Postingan

Ada apa dengan Dengkul Pacarmu?

       Di sini kita sambil santai saja ya bacanya. Tulisan ini juga nggak terlalu berat untuk dikonsumsi. Berangkat dari rasa ingin tahu, tulisan ini akhirnya ditulis. Jujur, fenomena pegang lutut pacar di lampu merah sudah lama mengganggu pikiran saya. Namun, baru bisa saya tulis sekarang. Ingat, di sini kita santai-santai saja. Nggak serius ya nggak bercanda.         Aneh gak sih kalau kita pegang lutut pacar di jalan raya? Jujur, saya menilai itu aneh. Karena untuk apa begitu? Lutut pacarnya nggak cuma dipegang, tapi juga dielus-elus. Bagi saya yang tidak tahu, saya merasa bingung. Supaya apa ya gitu? Jujur, saya tidak tahu jawabannya. Pembaca kalau tahu dipersilahkan berkomentar.         Tadi sore misalnya, saya pergi isi bensin di SPBU. Sampai di antrean, depan saya pas tampak anak SMA antre sambil berboncengan. Di atas sepeda, si cowo mengelus-elus lutut atau dengkul si cewe. Maksud saya ngapain gitu ya. Pemanda...

"Hmm itu" Katanya

       Tanggal 5 Juni kemarin, diadakan sebuah gladi resik dalam rangka perpisahan siswa kelas 6. Menjelang maghrib, anak-anak diminta untuk istirahat dan sholat. Beberapa saat kemudian, saya perhatikan ada satu anak kesana kemari mencari sesuatu. Setelah saya tanya, rupanya dia kehilangan uang sebesar 10 ribu. Singkat cerita, uang dia yang hilang saya ganti dengan nominal yang sama.         Setelah saya ganti, dia bilang "besok saya ganti ya pak." Saya jawab "besok saya izin nggak ke sekolah. Sudah ambil kamu aja nggak usah diganti." Singkat cerita, dia lalu pergi beli-beli bersama temannya. Tidak lama kemudian, dia kembali ke sekolah. Di depan ruang guru, dia bertemu guru kelasnya. Lalu dia berkata "Bu uangku yang hilang tadi sudah diganti sama pak Galuh." Guru kelasnya hanya bilang "hmm itu."         Terus terang, di sini saya terganggu dengan ucapan "hmm itu." Setelah mengucapkan itu, tidak ada aksi susulan sepert...

Nasehat Pertama dari Guru Senior kepada Anak-Anak Kelas 6

       Ialah Bu Elly, guru senior di sekolah kami. Beliau mengajar sudah puluhan tahun. Saya pribadi tidak tahu beliau mengajar mulai tahun berapa. Namun, ibu saya punya teman yang mana teman tersebut pernah diajar oleh Bu Elly. Dari sini, saya berspekulasi bahwa Bu Elly mulai mengajar sejak tahun 80-an.         Kemarin ada momen kelulusan kelas 6. Setelah semua dinyatakan lulus, mereka semua diminta untuk bersalaman kepada semua guru yang ada di halaman sekolah. Saya yang saat itu berada di samping Bu Elly mendengar sendiri nasehat yang beliau ucapkan kepada mereka. Setiap anak yang bersalaman dengan beliau, beliau menasehati "nanti kalau SMP nggak usah pacar-pacaran."         Nasehat itu keluar bukan tanpa alasan mengingat anak-anak sudah mulai masuk masa pubertas. Di mana pada masa itu salah satunya mulai ditandai dengan rasa ketertarikan terhadap lawan jenis. Nah, cara yang lazim dilakukan oleh anak-anak SMP untuk...

Malas karena Isi Bensin?

       Tadi siang, ada teman sesama guru mau pinjam sepeda motor saya karena sepeda dia nggak bisa dihidupkan. Oke saya bolehkan dia pinjam sepeda saya. Tetapi saya bilang "sepeda saya tinggal sedikit bensinnya, minta tolong sekalian isi bensin ya. Uang bensin biar saya yang bayar." Pembaca tahu apa yang dia ucapkan setelah itu? Dia bilang "nggak jadi dah malas." Akhirnya, dia nggak jadi pinjam sepeda motor saya.         Mendengar "nggak jadi dah malas" saya sedikit merasa jengkel. Uang bensin kan ditanggung saya bukan dia. Lalu apa yang membuat dia malas? Dia pikir sepeda saya bahan bakarnya dari tenaga surya apa gitu ya. Pom bensin juga letaknya nggak jauh dari lokasi tempat kami bekerja. Lalu apa yang membuat dia malas? Nah ini adalah contoh orang yang mau enaknya sendiri ya teman-teman.        Jujur, sepeda motor saya itu bensinnya tinggal sedikit. Saya yang mau isi bensin tadi pagi terhalang dengan sakit perut. Akhirn...

