rasa, hari guru kemarin, menjadi momen yang sulit dilupakan bagi saya. Sebab saat ini saya mengajar di tempat yang berbeda. Selain itu, saya juga menjabat sebagai guru kelas. Berbeda dengan sebelumnya, di mana saya menjabat sebagai guru mata pelajaran.         Menjadi guru kelas, umumnya mendapat perlakuan yang berbeda di hari guru. Di mana banyak sekali kejutan, prank, hadiah yang diberikan oleh siswa-siswi kepada guru kelas tercintanya. Berbeda dengan guru mapel, yang tak mendapat sambutan semeriah guru kelas. Tapi bukan itu sih poinnya.         Hari guru adalah hari yang dinanti-nanti oleh seluruh siswa. Di kelas saya misalnya, mereka telah merencanakan surprise jauh-jauh hari. Menurut saya itu terlalu berlebihan begitu. Untuk saya, cukup berikan ucapan selamat saja. Tetapi kemarin itu berbeda. Saya justru mendapat sambutan yang luar biasa meriah. Dan saya berterima kasih untuk itu.  ...

UTS dan UAS di Kampus lebih baik Ditiadakan

      Selama saya menempuh pendidikan S1, saya belum pernah menemukan ada dosen membagikan hasil ulangan mahasiswanya. Saya juga tidak tahu kira-kira kenapa ya? Tahu-tahu kita dapat A aja gitu. Jangan bagi deh, ngasih tau nilai ulangan kami saja nggak pernah. Itu kayak kita datang periksa ke dokter, tapi dokter nggak ngasih tau kita mengidap penyakit apa.         Ulangan itu perlu dibagikan sebagai bahan refleksi bagi mahasiswa. Kalau nggak dibagikan, mahasiswa tahu dari mana kalau jawaban ulangan mereka benar semua? Ya nggak tahu ya, yang pasti setelah ulangan diserahkan ke dosen ya sudah selesai. Koreksi bersama atau apa nggak ada itu selama saya jadi mahasiswa. Dosen di kelas menerangkan soal pentingnya refleksi dan evaluasi. Lah sama dirinya sendiri tidak dipraktekkan.        Masih menjadi misteri kenapa ya ulangan di kampus itu nggak pernah dibagikan ke mahasiswanya. Yang terjadi di sini akhirnya prasangka. Apa oleh beliau...

Lanjutan Program Sabtuan: Berkunjung ke Rumah Aqila

       Kemarin saya pergi ke rumah murid saya bernama Aqila. Rumah dia terletak tidak jauh dari rumah sakit Dr. Soebandi. Sampai di rumah dia, saya disambut oleh kakek dan nenek Aqila. Tidak lupa saya juga disambut oleh Mareta, murid saya yang kebetulan rumahnya dekat dengan Aqila. Saya menyambut balik dengan ramah dan suka cita. Alhamdulillah kemarin cuacanya mendukung sehingga program Sabtuan ini dapat berjalan.         Tidak lama kemudian, masuk seorang laki-laki. Ternyata ia adalah ayahnya Aqila. Saya dan ayahnya Aqila ngobrol panjang lebar. Sehingga saya hanya memiliki waktu sekitar 40 menit untuk belajar bersama Aqila dan Mareta. Kami belajar bersama di ruang tamu, dan di sana ayah Aqila juga ikut duduk.  Dari awal sampai akhir, beliau itu selalu bercerita. Alhasil fokus saya terbagi di sini. Satu mendengar cerita beliau, satu saya juga harus memberikan pelajaran pada Aqila dan Mareta. Tapi saya tidak masalah sebenarnya. Karena mem...