Nasib Penjaga Bel Ujian: Aktor dibalik Suksesnya Ujian Kelas VI

       Dua hari sebelum asesmen sumatif akhir kelas VI, dilaksanakan sebuah rapat di sekolah. Di dalam rapat itu, saya oleh kepala sekolah diminta untuk mencari suara bel di YouTube lalu akan disambungkan ke monitor. Tapi jujur sulit mencari bunyi bel yang dimaksud. Singkat cerita, pembahasan mulai ke teknis bel. Karena terus terang saja bel di sekolah kami itu otomatis. Dan bunyi belnya tidak seperti bunyi bel ujian. Ya bunyi "saatnya jam pertama..." Kepala sekolahnya maunya bel bunyi "tettttt....." Nah, nyari bel seperti itu yang dapat bunyi satu kali, dua, tiga, hingga empat kali sulit. Karena saya nyarinya di YouTube. Singkat cerita, hari Minggu itu saya download aplikasi bel di play store. Alhamdulillah sesuai dengan permintaan kepala sekolah. Hanya saja, cara membunyikannya adalah menyalakan aplikasi bel di hp, lalu hp didekatkan ke mic sekolah supaya suara kedengaran dengan keras dan jelas.         Di dalam rapat, kepala sekolah memint...

Tidak Ada yang Memberitahu Sesulit itu Menjadi Guru Honorer

       Jujur saja, nggak ada orang yang ngasih tahu saya betapa sulitnya jadi guru honorer. Kalau dari awal saya tahu, jujur saya nggak akan mau jadi guru honorer. Di samping gaji rendah, kepastian untuk diangkat jadi PNS atau PPPK itu belum jelas. Dengan kata lain, kesejahteraan hidup seorang guru honorer di negeri ini amat mengkhawatirkan. Kadang saya kesal melihat mahasiswa baru lulus, lalu jadi guru honorer gayanya petantang-petenteng. Nasib jenjang karirmu itu belum jelas batin saya.         Zaman saya SMA, guru saya pernah berpesan di kelas "setelah lulus SMA, kuliah ngambil jurusan pendidikan sejarah. Karena guru sejarah sekarang langka." Baik, saya akui itu benar apa adanya. Tapi di sini poin pentingnya adalah sang guru tidak memberitahu kami bahwa untuk menjadi guru itu ada tingkatannya. Tingkatkan terendah adalah Wiyata bakti atau guru honorer tidak tetap yang mengajar di sekolah. Gajinya juga miris teman-teman karena sumber gajinya...

Nanyanya pada Siapa yang Jawab Siapa

       Saya itu paling kesal kalau ada orang tanya pada seseorang, orang lain ikut jawab. Pembaca pernah nggak merasakan itu? Jujur saja kesal sekali saya dengan hal itu. Seperti dulu misalnya, saya tanya materi pada dosen, mahasiswa lain ikut bantu menjelaskan kepada saya. Padahal saya sendiri paham maksud dosen itu seperti apa. Yang parah itu pas PPL PPG kemarin. Guru pamong berbicara pada saya. Beliau belum selesai menyelesaikan kalimatnya, tiba-tiba ada teman saya yang ikut bantu menjelaskannya. Sering pas PPG saya temui hal semacam itu. Jatuhnya itu seperti merendahkan saya. Dikira saya nggak bakal paham apa maksud beliau dalam benaknya.       Contoh lagi tadi pagi, saya tanya pada guru A. Guru B ikut jawab, padahal nggak saya tanya. Nada bicaranya juga saya kurang suka. Setelah itu langsung pergi saja saya. Kesal sekali begitu saya. Itu kan hal-hal dasar yang seharusnya dapat dimengerti begitu. Kalaupun guru A tidak tahu jawabannya, saya kan bisa...