Berkonflik dengan Dosen

       8 tahun silam tepatnya akhir semester genap di tahun 2017, saya pernah konflik dengan dosen Bahasa Indonesia di kampus saya. Awal mulanya di pagi hari sekitar pukul tujuh, saya melihat isi grup mata kuliah bahasa Indonesia. Di dalamnya terdapat chat dosen yang menanyakan kami mau dikasih nilai apa. Sekitar tiga mahasiswi ada yang menjawab terserah dan mengembalikannya lagi pada dosen mau memberi kami nilai apa, T+ juga tidak apa-apa. Awalnya saya diam, tapi kami terus dipancing dan tersudutkan hanya karena nilai begitu.         Saat itu saya mengidap penyakit gatal-gatal. Pagi hari, saya mandi dengan air hangat untuk mengurangi rasa gatal tersebut. Masuk kamar, bukannya langsung ganti baju, saya buka hp dan membaca isi chat di grup bahasa Indonesia tersebut. Saya kira isinya penting begitu. Emosi saya kurang stabil sehingga pada akhirnya saya spontan respon di grup. Saya respon "ini yang ngasih pertanyaan aneh sekali. Mahasiswa kok dis...

Lanjutan Program Sabtuan: Berkunjung ke Rumah Icha

       Minggu lalu, saya berkunjung ke rumah murid saya bernama Icha. Begitu masuk rumah, saya langsung disambut oleh ayahnya Icha. Icha, Avila, dan Fida ada di ruang keluarga. Mereka malu-malu ketika tahu ada saya berkunjung di rumah Icha. Perlu diketahui, Avila dan Fida ini adalah tetangga Icha.        Seperti yang saya katakan, saya disambut baik oleh ayah Icha. Di sini terjadi obrolan antara saya dan ayah Icha. Beliau tanpa saya tanya, langsung memberitahu bahwa beliau dengan ibu Icha itu sudah lama bercerai. Ketika beliau kerja, Icha yang baru pulang sekolah itu dititipkan ke rumah ayahnya Avila. Kebetulan ayahnya Avila adalah ketua RT setempat. Beliau juga meminta maaf kepada saya bahwa beliau itu hampir tidak pernah mendampingi Icha belajar. Semenjak cerai dengan ibunya Icha itu, pikiran beliau sudah tidak karuan. Beliau oleh ibu Icha ditinggalkan begitu saja tanpa pamit. Atau dengan kata lain, ibu Icha meninggalkan rumah tanpa sepengatahua...

Jangan pernah Menunda Nazarmu kepada Allah SWT

       Tiga hari yang lalu, saya ngobrol soal skripsi bersama sepupu saya. Dia sudah semester tujuh dan sedang menyusun proposal penelitian. Di tengah-tengah obrolan itu, dia berkata "kalau Desember ini aku sempro, aku mau naruh takjil pas hari Jum'at di masjid dekat sini mas." Saya ingatkan dia "itu nazar namanya. Kamu harus janji pada dirimu sendiri untuk menepati itu nanti. Kalau tidak, rumahmu akan didatangi ular." Dia tanya "kok bisa mas?"         Tahun 2017 silam, saya pernah mengikuti perlombaan di kampus. Melewati mulut gapura kampus, saya melihat ada seorang kakek tua berjualan es lilin. Saya amat kasihan melihat pemandangan itu. Lalu kemudian saya nazar "kalau saya menang lomba, saya mau kasih beliau uang." Begitu saya menang, nazar itu tak kunjung saya lakukan. Satu Minggu kemudian, rumah saya didatangi seekor ular yang sangat besar.         Sekitar pukul 11 malam, saya tiba-tiba terbangun. Lalu kemudian sa...

Menjelang Hari Guru: Butuh Waktu 100 Tahun untuk Berhasil Prank Saya

       Tadi pagi, di sela-sela pembelajaran Bahasa Indonesia, saya perhatikan anak-anak sedang  mendiskusikan sesuatu. Saya suruh beberapa anak untuk kembali ke tempat duduknya masing-masing. Setelah itu, mereka kembali lagi mendiskusikan sesuatu. Saya yang saat itu tengah membimbing siswa secara privat dalam menyusun langkah-langkah wawancara, tanya kemudian. "Kalian di sana itu diskusi tentang apa rek?" Dalam hati saya "oke gpp mereka berkumpul di sana. Paling ya diskusi tentang langkah-langkah wawancara." Salah satu dari mereka "gak ada pak."         Mendengar kata "gak ada pak." Ya jelas pasti ada sesuatu itu. Oh saya mau coba dibohongi. Saya lalu tanya ke Ayus, murid saya. "Diskusi tentang apa di sana yus?" Siswa-siswi yang lain bilang "jangan dikasih tahu yus! Awas kamu nanti ya." Sepintas memang saya amati ada yang disembunyikan dari saya. Tapi saya tahu itu apa. Lalu kemudian saya berkata "eh saya tahu kalian disk...

Program Sabtuan: Berkunjung ke Rumah Peserta Didik sebagai Misi Mengetahui Kehidupannya lebih Dekat

       Setiap hari Sabtu sore, saya memiliki program berkunjung ke rumah peserta didik saya. Program tersebut adalah inisiatif dari saya pribadi. Program ini saya balut dengan kata-kata belajar bersama. Walaupun sebetulnya, tujuan utamanya adalah mengetahui bagaimana sih interaksinya dengan lingkungan rumahnya.         Di kelas saya, dari 29 anak, ada 12 anak yang saya rasa perlu diteliti dan diselami kehidupannya. Sebut saja mereka adalah: Marsya, Ayus, Fida, Avila, Faris, Mareta, Aqila, Icha, Tasya, Zultan, Difkie, dan Nur. Karena selama saya memantau di kelas, kedua belas anak itu sangat lambat dalam menerima materi. Kalau dalam pembelajaran diferensiasi, mereka itu ada di kelompok belum mahir. Selain itu, perilaku mereka di dalam kelas tidak mencerminkan perilaku yang baik. Nah, saya merasa perlu di sini untuk menyelidiki masalah itu. Saya yakin ada yang mempengaruhi mereka bisa seperti itu. Pikiran saya langsung tertuju pada interaksi me...

Aneka Kue di Hari Senin

       Ketika punya rezeki, setiap hari Senin saya beli aneka macam kue untuk dibawa ke sekolah. Harganya murah, satunya hanya seribuan. Saya biasanya beli sepuluh buah kue. Kue-kue itu diperuntukkan untuk siswa-siswi yang tidak kuat saat mengikuti upacara bendera.         Saat upacara bendera, acapkali saya temui siswa-siswi yang kecapekan atau mengeluh tidak kuat menahan panas matahari. Setelah saya dekati dan tanyai, itu terjadi karena mereka berangkat ke sekolah dalam keadaan belum sarapan. Oleh karena itu, saya berinisiatif untuk beli kue setiap hari Senin. Kue-kue tersebut nantinya diperuntukkan bagi mereka yang kecapekan dan tidak kuat saat upacara.          Hari Senin berikutnya, saya melihat beberapa siswa-siswi kecapekan. Mereka menuju ke area paling belakang barisan upacara. Langsung saja tanpa basa-basi, saya langsung suruh mereka pilih kue yang saya bawa. Satu orang ambil satu. Air minum pun juga sudah sa...

Sekolahku terhalang Papan Reklame

       Saya tidak tahu ya kenapa sampai saat ini di depan sekolah tempat saya ngajar, terpampang banyak papan reklame. Saya lihat ada sepuluh yang masih berdiri. Tiga di antaranya menggunakan penyangga dari besi, dan tujuh yang lain menggunakan penyangga dari kayu. Iklannya macam-macam. Mulai dari PPDB, sosialisasi, proker pemerintah, dll. Dengan berdirinya sepuluh iklan tersebut, jelas menghalangi sekolah kami. Pengendara lain dari luar kota misalkan, tidak akan tahu kalau di belakang papan iklan itu ada sekolah. Pertanyaannya apakah pemasangan iklan tersebut sudah dapat izin ya? Kalau sudah, izinnya ke siapa?         Setahu saya, tidak boleh ada baliho atau spanduk iklan berdiri menghalangi sekolah. Saya sudah amati itu di sekolah-sekolah kota dekat rumah saya. Nggak ada saya lihat ada banner dan baliho yang tidak ada hubungannya dengan sekolah, berdiri bebas di depan seperti itu. Kalau banner siswa berprestasi boleh dipajang di depan sekol...